Rabu, 16 Desember 2009

“KOIN NATAL”

By Bartholomius Padatu

KOIN sebagai salah satu alat bayar publik sebagai satuan mata uang terkecil sedang booming pencitraan terkait kasus perseteruan hukum anatar sebuah Rs INTERNASIONAL dengan Prita. Tuntutan ganti rugi Rp.204 juta dianggap pantas mengganjar kebebasan berpendapat Prita sebagai pasien yang mengeluhkan “mall layanan publik” di ruang maya (internet).
Sayangnya kalkulasi pihak penuntut menjadi bumerang yang melesat dengan kecepatan tinggi menghantam balik serangan hukum Rs INTERNASIONAL.Ironisnya perlawanan balikan pihak Prita tidak datang dari tuntutan balik melalui parade hukum, namun melalui parade perlawanan publik dengan senjata KOIN receh.Jangkauan derma coin dari seluruh penjuru nusantara meramaikan parade perlawanan publik.Berton-ton berat koin merupakan akumulasi dari lempengan koin-koin ringan pada mulanya, namun mengeskalasi kuantitas koin yang spektakuler.
Saya harus merem diri untuk tidak melangkah masuk untuk melakukan serangan kepada satu pihak.Ruang hukum,saya kira, dapat memediasi keduabelah pihak untuk masing-masing mencari titik-titik kesepakatan untuk kebaikan bersama.Niatan tulisan ini ingin merefleksikan perjalanan KOIN dalam teks-teks kitab suci dan sedekat mungkin membenangmerahkan dengan fenomena NATAL.Paling tidak peristiwa Natal sesungguhnya dapat memunculkan perspektif “berbagi.”Kehadiran ICON KASIH di hari NATAL terwakili dengan kehadiran seorang tokoh legendaris yang tidak pernah absen dihari NATAL menjadi salah satu bagian yang ingin dimaknai,disamping fenomena-fenomea lainnya.
Santerklas datang……merupakan tokoh dermawan yang senantiasa dinantikan untuk sebuah tujuan tunggal yakni menerima “Kado” NATAL.Kita tidak pernah pasti mengetahui Pria satu ini, apakah ia termasuk orang kaya, berkelebihan harta benda, senantiasa surplus dalam bisnis. Semua orang tidak pernah tertarik dengan latarbelakang Santerklas.Tujuan kehadirannya sangat jelas yakni “berbagi sesuatu.”Sisi menarik dari acara serah kado tersebut adalah masing-masing orang menerima kado yang sesuai dengan harapan.Tidak pernah tergambarkan adanya kado kembar bagi si penerima.Sekali lagi masing-masing penerima, mendapat bungkusan kado sejalan dengan mimpi, kerinduan, kemanfaatan.Tidak ada kado salah alamat.Semua diantar , tidak ada yang tercecer, tertukar.Penundaan tidak terjadi,pembatalanpun tidak.Tidak ada paket hantaran yang dibuka ditengah jalan, terlebih hilang dicuri.Ending Santerklass adalah paket diantar,penerima kado menikmati isi paket.
NATAL dalam potret lain dipahami sebagai pristiwa sakral lahirnya “Bayi Mesias” Sebuah Kado yang di hantar langsung oleh Sang Bapa ke dunia ini. Keberadaan Bayi Yesus sebagai manusia merupakan Bungkus yang melingkupi “Kasih Agung.”
Dalam perjalanan pembagian Kado “KASIH” Yesus secara perlahan berbagi kasih kepada manusia dalam bentuk “KOIN.” Ia tidak melakukan pemborosan Kasih kepada seseorang.Yesus menakar pemberian Kasihnya dalam bentuk pemberian “KOIN recehan.”Saya teringat dengan satu kisah yang pernah saya baca dan dakwakan.Pada suatu waktu karena suasana hujan maka kebaktian disebuah gereja tertentu sedikit dihadiri oleh umat.Pendeta yang mengetahui situasi yang tidak biasa, bercampur sedih, marah dan putus asa menawarkan kepada umat untuk menunda kebaktian minggu depan dengan alasan sedikitnya jumlah.Namun umat menolak dan meminta sang pendeta menyelenggarakan ibadah selayaknya.Merasa ditolak sang pendeta menawarkan untuk mempersingkat khotbah,”bagaimana kalau khotbahnya singkat saja?” Umat (yang umumnya peternak) menjawab dengan ilustrasi bahwa kalau hewan ternaknya masuk kekandang dan meminta makan, maka sang peternak hanya memberi makan yang cukup untuk satu dua hewan dan tidak menambah jumlah atau menguranginya.
Cerita sang pendeta dan umat (peternak) menggambarkan bahwa ritme pemberian kasih Yesus merupakan paketan “KOIN” Yesus akan memberikan kasihnya berdasarkan ukuran-ukuran kecil yang dianggap memadai untuk sebuah maksud pertolongan. Kita dapat kembali diingatkan dengan penggambaran perjuangan seorang ibu yang meyakini adanya kuasa “KOIN” (dalam bahasa kitab suci remah-remah)yang tersisa baginya setelah jamuan “Uang besar.” Kuasa takaran “KOIN” bagi sang ibu tersebut merupakan segala-galanya bagi anaknya.Yesuspun pada akhirnya tidak memberikan sajian utama bagi ibu tersebut melainkan Kuasa “KOIN”. Kemiripan penggunaan uang receh Yesus dapat kita temukan pada permohonan “KOIN” sang perwira bagi bawahannya yang sakit. Yesus dalam cerita tersebut menyetujui permintaan kuasa “KOIN”.
Yesus sesungguhnya menemukan adanya penggunaan kuasa “KOIN” yang dilakukan oleh seorang Samaria Kafir baik hati yang merelakan KOIN-KOIN Kekayaannya (bukan uang namun kepedulian bela hatinya),tepatnya sebut saja “KOIN HATI”.Lukas 10:33,” Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ketempat itu, tergeraklah hatinya oleh belas Kasihan.” Kepingan koin hati samaria berbentuk balutan luka-luka, siraman minyak dan anggur, tunggangan transportasi, penginapan, perawatan dan melengkapinya dengan KOIN dua dinar dan janji mencukupi (Lks 10:34,35).Nilai satuan dinar untuk abad sekarang jika diubah dalam satuan mata uang amerika sebesar 16 sen, untuk Indonesia 360 rupiah (kurs 1$=2.250).
Dua perumpamaan tentang koin janda yang hilang serta koin persembahan seorang ibu tua yang diceritakan Yesus dalam kitab-kitab Injil menunjukkan adanya Citra positif bernilai tinggi yang diapresiasi Yesus. Cerita pertama terjadi pada saat seorang perempuan (tergolong miskin 1 dirham=360 rupiah kurs 2.250/1$) kehilangan salah satu Koin dirham (dari sepuluh dirham)kesayangannya dan bertekat menemukannya karena ia tidak ingin salah satu koinnya hilang tanpa arti.bahkan nilai Koin dirhamnya melampaui biaya perayaan penemuannya (Lukas 15:8-10).Dua peser sama dengan satu duit (recehan roma terkecil) adalah jumlah persembahan seorang janda miskin (Markus 12:42).Pemberian janda miskin tersebut menarik bagi Yesus untuk mengukuhkan atau menetapkan suatu ukuran kelayakan sebuah pemberian persembahan.Melihat pemandangan tersebut Yesus memanggil murid-muridnya dan memberitahu tentang nilai sesungguhnya dari persembahan sang janda (Markus 12:43).
Walaupun dalam rupa makanan 7 potong roti dan beberapa ekor ikan kecil (baca:KOIN) Yesus menjadikan Koin-koin tersebut memecah hingga melebihi kebutuhan makan siang empat ribu orang (Matius 15:34).Potongan Roti dan ikan-ikan kecil tesebut(Koin) telah menjadi alat ungkapan belas kasih Yesus yang berasal dari sepotong hati yang memahami derita orang kelaparan.
Kitab Suci (Alkitab) memiliki banyak potongan atau Koin-koin Kasih yang tersebar dalam berbagai peristiwa sosial, ekonomi, politik pada masa itu.Jika dikumpulkan tentunya teramat banyak dan dapat melebihi “kumpulan koin Prita.”
Prita dengan Koin peduli kasih keadilan merupakan salah satu mata Koin terkecil dari derita kaum terpinggir,lemah,dimarginalkan secara hukum.Begitu juga ada banyak koin-koin lainnya yang dapat menceritakan kepada kita betapa berharganya lempengan-lempengan koin kasih yang diberikan oleh orang-orang tanpa mengenal lintas batas keyakinan keagamaan, beramai-ramai menyodorkan kepingan demi kepengan Koin kasih mereka, bisa jadi dari milik terakhir yang sesungguhnya sangat bermanfaat dibelanjakan bagi keluarga mereka.
Perayaan-demi perayaan kemenangan Koin kasih silih berganti ditunjukkan kepada kita di media massa dan elektronik; seorang penjual rujak dengan keuntungan Rp.25.000 disisihkan untuk memperkuat nilai Koin Prita. Jajanan murit TK,SD, Celengan kesayangan, dan banyak lagi rupa-rupa koin kasih diserahkan kepada Prita untuk satu juan “Memberi, berbagi kasih”
Koin-koin bagi Prita jika dikupas maknanya lebih mendalam dapat diketemukan nilai Kasih yang dapat membebaskan seseorang yang terhimpit duka berbagai ketidakadilan.Koin-koin tersebut menjelma menjadi sebuah kekuatan yang memberi nilai hidup.Koin tersebut menjadi penunjuk tanda kehidupan yang membalut keperihan dihati para korban, meneteskan air mata keharuan yang telah lama terpendam dan tidak terpublikasikan. Koin-koin penderma tersebut telah memerahkan kembali wajah manusia-manusia yang pucat karena darah mereka dihisap oleh sesamanya yang telah berubah wujud menjadi vampire-vampir setengah manusia.Koin-koin “Para samaria” telah menyerbu kekosongan ruang-ruang bela rasa yang dihimpit oleh perlombaan menghidupi diri sendiri.Keagamaan yang kehilangan peta kontekstualisasi, sesat dalam arah dogmatika kadaluarsa.Dakwa-dakwa opurtunis, setengah hati, Dakwa-dakwa yang di produksi dari pikiran malas. Koin-koin yang dikumpulkan untuk kemudian digandakan dalam ruang-ruang perbankan tanpa visi yang jelas.
Kini Natal telah berdenting dipintu-pintu hati umat yang merayakannya.Suara apakah yang paling nyaring terdengar?Mungkin kita berpendapat suara lonceng natal Telah berdenting.Mungkin bagi sebagian orang demikianlah adanya. Tetapi bagi “Prita” Loncenga Natal tiada terdengar,jika terdengar sayup dan menyebar tipis dan kemudian hilang. Di Labirin telinga “Prita” gemerincingan Koin-koin “Samaria” nyaring terdengar.Gemerincing koin-koin tersebut merupakan lagu baru, nyanyian terbaru yang dapat menghidupkan makna Natal bagi peraya-nya.
Tebaklah apa modifikasi kado yang Sinterklass bawakan kepada sang penerima? Saya kira “KOIN” Natal bagi kita sesungguhnya merupakan momentum pemberdayaan “Bela Kasih” sebuah agenda kemanusiaan yang dapat diserahkan kepada mereka-mereka yang telah di rampas “Koin terakhirnya”
Apakah wujud pecahan koin-koin “Prita”? Koin-Koin kasih dapat memecah diri kedalam banyak bentuk.Semisal sekian CC darah anda yang sangat dibutuhkan mereka-mereka yang setiap waktu harus berjuang dengan proses Hemodialisa (cuci darah),Koin kasih anda (Koin Natal) dapat dipecahkan bagi anak-anak yatim-piatu yang menunggu sebuah kado Natal baju baru yang telah ditunggunya dalam 2 atau 3 tahun terakhir.Koin Natal anda dapat berbentuk sepotong kata pengampunan dari anggota keluarga, teman yang tersiksa karena buah kasih mereka anda tolak hanya karena sempitnya cara berpikir anda.Koin Natal anda adalah koin-koin recehan yang anda sebarkan sepanjang tahun bagi komunitas sahabat-sahabat pengamen, lampu merah.Kunjungan anda kepada seseorang yang terbaring di rumah sakit, panti jompo tanpa teman atau pengunjung baru yang membawakan senyuman baru, cerita baru bahkan “sebungkus coklat” bagi mereka.Perhatian anda pada putra-putri anda yang selama ini bangga membungakan sebutan papah dan mamah sementara bagi diri mereka sendiri tangan-tangan kasih orang tuanya membelai “seseorang” yang sesungguhnya telah merampok kesatuan rumah tangga dapat menjadi koin-koin yang memanggil pulang rangkulan tangan anda pada mereka.Koin-koin Kasih Natal anda dapat memakai kesopanan sebagai wujud perhatian anda pada keberhargaan seseorang dimata anda.
Di ujung tulisan ini Anda sangat memahami koin-koin yang anda miliki dan kepada siapa saja koin-koin tersebut hendak anda bagikan.Prinsipnya koin-koin Natal anda memiliki “nilai” yang tidak dapat dibenam oleh kekuatan perusak (kejahatan).Koin-koin Natal anda adalah Jiwa kebenaran yang bergemerincing amat lembut namun menghujam pada telinga-telinga yang selama ini dibuat tuli.Koin-Koin Natal anda akan menjadi koin yang memiliki “Ruh” yang sangguf menafasi perjuangan-perjuangan yang telah ditekatkan sebagai “Gaya Hidup” orang ber-Tuhankan “Koin(kasih)” bukan “Koin (Ketamakan/kejahatan).
Padukanlah dentingan lonceng Natal dan gemerincing Koin-koin Kasih anda sebagai sebuah persembahan berjumlah kecil namun bernilai tinggi dimata TUHAN(anda dapat membawa koin-koin anda kedalam kantong persembahan).Temukanlah Koin-koin anda.Pesannya:Persembahkan Kasih anda walaupun hanya senilai Koin terkecil milik anda.Jadilah sinterklass yang membagikan Koin-koin Natal.Selamat Natal Tuhan Yesus Memberkati anda.


Yogya 15 Desember 2009
Salam.Kel.Bartholomius Padatu

Minggu, 13 Desember 2009

Bagaimana membuat orang percaya pada anda?

By. BL Padatu


“Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku? Apakah mereka akan mendengarkanku? Apakah pendapatku dapat mempengaruhi pola laku dan pikir mereka? Punyakah aku kemampuan menyakinkan orang dengan perkataanku? Seberapa banyak orang yang berpikir demikian dan menyudutkan diri mereka pada pojok ketidakberdayaan diri? Apa yang mereka kemudian lakukan untuk menarik diri mereka keluar melompati penjara-penjara pelemahan keyakinan diri? Sebegitu lemahkah mereka sehingga harus mengidapkan penyakit ketidakpercayaan diri baik dilevel akut maupun kronik? Apakah akibat berkelanjutan dari seorang yang terus terikat kuat dengan keyakinan diri destruktif?Terhadap semua pertanyaan ini adalah tidak dibutuhkan usaha untuk menjawabnya satu-persatu.Keseluruhan pertanyaan tersebut menjadi sebuah persoalan bagi anda,situasi tersebut akan teratasi jikalah anda mampu memahami satu hal yakni: anda membutuhkan kuasa diluar diri anda dan kuasa tersebut adalah Kuasa Allah.Sebuah Kuasa yang menjadi satu-satunya sumber pertolongan anda. Bagaimana prosesnya? Ikuti uraian selanjutnya.
Pertanyaan “bagimana jika mereka tidak percaya kepadaku? Merupakan sebuah pertanyaan yang sangat Alkitabiah.Sumber kutipan dapat dilacak pada kitab Keluaran pasal 4:1 Lalu sahut Musa: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku…, Musa dalam teks tersebut mengalami serbuan ketidak percayaan diri terhadap sebuah misi yang hendak Tuhan percayakan.Sebagai seorang yang telah dididik dalam sistem pendidikan Mesir yang sangat terkenal tentu sangat mengherankan bagaimana mungkin seorang yang terpelajar, seorang yang dididik secara khusus, dapat meragukan kemampuannya dalam memimpin(mempengaruhi). Hal yang sama, senada ditunjukkan oleh Yeremia 1:6 Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda."Yeremia dalam teks tersebut turut memberikan penekanan situasi yang tidak persis sama namun memiliki kemiripan situasional.
Kembali pada cerita Musa,lemahnya karakter kepercayaan diri Musa jauh melampaui masa depan.Ia tanpa sadar menekan kemampuannya pada titik nol dengan menghadirkan suatu situasi yang belum tentu terjadi.Pada tingkatan ini Musa melihat kebesaran, kekuatan seseorang diluar dirinya sekaligus kehilangan perspektif kemampuan dirinya.Nada cerita yang sama dapat kita amati dari tragedi hilangnya daya lihat kebesaran diri para pengintai negeri kanaan yang melihat kebesaraan lawan dan mencederai diri dengan mentalitas belalang.Belum habis ingatan kita pada mengeroposnya kekuatan pencitraan diri saudara-saudara Daud serta barisan tentara Allah yang membesar-besarkan ukuran kekuatan Goliat, namun dibuktikan salah oleh Daud.
Tentu ada banyak contoh peristiwa yang jika dikumpul akan menjadi kompilasi album orang-orang kalah sebelum bertanding.Ada banyak orang, ditingkat, bidang, tujuan beragam yang terseret arus deras ketidakpercayaan diri yang mematikan.Mereka dipaksa percaya oleh dialog batin yang kacau.manipulasi ilusi telah mendahului melompati logika mereka. Permainan kata andaikata, sekiranya, misalkan,jikalau menjadi permainan verbal yang mengasyikan dalam ruang pikir mereka,tanpa terusik dengan sinyal-sinyal bahaya pengerdilan diri.
Menelisik lebih jauh dengan menggali lebih dalam teks ketidakpercayaan diri Musa membawa kita menjumpai sebuah pribadi yang mengalami kesulitan untuk mempercayai bukan hanya kekuatan pada dirinya namun sumber kekuatan itu sendiri yakni Allah. Dalam pasal 4:10 Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." Sesungguhnya Allah telah melakukan kerja pastoral secara pribadi ditambah kesempatan bagi Musa mengalami secara empiris kedasyatan penyertaan Tuhan; Perubahan Ular dan tongkat secara bolak-balik;Tangan yang berubah menjadi kusta dengan menyelip-masukkan tangan ke jubah; hingga peningkatan pembuktian empiris kuasa Tuhan yang mengubah Air Nil menjadi darah ketika menyentuh tanah kering, tidak juga memompa nalar keyakinan diri.
3 rupa muzijat yang ditunjukkan Allah kepada Musa sama sekali tidak menjadi materi atau unsur peubah cara melihat dirinya.Anda bisa membayangkan jika Allah secara berhadap-hadapan memberi anda kesempatan mengalami 3 muzijat contoh dan kemudian menyerahi Tugas dengan bekal keyakinan bahwa segudang Muzijat menyertai anda, apakah anda akan memandang diri anda secara lebih baik? Tentu sulit untuk meyakinkan bahwa anda akan jauh lebih baik dari Musa. Namun setidaknya respon kegeraman Allah akan menjadi cermin baru dalam melihat diri.
Allah dalam Keluaran pasal 4:11,12 Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan. Apakah Allah dalm teks ini kita dapati kurang bekerja keras dalam meyakinkan Musa? Kalu kita kembali memberi perhatian pada jawaban Musa pada ayat berikutnya,”Ah,Tuhan,utuslah kiranya siapa saja yang patut Kau utus” maka dapat kita nyatakan bahwa Allah telah bekerja keras meyakinkan Musa,namun perlu berhati-hati memaknai kerja keras Allah bahwa bukan berati Allah tidak bisa memudahkan proses peyakinan tersebut.Allah dalam konteks kerja keras tersebut sangat menghargai dinamika demokrasi menyatakan pendapat, sikap dan keputusan Musa.
Bargaining pengutusan(tawar-menawar) yang kita baca antara Musa dan Allah secara moral sesungguhnya memberi kepada kita serangkaian kearifan yang semestinya menjadi titik perhatian dalam upaya-upaya praktis menyakinkan seseorang atau mengajak seseorang mengikuti derap arah jalan kita. Petikan kearifan tersebut misalnya menuntun kita untuk sadar pada level dini bahwasanya mengajak orang berjalan pada alur segaris bersama kita tentu bukan perkara mudah. Seluruh totalitas kemampuan diri kita bukanlah garansi memastikan kepatuhan seseorang pada ajakan kita. Ada banyak hambatan-hambatan yang semestinya diinvestasikan waktu dan proses belajar.Suara datar, miskin intonasi, keterbatasan wawasan, tawarnya ekspresi, ketidakpekaan secara emosional merupakan potensi-potensi level terendah yang perlu mendapat perhatian khusus.Seorang pemberi pengaruh harus menerima kondisi-kondisi tersebut sebagai instrumen strategis yang sesegera mungkin di-upgrade.
Hal yang paling tidak dapat diabaikan untuk sebuah tujuan mempengaruhi seseorang bukan saja menyangkut aspek-aspek kekuatan fisik.Namun melampaui dimensi fisik duniawi.Aspek tersebut adalah Dimensi “Yang melampaui” yakni Kuasa ALLAH. Allah yang membuat lidah manusia, membuat pikiran manusia serta Hati manusia.Hanya KUASA ALLAH yang sanggup menyentuh ruang terdalam yang disembunyikan seseorang untuk diambil, dibujuk, diberi perasaan positif.
Walaupun Allah menjamin tidak akan merebut simpati anda dengan paksa, namun Allah sanggup membuat logika berpikir anda sejalan dengan logika berpikirNYa.Karenanya,dengan logika yang sama, kepercayaan pada Penyertaan Allah akan sanggup membuat orang mendengar kata-kata, arahan anda.Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena KUASA ALLAH yang melampau akal dan pikiranlah yang mengerjakannya.
Tapi anda harus memperhatikan tanda-tanda yang muncul dalam teks-teks keluaran pasal 4 yang memunculkan aspek “Menunjukkan sesuatu”.Allah tidak hanya menjanjikan sesuatu yang abstrak bagi Musa, Allah menyertakan sesuatu yang Kongkrit.Allah telah menaruh sesuatu di lidah Musa.Allah juga menaruh sesuatu di lidah anda.Karenanya anda harus berusaha melatih sensivitas pengenalan sesuatu yang Allah taruh pada lidah anda.Kenalilah prilaku lidah anda dan yakinkan pada diri anda apa yang bukan kepunyaan Allah. Lidah yang di dalamnya berisi sesuatu titipan Allah senantiasa memberi bobot pada kualitas percakapan yang meyakinkan;bersifat menyembuhkan; memberi pengharapan; berdimensi antisipasi masa depan, mengembang hingga menyerupai sebuah percakapn pemberitaan firman.
Allah tidak saja membekali anda dengan menaruh sesuatu pada lidah/alat kecap bahasa anda, namun memberi anda “Tongkat” yang dapat mengubah sebuah kayu keras menjadi bentuk baru yang memiliki pesona penggugah.Mungkin bagi anda Allah tidak memberikan anda “tongkat” dalam wujud sesungguhnya, namun anda mendapat “tongkat lainnya” seperti kecakapan-kecakapan khusus yang bersumber dari penggunaan pena, palu dan paha, kuas,dll.Apapun tongkat ditangan anda sesuatu yang baru penuh daya pengubah siap merubah dunia anda, kepercayaan diri anda, sekaligus mengubah keyakinan-keyakinan seseorang pada anda.
Percayalah pada diri anda sebab Allah percaya pada anda!
Begitu juga penekanan Robert Schuller menjadi strategis “PERCAYALAH PADA ALLAH YANG PERCAYA PADA ANDA”


Yogja 13 desember 2009

Senin, 07 Desember 2009

Facebook: Restrukturisasi “Dakwah/khotbah”baru
By BL Padatu
Jejaring sosial maya yang berlabel “Face book” atau “Buku Wajah” telah melampaui maksud launchingnya.Jejaring tersebut tanpa sengaja menarik kepermukaan fungsi-fungsi yang awal mulanya berada diluar kotak prediksinya.FB tidak semata memiliki daya jelajah koneksi antar wajah di seluruh wilayah bersinyal, namun memiliki daya multiplikasi atau penggandaan fungsi (function multiflication).Orang bukan hanya dibuat puas dengan ruang perkawanan, sekedar meng-adds “some body”namun telah menjadikannya “instrumen pertukaran berdaya magnetik” yang sanggup membuat member-membernya menerima injeksi “pemaknaan hidup” tanpa limitasi.
Facebook telah bermetamorfosis dalam konstruk piramida terbalik yang semakin hari semakin mengalami perluasan komunitas, pelebaran contain, sehingga ia telah menjelma menjadi sebuah supra institusi yang tanpa sengaja mensubsistemkan institusi-institusi sebelumnya. Produk-produk dunia maya sebelumnya dipaksa takluk, bergabung atau disudahi, sehingga ruang facebook telah mengkristalkan pemain IT (industri teknologi) sebelumnya seperti Yahoo messenger (ditinggalkan);blog (digandeng),dll.
Bagaimana dengan nasip lembaga-lembaga lainnya? Seperti politik, budaya, keagamaan? Tentu institusi tersebut menerima benturan spektrum yang berbeda-beda.ada yang menghadang, ada yang adaptif menyesuaikan diri;tentu ada yang masih betah disimpang ambiguitasnya.
Bertemali dengan judul artikel ini, penulis mencoba untuk mendialektikakan fenomena FB dengan konstruk dinamika keagamaan di Indonesia (tanpa membatasinya pada komunitas relegius semata).Tidak dibutuhkan lagi apologasi ekstrim untuk melawan bukti-bukti pembenaran bahwa FB menjelma menjadi lembaga sosial yang cair,tidak mengenal antitesis konstruk nilai lembaga tertentu. Ia (FB) mengental menjadi instrumen sosial yang kebal terhadap propokasi “keagamaan minor”, sekaligus menjauhkan dirinya dari kanibalitas komunitas relegi, budaya, sosial,dll. Face book telah menjadikan konstituennya sebagai pribadi yang berkedaulatan; meminta akses pertemanan;menerima teman baru; membangun tembok resistensi pribadi destruktif, memfasilitasi ruang berbagi, dalam bahasa keagamaan mengandung “kemaslahatan atau berkat humanistis.”Hingga membagi sebagian potret kehidupan domestik (rumah tangga), komunitas tertentu, untuk didekatkan dalam konstruk kesadaran warga dunia.
Salah satu nilai pengaruh yang tampil secara spontan adalah menjamurnya “pendakwah-pendakwah/pengkhotbah” informal yang diproduksi dalam kondisi kerunyaman, keterbatasan,kemarahan bahkan kelangkaan “mutiara-mutiara dakwah/khotbah.” Face bookers, baik sengaja atau tidak telah menarik dirinya, idenya dari persembunyian terdalam.Seluruh hikmat, pengertian, pengetahuan yang berdimensi spiritual melumeri dinding-dinding face book.Setiap orang dapat bertukar posisi sebagai pendakwah/pengkhotbah atau umat.Tidak dibutuhkan investasi panjang nan jelimet untuk mengukuhkan diri atau dikukuhkan sebagai pribadi-pribadi yang peduli dengan kekacauan, dilema kehidupan sahabat-sahabatnya yang hampir putus asa karena mengecilnya ruang-ruang pengakuan dosa karena resourches pendakwah telah menjadi pribadi-pribadi langka.Dalam situasi tertentu sulit menemukan pendakwah-pendakwah/pengkhotbah-pengkhotbah berwawasan dan beres dengan amalan dakwanya. Lembaga-lembaga keagamaan merisaukan menipisnya SDM pendakwah/pengkhotbah karena kegagalan lembaga tempat dakwah yang dipaksa merestrukturisasi diri karena hantaman berbagai isu sosial, politik,dll,termasuk ketidakprosfesionalan lembaga penghasil pendakwah/pengkhotbah.
Face Book harus diakui telah membuat “insan agamis” bergerombol melompati dinding-dinding “rumah ibadah (agama)” mereka meskipun masih menyisakan pengikut-pengikut setia untuk bertahan dengan rekonstruksi sekaligus restrukturisasi peran,untuk menggelontorkan omelan, mendesahkan asa baru, menafasi kenarsisan,memuntahkan ide-ide yang mengalami peminggiran ruang muat media berkaliber nasional, menggunakan aji mumpung facebook sebagai “penghulu” perjodohan.Hingga keberfungsian yang menyuburkan idealisme-idealisme positif,bertukar tandingnya gagasan-gagasan konstruktif sambil sedikit menyentil, mereduksi gugusan ide-ide yang kehilangan titik keseimbangan pengagasannya.
Tidak sulit untuk mengobservasi kemunculan facebookers yang “berperan ganda” dalam komunitas masing-masing.Aneka kata mutiara, gugusan nasehat, kalimat-kalimat revolusioner meluncur deras berebutan merajai ruang teratas tampilan dinding-dinding facebooker.
Bisa jadi, Fakta yang sangat mengejutkan adalah ditemukannya kenyataan bahwa jauh lebih mudah menjumpai, menyelami gagasan pendakwa sejatinya (pendeta, ustad,pemimpin-pemimpin keagamaan) atau dilayani ketimbang harus memasuki ranah formal seperti rumah ibadah dengan bimbingan ritualisnya.Tidak dibutuhkan hari khusus untuk menanti beberan dakwah/khotbah syarat pesan, setiap harinya pesan-pesan yang tidak kalahberbobot sesak diruang publik Facebooker.
Dalam kasus lainnya, kita dihentak oleh kenyataan yang harus diakui kelincahan-kelincahan facebookers yang dapat dipredikatin pendakwah informal, yang berkemampuan meramu pesan-pesan keagamaannya menyerupai atau sama bentuknya dengan sebuah dakwah atau khotbah formal,jika tidak mau disebut melampaui pendakwah/pengkhotbah informal (karena menyangkut legitimasi Ilahi).
Suka atau tidak, sadar atau tidak, harus atau tidak pertukaran pesan di ruang facebook dapat dilihat sebagai sebuah konstruk fenomena sosial yang dari substansinya perlu untuk menjadi cermin bening melihat berbagai kemungkinan;misalnya diantara para facebookers khususnya pendakwah/pengkhotbah informal merupakan sumber daya Manusia yang gagal direkruit lembaga-lembaga produksi pendakwah/pengkhotbah dikarenakan gagalnya design mesin produksi kelembagannya. Fenomena terseut juga dapat membentuk dirinya sebagai lembaga informal yang menyentil kelemahan-kelemahan konsep-konsep yang didakwakan atau sebuah sikutan halus untuk mendepak pendakwah/pengkhotbah yang senantiasa merasa aman dengan legatitas formil tanpa terusik dengan keharusan-keharusan menginovasi diri kearah pembobotan peran yang lebih berdaya. Karenanya pesan Gede Prama dalam bukunya “INOVASI ATAU MATI” menjadi relevan untuk menginkubasi transformasi kelembagaan keagamaan khususnya dalam upaya memperkuat tulang dakwah/khotbah mereka. Salam.

Catatan: Surabaya 7 desember 2009

Senin, 13 Juli 2009

"APA ITU DOA"

Renungkan makna DOA’

1. Doa bukanlah “MENU SELINGAN” dalam aktivitas keagamaan.
2. Doa bukanlah “Jendela” menjelajahi dunia dengan menutup mata. Doa adalah jelajah Ruang Maha Kudus.(BLP)
3. Doa bukanlah tindakan memakan obat 3x1 setiap sehabis makan (BLP)
4. Jika tidak menjemukan bukan “Doa” namanya (BLP). Firman Allah mengatakan berdoalah dengan tidak jemu-jemu.(BLP)
5. Doa bukanlah “Goegle” (mesin pencari semua jawaban dan pertolongan kilat)BLP.
6. Doa adalah kepastian “Mekanis” dalam pengertian seperti periode mekanis pagi siang dan malam. Pagi digantikan siang dan siang digantikan malam. Naikanlah doa maka doa akan digantikan “Berkat” (BLP)
7. Naikkanlah Doa maka Allah akan Menurunkan “sesuatu”(BLP)
8. Doa bukanlah rumusan Intelektual rigid/kaku (BLP)
9. Berdoalah pada pagi hari maka Allah akan menghangatkan tubuh rohani anda.Berdoalah pada siang hari maka Allah akan memberikan keteduhan. Berdoalah pada malam Hari maka Allah akan memberikan “Tidur” yang berkualitas (BLP)
10. Berdoalah minta “kekayaan” maka Allah akan memberikan pada anda “Kerja Keras”(BLP)
11. Mintalah “Nilai ujian terbaik” dalam ujian emester depan disekolah anda,maka Allah akan menyodorkan “Buku-buku bermutu” untuk dibaca (BLP)
12. Mintalah kenaikan pangkat dalam doa anda, maka Allah akan memberikan kelengkapan jabatan anda yakni”kerendahan hati”(BLP)
13. Jangan bingung kalau Allah sepertinya tidak menjawab doa anda, Bingunglah pada diri anda jika tidak berdoa namun berharap sesuatu dari Allah (BLP)
14. Tidak ada orang yang tersesat dalam doa, yang ada orang “sesat” yang tidak berdoa (BLP)
15. DOA adalah akronim dari Do= nada pertama dalam music kesalehan hidup anda dan A=amin pada akhir dari pemberian berkat pada ibadah anda (BL P)
16. Doa adalah “Bisikan rahasia kecemaran hidup anda pada telinga Allah” sekaligus teriakan masalah hidup anda pd saat anda mengira Allah tidak memiliki telinga (Allah yang Diam)BLP.
17. Doa adalah “kebisuan” yang nyaring (BL P)
18. Doa adalah segalanya. Namun segalanya bukanlah doa (BLP)
19. Doa adalah aktivitas rohani yang akan menyalibkan “kebebasan” pribadi anda dalam 5 menit namun setelahnya membangkitkan “Kebebasan pada 23 jam 55 menit selanjutnya ”(BLP)
20. Doa adalah “bunuh diri(membunuh keramaian dalam diri)”yang menyenangkan dihadapan Allah (BLP)
21. Doa akan menjadikan anda lebih dari seorang pengemis yang datang dengan tangan kosong dan kembali dengan”hati yang penuh” (BLP)
22. Berdoa adalah “berdoea( baca berdua=anda dan Allah” dalam ejaan Bahasa Indonesia tempodoloe. Sebuah aktivitas ekslusif, tanpa selingkuhan.(BLP)
23. Berdoa itu beda-beda tipis dengan tidur! Sama-sama menutup mata,karenanya waspadalah dan usahakanlah bangun pengertian yang tepat diantara keduanya.(BLP)
24. Berdoa itu ibarat “Push Up” yakni mendorong beban hidup anda ke ruang atas(ruang Maha Kudus).(BLP)
25. Jika anda berdoa untuk penurunan berat badan lakukan tahapan berikut:
Pertama, Naikanlah doa kepada Allah nyatakanlah berat badan ideal yang anda inginkan
Kedua, Naikkan tubuh anda diatas timbangan, kemudian lihat angka penunjuk secara tepat
Ketiga, Turunlah dari atas timbangan dan segeralah mendaki gunung dan berdoalah diatas setiap hari
Ke-empat, tertawalah sampai kurussss………………………………………………….(BLP) just joke but serious!!!

Sabtu, 14 Februari 2009

“Menuai Pekerja, menuai Tuaian”
Refleksi Matius 9:32-34
By. BL Padatu

Awalan tahun karya pelayanan Yesus adalah hari-hari rekrutmen para murid-murid Yesus sebagai pengikut, Deciples as “Follower”. Para murid diikutsertakan dalam sekolah informal berkenaan dengan core atau inti perjalanan pelayanan Yesus. Secara simplistic, Yesus mementori ke 12 murid untuk belajar banyak rupa-rupa tanggungjawabNya terhadap komunitas orang banyak yang senantiasa berkerumunan dengan semangat yang sangat kuat untuk memperoleh sesuatu yang “Berbeda” dari sosok seorang Yesus. Kepada para murid, Yesus mengaikatkan penglihatan mereka bagaimana bersikap terhadap kelemahan fisik dan jiwa manusia; sembuhkan orang sakit; bangkitkan orang mati; usirlah setan-setan, setidaknya daftar ini masih akan panjang jika diuraikan secara Alkitabiah, sebuat daftar panjang agenda atau misi visioner kedua belas murid bagi semua generasi yang dapat mereka jangkau.
Efisode perjalanan orang banyak mengikut Yesus menjadi fenomena protektif bagi keterbatasan manusia , sebuah rangkaian perjalanan yang membuka tabir bahwa manusia bergerak melangkah keluar dari budayanya sendiri, rumahnya, pekerjaannya, suku bangsanya yang sarat dengan wacana keterbatasan menuju pada sasaran “harapan” yang terkandung dalam sebuah kepribadian “powerfull” yang menjanjikan yakni “Yesus.” Tindakan “Kuratif” Yesus terhadap orang banyak mengikat simpati hingga pada level kepatuhan yang enggan diputuskan tali kehadiran mereka terhadap Yesus. Tindakan Yesus merupakan “Garansi” bahwa berada pada jarak yang terjangkau dengan Yesus merupakan jarak teraman, jarak dimana mereka dapat memiliki tidur yang lelap, rasa dahaga yang terpuaskan, tabib yang menyembuhkan.,dll.
Dari sudut pandang yang berbeda Yesus mengundang perhatian para murid untuk melihat bahwa Allah membuka sebuah rahasia bahwa “ Kerumunan orang banyak” adalah persembahan, sebuah pemberian Allah untuk ditanggapi secara proaktif, professional. Yesus memperhadapkan murid-muridnya pada eskalasi daya tanggap yang dihidupi oleh semangat “Belas Kasihan”, “kerumunan orang banyak” (baca: kerumunan derita). Mereka semua adalah “komunitas pribadi” yang dikaruniakan Allah bapa untuk dikelola, diorganisir, dipimpin kearah “pelepasan”. Lepas dari pengaruh kuat “kelemahan.”
“Maka kataNya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” (ayat 37) terminasi (akhir) dari teks diatas menjadi rupa cikal bakal panggilan “exchange position” dari murid sebagai follower menuju konsep murid sebagai “Worker” yang selanjutnya dapat kita beri aksentuasi “leader.” Keberadaan diri Yesus sebagai manusia Pelayan menunjuk pada realitas ungkapan keterbatasan resources tenaga layan yang butuh dimultiflikasi (penggandaan). Yesus dalam konteks kebersamaan dapat kita anggap sukses mengambil posisi terdepan dalam “Reproduksi pekerja” yang memiliki kapasitas. Kebersamaan Yesus dengan murid-muridNya sebagai “follower” mematangkan pemahaman mereka akan tindakan Yesus dalam “Format missioner”. Para murid, secara tidak sadar, dipersiapkan menapaki jenjang “reproduksi pekerja” berbasiskan misi “Memanusiakan manusia “ (meminjam istilah Romo mangun Wijaya). Yesus bukan hanya mencatatkan keberhasilan membangun fondasi pelayanan yang jelas, tegas, tepat. Namun sukses membidani lahirnya “pekerja-pekerja” baru yang lahir dari pengaminan ajakan Yesus untuk mendoakan, meminta penggandaan para pekerja kepada sang pemilik Tuaian (ayat 38).
Pada level penyataan akan kebutuhan “pekerja” yang sebelumnya limited/ terbatas, tidak dapat dimaknai adanya keadaan yang minimalis dari tidak adanya kaderisasi pekerja. Rangkaian maknanya jelas, yakni mengincrease (meningkatkan) kuantitas pekerja yang diberi tanggungjawab real. Persiapan yang cukup panjang oleh Yesus terhadap ke-12 pengikut (murid) berhasil mereproduksi “pekerja-pekerja” yang memiliki “the great capacity”menuntaskan misi penuaian.
Sisi menarik lainnya diperlihatkan kepada kita bahwa mega proyek penuaian orang banyak tidak dapat dikerjakan dengan mengabaikan pentingnya “menyiapkan” para pekerja. Yesus telah bertindak dengan cerdas, bijak dan berhikmat dengan terlebih dahulu “ menuai para penuai”(pekerja) sebagai sebuah pekerjaan rumah yang tuntas. Ke- 12 murid adalah komunitas perdana yang dituai oleh Yesus, selanjutnya Yesus menuai ke 70 penuai lainnya,dstnya. Karenanya kerja keras menuai tuaian tidak dapat dioperasionalkan sebelum Tuaian para penuai berhasil dikerjakan. Adalah hal yang irasional menyalakan api semangat menuai tanpa secara dini mengerjakan pekerjaan prasyarat menuai dengan lebih dahulu mereproduksi penuai-penuai yang siap selayaknya ke 12 murid (walaupun jalan panjang pelayanan Yudas terhenti).
Menuai para Penuai, jika dikritisi dengan nalar hukum reproduksi kepemimpinan, menunjukkan kepada kita semua bahwa apa yang dilakukan Yesus merupakan strategi jitu yang dapat dijadikan cetak biru penggandaan para pemimpin yang bertindak sebagai penuai. Konteks teks matius 9:35-37 memberikan acuan anak panah arah kerja penuaian yakni “Tuai dahulu penuai barulah menuai tuaian lainnya”
Setidaknya refleksi pendek tulisan ini, merupakan sebuah “gagas-tawar”tunggal untuk membidik sisi lain yang patut diperhatikan dalam mengaminkan misi penuaian yakni peran penting “penyiapan” kader-kader penuai yang semestinya dapat diagendakan secara strategic. Strategik menyangkut perencanaan dan penerapan yang cerdas, tanggap dan cepat. Sebuah pelepasan para pekerja yang “totality” telah mendapat pembekalan. “POWERFULL” diladang misi.Pesan singkatnya Sudahkan para “Penuai” siap untuk dituai? Jangan sampai tuaian banyak, pekerja bukan hanya sedikit, ironis membuka pada fakta ketiadaan para penuai tersebut.

Tanah Grogot 15/2/09

Selasa, 03 Februari 2009

Sedikit Iman tidak masalah asal ukurannya “sesawi”
By. BL Padatu
Mungkin kita masih ingat gaya bertutur jenakanya Issa, seorang comedian yang kerap tampil dalam paket jenaka Democrazy yang tayang pada saluran TV One. Sang Komedian kerap membolak-balik sebuah ungkapan dengan format “sedikit-sedikit….kok cuma sedikit”. Ungkapan jenaka tersebut jika kita rumuskan dalam kaitan dengan persoalan Iman kira-kira seperti ini; “Sedikit-sedikit Iman, sedikit-sedikit iman, Iman kok Cuma sedikit!!” . Boleh jadi ungkapan tersebut dapat terbaca sepintas adanya keheranan sekaligus tanda tanya Iman kok Cuma sedikit? Mengapa kita hanya punya iman sedikit, dan lagi-lagi pertanyaannya sedikit sekali menemukan orang yang beriman. Namun apa yang dimaksudkan dalam ungkapan jenaka ini sesungguhnya tidak dapat diberlakukan dalam konteks kehidupan orang percaya, sebab ukuran “sedikitnya” Issa sang comedian bukanlah sesuatu yang menakar kualitas kesedikitan Iman yang benar-benar sedikit, sebab wilayah Iman adalah wilayah “adikodrati”, wilayah KeTuhanan yang memandang “Sedikit” adalah “banyak”, “kuat” dll.
Sedikit Iman memiliki makna yang sangat dalam, rentangan jangkauan yang luas. Walaupun kita memiliki iman yang sedikit, namun tidak sedikit yang diberikan Allah terhadap refleksi iman kita yang sedikit. Bagi Pepatah lama sedikit demi sedikit akan membentuk bukit, namun bagi Allah sedikit-demi sedikit akan memindahkan bukit.
Karenanya jika anda memiliki iman yang sedikit, asal ukurannya “Sesawi” kita adalah orang kuat. Jangan pernah dipatahkan dengan kesan bahwa sedikit adalah kecil dan besar adalah banyak. Semut kecil selalu memiliki ambisi besar untuk mengangkut remah-remah makanan yang duakali lebih besar dari ukuran badannya. Sedikit berdoa bukanlah hal yang harus dipertentangkan kebermaknaannya. Sedikit membaca firman bukanlah masalah bagi yang menemukan satu maksud atau kehendak Allah dalam hidupnya. Sedikit mempercayai bukanlah akhir atau ujung dari Iman anda. Sedikit memberi juga bukanlah perkara yang dipersoalkan Allah.
Masalahnya sesungguhnya bukanlah bahwa kita memiliki iman yang sedikit. Masalah besarnya adalah “jika sedikitpun tidak ada iman”. Jika kita tidak memiliki sedikit iman akan menjadi sebuah awalan bencana. Karenanya enjoy aja dengan “Iman yang sedikit dengan caliber atau ukuran Sesawi” Saran praktis: teruslah berdoa sedikit demi sedikit, bacalah firman sedikit demi sedikit, sedikit tambahkan keyakinan anda pada Allah, dan sedikit lagi…terus sedikit lagi sampai keraguan anda tinggal sedikit. HIDUP SEDIKIT!

Matius 17
17:20 Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.

Minggu, 25 Januari 2009

Pelayan pembelajar
By. BL Padatu
Sebuah Nasehat popular bagi kebanyakan umat yang sedang menanti-nanti sosok pendeta atau pelayan baru ketika musim mutasi atau pergantian periodesasi pelayan sedang beralur, “mintalah Tuhan dalam doa anda untuk mengirimkan, memilih, menetapkan seorang pelayan yang memiliki kegemaran membaca buku”!
Nasihat seperti ini sesungguhnya sedang menarik suatu ekspektasi umat yang merasakan mahapentingnya seorang pelayan yang memiliki Hoby membaca buku sebagai sebuah instrument pembaharuan, penyegaran pelayanan. Esensi yang dapat ditangkap sesungguhnya bukanlah semata-mata seorang pelayan yang sedang membaca sebuah benda yang bernama “Buku”, lebih dari itu sebuah aktivitas sehat yang memungkinkan seorang pelayan to be thingker, reflector, motivator segar yang giat menimba resources informative guna membangun fondasi kuat serta citra rasa yang teridentifikasi sebagai “Menu segar”, profetik sekaligus sanggup membaca dan masuk kedalam ruang budaya kekinian dimana umat bereksistenti.
Terlepas dari kecurigaan bahwa proses pembelajaran berkelanjutan bagi seorang pelayan sebagai sebuah upaya yang menyepelekan peran roh kudus yang sanggup memperlengkapi seorang pelayan dalam segala hal, perlulah kita merefleksikan ajakan menjadi pelayan pembelajar yang memasukkan “kegiatan membaca banyak buku, sumber-sumber informasi lainnya” sebagai sebuah aktivitas yang tidak terlepas dari lingkar jangkauan “Roh Kudus”. Roh Kudus dapat memberkati informasi yang berhasil digali dan ditemukan seorang pelayan pembelajar untuk membangun perspektif dalam ruang pikir umat dan menjadi “trigger” yang memicu ide-ide perubahan bagi pertumbuhan keimanan umat.
Pelayan yang belajar adalah pelayan yang menyadari adanya ragam karunia atau talenta yang memerlukan semacam “material” pematangan atau pupuk. Materi-materi informative tersebut berfungsi sebagai anasir sistemik, katalisator yang membangunkan dan mensintesiskan instrument baru yang jauh lebih potensial sebagai “penghancur” batu-batu cadas kebebalan, kokohnya pegangan prinsip-prinsip kadarluarsa. Instrumen baru tersebut dapat mewujud sebagai “mata pisau bedah yang ketajamannya sanggup membedah, mengeluarkan sebuah penyakit dari tubuh rohani seseorang dengan lebih halus, cepat dan nyaris tanpa rasa sakit permanen.
Paulus sebagai seorang pembelajar sejati mampu mendobrak dinding penjara untuk memasukkan buku-buku masternya untuk menjadi teman pembangun diri dalam kakunya ruang penjara. Ia menulis kepada muridnya untuk segera mengirimkan ia buku-bukunya. Billy Graham sendiri dalam pidatonya dihadapan ribuan pendeta membagi pesan yang menyentak dan menimbulkan keheranan, takjub dari seorang yang telah diakui sebagai Hamba Tuhan yang paling fenomenal di abad 21. Sebagai Hamba Tuhan yang tidak diragui lagi eksistensi Urapan Tuhan dalam rentang pelayanannya. Seorang Tuhan yang telah membukukan banyak “Penyertaan Allah bagi Bangsanya dan Negaranya serta meluas pada warga Dunia”, ia menyatakan kerinduan dalam nada datar penyesalannya serta harapan jika Ia diberi lagi kesempatan untuk berkarier dalam karya profetik ia mendaftar 2 hal yang paling mendapat perhatiannya yakni menjadi Hamba Tuhan Yang berdoa, dan Hamba Tuhan yang Membaca” Ia mengakui bahwa selama ini Ia telah banyak berkhotbah, namun terlampau sedikit membaca. Tegasnya ia berkehendak untuk mempertukarkan skala perioritas dari banyak berkhotbah menjadi banyak membaca dan berkhotbah secara seimbang.
Suka atau tidak seorang pelayan yang belajar merupakan sosok yang menempati panggung kepemimpinan dengan bidang beban tanggungjawab yang Maha berat. Ia senantiasa menjadi sosok yang akan memaparkan sasaran dan tujuan sebuah perjalanan Umat yang digerakkan oleh misi dan visi yang sehat, kreatif, inovatif. Dalam bingkai kepemimpinan, pelayan pembelajar dituntut bekerja dalam konteks efisien dan efektif, berkeadilan. Seseorang tidak akan dapat efektif dan efisien serta berkeadilan dengan basic knowledge yang minim, rata-rata. Seorang tidak dapat berjalan jauh melampaui limit pengetahuaannya. Seorang dengan resources knowledge yang terbatas akan berjalan secara penuh dalam garis edar batas pengetahuannya semata. Batu jarak atau Kilometer stone pengetahuannya akan menjadi penanda batasan yang dapat dibaca jauhnya rentangan pengetahuannya.
Boby Candra menulis sebuah buku berjudul “Bahan Bakar sang Pemimpin” Proses melahap buku menjadi sebuah aktivitas mengincrease bahan bakar pemimpin untuk dapat memanjangkan dimensi waktu, tenanga sang pemimpin. Perjalanan seorang pelayan yang adalah pemimpin adalah perjalanan berkaliber jarak jauh, jika diibaratkan dalam panggung atletik, ia adalah pelari jarak jauh yang membutuhkan energy besar untuk tiba pada garis finish. Salah satu cara memperoleh Energi seorang pelayan adalah “Belajar”
Seorang pelayan yang enggan dan tidak memiliki otot-otot belajar yang kuat akan membawa umat mendengarkan sebuah khotbah yang bersumber dari teks atau bahan nas yang berbeda namun senantiasa terbahaskan dengan kemiripan yang nyaris serupa, cenderung terulang-ulang, dan gampang ditebak oleh umat, bahkan nyaris berdampak pada keterburu-buruan untuk menyudahi Khotbah dikarenakan tidak nyaman ketika disampaikan serta mengundang banyaknya jamur-jamur protes psykologis melalui gerakan-gerakan tubuh, nafas yang sangat mengganggu dll konsentrasi sang pelayan.
Menjadi seorang pelayan pembelajar adalah starting point yang penting menjadi seorang pelayan yang Baik, efektif,produktif. Calvin menulis, “Tidak seorangpun yang akan menjadi pelayan Firman Allah Yang baik tanpa lebih dulu menjadi seorang pembelajar yang baik. Superegon lebih tegas lagi mengatakan bahwa ia yang tidak lagi menabur dalam belajar takkan lagi menuai di atas mimbar. Philip Brooks 1877 dalam kesempatan sebuah kuliah mengutifkan satu rangkaian pesan yang mengagumkan dan tajam,”Hidup seorang pelayan haruslan menjadi seorang yang banyak mengumpulkan…berlatih belajar demi kebenaran, berlatih berpikir demi buah-buah yang lebat dan demi kegembiraan dalam berpikir itu sendiri, maka khotbahmu akan menjadi seperti semburan air segar suatu mata air, dan bukan seperti sebuah letusan yang keluar dari sebuah balon. Jhon stott dalam bukunya “The Living Church” menggarisbawahi bahwa sebuah khotbah yang baik adalah hasil dari suatu upaya eksegesis yang menajubkan. Usaha tafsir ini tentunya hanya dapat dilakukan oleh seorang pelayan dengan gelar berkaliber “Pembelajar”.
Penekanan-penekanan sejenis juga datang dari seorang pastur atau gembala Dr. sunday adeladja, seorang pria yang diurapi menjadi pelayan yang sangat diperhitungkan oleh pihak Pemerintah, salah satu pilar reformasi di ukraina yang menancapkan pengaruh kekristianian dalam pengambilan kebijakan-kebijakan birokrasi. Dalam perjalanan pelayanannya ia mengakui tidak dapat dipisahkan dari kokohnya ia meletakkan fondasi Intelektual sebagai bagian dari kokohnya design pelayanannya. Ia berhasil merohanikan hal tersebut dengan memberikan pengakuan bahwa menjadi pelayan pembelajar adalah sebuah proses real menajamkan anak panah yang siap tersimpan ditabung panah dan siap dipakai ditangan Allah. Secara radikal ia menegaskan bahwa pelayan yang tidak menyukai aktivitas belajar adalah “anak panah yang tumpul” yang tidak dapat berhadap-hadapan dengan misi memerangi kegelapan. Seorang pelayan membutuhkan Pengetahuan.Ia menyarankan segenap pelayan pembelajar untuk memaksa dirinya mempelajari banyak hal sebisa yang dilakukan.
Salomo dalam awal-awal kitabnya mengambarkan bahwa Allah membangun “semesta alam” dalam tiga bahan dasar yakni Himat sebagai fondasi, pengertian sebagai penegak, pengetahuan sebagai pengatur (Amsl 3:19-20). Totalitas diri seorang pelyan pembelajar haruslah merupakan integrasi ketiga unsur hakiki. Totalitas tersebut bukanlah sebagai sebuah kompilasi semata namun berupakan “In Part” yang tak terceraikan. Keutuhan pelayan pembelajar harus dapat mencapai kepemilikan Hikmat, pengertian dan Pengetahuan, tanpa mempertukarkannya atau memberi bobot lebih dan kurang. Totalitas integrasinya adalah totalitas proporsional.
Seorang pelayan pembelajar idealnya adalah seorang pembaca “Rakus”, seorang predator “Buku” bukan kutu buku yang oleh Taufiq Ismael, seorang pujangga Indonesia ,sekedar menggerogoti pinggiran buku. Seorang pelayan pembelajar adalah seorang kolektor informasi sekaligus reflector dan distributor. Seorang pelayan pembelajar akan memegang Firman Allah (Kitab) ditangan kanannya dan Buku-buku sekuler di tangan Kirinya. Ia senantiasa maju dalam dimensi profan dan dimensi sekuler.ia adalah seorang yang tidak gagap dengan hal “aktualitas”, ia adalah “Rekonstruktor” yang paham menarik benang merah kedahuluan dan kekinian tanpa mengaburkan salah satu dimensi tersebut.seorang pelayan adalah seorang yang sensitive, ia tidak rela tertinggal lokomotif informasi, ia sangat tidak menyukai dan membiarkan begitu saja fenomena yang khas tanpa sebuah eksplanasi yang memadai. Ia adalah peribadi yang senantiasa gelisah, pribadi yang senantiasa menaikat tingkatan lompatan yang terus meninggi hingga pada level kerumitan yang jelimet untuk diruntutjelaskan. Karena ia terus membackup dirinya dengan berbagai data-data informative yang tinggi nilai gizinya, ia senantiasa bergaul karib dengan pemikiran-pemikiran besar disegala jaman untuk menstimulus dirinya berperan sebagai pribadi yang adalah “Salah satu” dari Pribadi “salah satu lainnya”. Jika Hitler, lenin, stalin adalah pribadi “salah satu” yang dapat merubah jalannya sejarah kearah yang salah, maka pelayan pembelajar akan berupaya mati-matian mengkonstruk pribadi “salah satu” yang dapat mendrive jalannya arah sejarah kearah Yang benar yakni arah yang Allah inginkan.Pribadi pelayan pembelajar adalah pribadi pelayan yang “Siap” dijumpai oleh Kesempatan, membangun kesempatan untuk menjadi alat menyalakan api “Kemulian Tuhan”

Salam pelayan pembelajar , Tanah Grogot 26 jan 09

Jumat, 23 Januari 2009

dialog otoritas fungsi dan otorotas posisi dalam kepemimpinan

OTORITAS POSISI VERSUS OTORITAS FUNGSI;
Refleksi Teologis dua sisi mata Uang Kepemimpinan
By. BL. Padatu

Kepemimpinan merupakan penamaan sistematis terhadap peran dan tanggung jawab seseorang dalam struktur kelembagaan sebuah organisasi yang dapat dianggap memegang kunci kendali kesuksesan.
Pada satu sisi lingkungan kemanagerialan mendaulat sebuah kebenaran yang tidak dapat dipatahkan , bahwasanya kepemimpinan merupakan unsur penting indikator kemajuan atau keberhasilan sebuah lembaga atau organisasi (tak tertinggal Institusi Gereja di dalamnya).
Di sisi lain, peran kepemimpinan dapat menciptakan sisi gelap dari sebuah perjalanan mencapai tujuan.
Peran kepemimpinan seseorang dalam keorganisasiannya terikat dari dua aspek yang tidak terlepas satu dengan lainnya sekaligus saling mempengaruhi kedua-duannya. Aspek dimaksud adalah otoritas posisi dan otoritas fungsi.
Otoritas posisi dan otoritas fungsi merupakan dua item dasar yang membelah peta permasalahan dalam arus kepemimpinan dalam unit-unit kelembagaan maupun organisasi.Banyak pakar kepemimpinan meletakkan keyakinan yang kuat terhadap sumber masalah yang terjadi dalam kerangka kerja kepemimpinan. Kiblat kepemimpinan selalu menyoal peran faktual seorang pemimpin dalam menstruktur kebijakan dan kekuasaan yang melekat dengan hak kepejabatannya.

A. Sebuah sisi kepemimpinan yang diperdebatkan

Seiring waktu dan aplikasi peran kepemimpinan para pemimpin diberbagai kelembagaan dan organisasi telah membawa sebuah wilayah debat baru tentang aplikasi otoritas posisi dan otoritas fungsi.
Fakta kontemporer telah menarik sebuah hipotesa argumentatif bahwa efektifitas kepemimpinan telah diracuni oleh jangkauan tidak seimbang dari peran otoritas posisi yang distandarkan oleh pemimpin. Dan hal ini secara terbuka dipraanggapkan sebagai penyalagunaan bahkan sampai pada pelanggaran kode etik kepemimpinan profesional.
Orang tidak mengikuti seseorang karena gengsi sosial (kedudukan atau posisi) seorang pemimpin, tetapi karena kinerja profesional sang pemimpin yang diarahkan pada upaya menciptakan dan memelihara sebuah kelompok yang mendapatkan perhatian dan kebutuhan yang sama.
Sebuah rangkaian implementasi kepemimpinan dari penonjolan otoritas posisi hanya mendatangkan penyataan “Manipulasi” bukan “Motivasi”
Gereja dalam wacana kelembagaan atau keorganisasiannya, juga mengalami ketidak beruntungan dengan adanya issue kepemimpinan dengan pengedepanan otoritas posisi dalam paradigma kepemimpinannya. Dan hal yang dapat dibingkai manis sebagai ironinya praktek kepemimpinan gerejawi adalah Gereja yang mengosongkan diri bukan lagi dimengerti sebagai gereja yang rendah hati, gereja yang dirindukan, tetapi gereja yang Kosong alias ditinggalkan oleh umatnya. Apakah gereja ini mengalami kekosongan kepemimpinan ?
Gereja bukanlah sebuah institusi yang mengalami kekurangan pemimpin dari aspek kuantitasnya. Tak terhitung banyaknya institusi pendidikan tenaga pemimpin gerejawi. Dan ini juga didukung dengan antusiasme minat para calon-calon pemimpin Gerejawi yang bertebaran dipersada Nusantara kita.
Kontroversi keyakinan aplikatif baik terhadap defenisi kepemimpinan maupun aktualisasi peran kepemimpinan yang kehilangan daya seimbangnya, yakni antara sumber daya kepemimpinan yang berasal dari otoritas Posisi dengan Otorisas Fungsi.
Dalam tulisan ini, saya lebih suka mengkondisikan dua item sumber daya kepemimpinan ini sebagai “Dua sisi Mata Uang Kepemimpinan”, suatu istilah yang mirip dan khas milik Joyce Meyer dengan “Visi sebagai mata Uangnya Kepemimpinan”, namun berbeda makna dan pemakaiannya dengan tulisan ini.
Tulisan ini merupakan kebun makna yang digagas dalam rangka turut meragamkan wacana replektif, suatu niatan dalam upaya memantapkan study kepemimpinan yang etikal dan propesional dalam harapan pemenuhan dini dari kerangka tekstual Injil Lukas 13: 29,tentang berbondong-bondong orang yang datang duduk, minum dan makan dalam satu persekutuan dalam kerajaan Allah, yang telah bergerak secara progresif diwaktu sekarang.


B. Otoritas sebagai Konsep Kekuasaan

Definisi Otoritas adalah kekuasaan yang diberikan kepada lembaga dalam masyarakat yang memungkinkan para pejabatnya menjalankan fungsinya. Otoritas dapat berarti pula hak untuk bertindak, hak melakukan tindakan atau hak membuat peraturan untuk memerintah orang lain. Otoritas dapat didefinisikan pula sebagai Pengaruh yang melekat pada dirinya dalam kapasitas jabatannya.
Keragaman definisi otoritas demikian telah membawa kita pada pemetaan makro prihal modul-modul kepemimpinan yang berbasis pada jangkauan kewenangan, hak kepejabatan atau hak posisi
Pada kebanyakan kasus,disadari atau tidak, substansi definisi tersebut lebih banyak terbaca secara parsial hanya sebagai pendeskripsian wilayah otoritas posisi.
C. Otoritas posisi versus otoritas fungsi; dua sisi mata uang kepemimpinan
Pemimpin tidak dapat melepaskan atau mengabaikan salah satu dari sisi mata uang kepemimpinannya. Ia tdk dapat mengabaikan posisinya dan menajamkan fungsinya semata. Sebaliknya Ia tidak dapat menajamkan posisinya dan lemah dari sisi fungsinya.
1. Kritik peran Otoritas Posisi
Jhon Maxwell, salah seorang yang digelari resi kepemimpinan abad ini dalam bukunya “The 21 Irrefutabl Law of Leadership”, menuturkan aspek kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan Orang bukan kepemimpinan Posisi. Ia menuturkan keyakinannya bahwa kepemimpinan posisi mungkin mendatangkan rasa hormat tetapi miskin kepatuhan.
Otoritasi Posisi, dalam konsep tunggalnya, menjadikan manusia sebagai mesin yang mengusahakan pembudidayaan kekuasaan sebagai ikon legalitas kepemimpinan. Sehingga efektivitas pembenarannya selalu diproduksi dari bangku kekuasaan sebuah posisi, bukan pada berfungsi tidaknya sesuatu dalam lingkup organisasi.
D. Paradoks Otoritas kepemimpinan Gerejawi
Howard snyder menulis, “Gereja adalah sebuah teokrasi (yang diperintah Oleh Tuhan) bukan demokrasi. Tetapi ini bukan teokrasi hirarkis yang mengikuti susunan mulai dari Tuhan lalu turun kepada orang awam. Sebaliknya ini merupakan sebuah keluarga di mana Tuhan yang menjadi puncak pemerintah, tetapi dengan berbaik hati dan penuh kasih dalam suatu cara yang membangun dan meneguhkan setiap anggota keluarga serta membuat hierarki tidak berguna.
Buah pikir Howard snyder ini menawarkan sebuah penegasan yang tidak terbantahkan lagi, dimana Ia mempertentangkan konsep hirarkis Tuhan dengan Hirarkis Manusia. Konsespi integrasi kehirarkian Tuhan terputus garis hubungnya dengan manusia. Manusia tidak mendapat peran mengejawantahkan konsep kehirarkian dalam kerja pelayanannya.
Hal lain yang menarik dari paradok kehirarkian Tuhan adalah lenyapnya konsepsi kehirarkian Tuhan dalam hubungan yang sebenarnya dengan manusia. Kongkritnya dapat dibahasakan Kehirarkian Tuhan bukanlah soal Kedudukan atau posisi tetapi pada perananNya.
A. Otoritas Sebagai Anak Panah Kepemimpinan
1. Seorang Pemimpin sedari awalnya memiliki ketajaman yang diberikan kepada seseorang.
2. Ketidak seimbangan peran kedua sisi mata uang kepemimpinannya berakibat pada terjadinya penumpulan.
3. Otoritas posisi yang tidak dibarengi otoritas fungsional, berakibat pada pembalikan arah mata panah kepemimpinan, bahkan cenderung menembak diri sendiri. Otoritas kepemimpinan seseorang seharusnya melesat keluar dari diri seseorang menuju kepada Tujuan bersama atau tujuan organisasi.Seorang pemanah sedari awal memfokus panahannya pada sesuatu yang dia sadari benar berada diluar dirinya.

B. Otoritas dalam Inherenitas berimbang; melahirkan Transforming Leadersip
Kepemimpinan dalam arti penuh tidak saja memegang posisi tetapi kekuasaan dan kekuasaan tersebut terbaca sebagai peran potensi kepemimpinan yang terfungsikan.
C. Refleksi Teologis dua mata uang kepemimpinan.
1. Otoritas Ilahi adalah otoritas yang digerakkan dari kerja Iman
2. Otoritas Diri sebagai personifikasi dari kekuatan Ilahi
3. Otoritas diri yang dikosongkan; kepemimpinan Yesus adalah kepemimpinan yang mengeluarkan potensi kediriaannya menjadi bukti faktual yang dilandasi atas penghormatan hidup orang lain, bukan penghormatan atas dirinya.

Best my regard

Selasa, 13 Januari 2009

"Pahitnya sebuah Nazar"

“Pahitnya sebuah Nazar”
BL Padatu

Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: "Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur." (Hakim-hakim 11:35)

Cermin Sejarah:
Yefta seorang yang terusir dari lingkungan keluarga, hanya karena lahir dari seorang “perempuan lain”. Terbuang di tanah Tob dan menjadi bagian dari para petualang dengan profesi sebagai perampok-perampok yang disegani sekaligus ditakuti. Melalui suatu situasi krisis militer, perang antar bani Amon dan Israel, keberadaan Yefta terpanggil kembali oleh para tua-tua israel yang memandang tinggi derajat atau kemampuan Yefta dalam soal-soal peperangan. Mereka sangat yakin dengan keahlian Yefta, terlebih penyertaan Allah , Israel akan menjadi bangsa pemenang sepanjang masa.
Sebagai abdi atau hamba yang senantiasa meletakkan dasar keyakinan kepada Allah pemenang, Yefta mengikatkan “Nazar Iman” kepada Allah untuk memberikan kepadanya “kemenangan Agung” berhadapan dengan Bani Amon. “apa yang pertama sekali keluar dari pintu rumahku sekembalinya aku dari pertempuran,,itu adalah kepunyaanMu dan akan menjadi korban bakaran” demikianlah Yefta menuturkan “Nazar Iman”
Kemengan di berikan bagi Yefta dan bangsa Israel. Perayaan membahana disepanjang lembah, pengunungan, jalan yang dilalui oleh para barisan tentara Yefta yang menang mutlak karena “Perbuatan Allah”. Naas bagi Yefta, Putri satu-satunya, pewaris kehormatan Yefta, keluar menabuhkan rebana penyambutan sang Pahlawan gagah perkasa sekaligus Ayah yang sangat membanggakan.
Terbelalak mata sang Pahlawan, panglima tertinggi barisan tentara Allah yang Maha Tinggi, takkala sorot matanya menangkap gambar diri anak kesayangannya menari-nari bak ‘sebuah persembahan yang digiring ke mezbah pengorbanan’ . Melorotlah segala kekuatan yang ia miliki, putuslah gambaran masa depan bagi masa depan anaknya. Tangisnya pecah seketika, meraung-raung,meratap, mengoyakkan pakaian kebesaran seorang panglima nan gagah perkasa, terkulai dan ambruk seketika terhempas di tanah dukacita, tanah yang sebentar lagi menjadi saksi kesetiaan Imannya pada Nazar yang diikatkan kepada Allah sembahannya.
“Lakukanlah apa yang telah menjadi Nazar ayah kepada Allah hanya saja biarkan aku menangisi kegadisanku” sang Putri meyakinkan seorang ayah yang sedang terhimpin beban “Nazar Imannya”.
Cermin kita:
Terhadap cerita diatas; kita mungkin bertanya, mengapa Allah begitu jahatnya membiarkan Yefta mengeksekusi seorang anak yang kehilangan segalanya persis dihadapanNYa, didalam ikatan janji atau Nazar Iman. Mengapa Allah tidak melakukan hal yang sama ketika Abraham hendak menunjukkan kesungguhan Imannya kepada Allah melalui pengorbanan sembelihan Putra kesayangannya, dan segera mengirim MalaikatNya menangkap tangan seorang ayah yang sejurus menghujamkan belati pada lingkar leher Ishak. Mengapa Allah membiarkannya. Memang sangat sulit untuk mengambil posisi pada dua kutub yang saling berlawanan. Pada kutup yang satu kita dapat menentang pembiaran Allah dan kutub yang lain menentang Yefta yang tidak mau membatalkan dan bernego kembali untuk menawarkan kepada Allah alternative korban bakaran. Toh Allah adalah Allah pengampun, Allah yang tidak suka menerima Korban Bakaran berupa Manusia. Persembahan yang meninggalkan parut luka derita yang mendalam.
Bagaimana menyikapi persoalan ini? Tentunnya problem “pahitnya Nazar Iman Yefta” tidak dapat kita jelaskan berdasarkan kemampuan nalar kita sebagai manusia yang terpisah jauh dari rentang kehidupan Yefta dengan Allah. Persoalan “nazar Iman” Yefta hanya dapat direka-reka atau ditafsir dalam rentangan jawaban yang tidak akan final dapat menjelaskan latar belakang sesungguhnya. Kebingungan dan kita terhadap “Nazar Iman” Yefta adalah kebingungan abadi yang tentunya tetap menjadi Rahasia antara Allah dan keluarga Yefta. Apapun perasaan yang muncul sebagai respond dan cara kita menyikapi peristiwa cara “Beriman” yang anomali (Baca tidak biasa) sebagaiman yang ditunjukkan Yefta hendaknya tidak membuat kita mengutuki baik kepada Allah maupun Yefta sendiri.
Mari kita menjaga garis batas untuk tidak menghakimi akhir atau muatan “Nazar Iman” ala Yefta. Buat kita sekarang adalah bagaimana menggelar upaya mengkritisi hal “Cara Membangun Nazar Iman” yang kerap kali mewarnai cara kita menunjukkan keseriusan daya tanggap kita terhada Allah dan terhadap segala kebutuhan hidup kita. Nazar adalah bagian dari budaya keagamaan yang mendapat tempat dalam rentang kebenaran Firman Allah. Sejatinya kita perlu melakukan nalar Alkitabiah yang proporsional (berimbang), sehat dan turut melibatkan akal sehat(akal budi). Kesehatan pikiran kita dalam menalar “Nazar Iman” adalah kebenaran “Bernazar” yang di bangun oleh landasan Firman Allah yang mantap. Allah tidak meletakkan “Nazar Iman” sebagai tuntutan untuk anak-anak Tuhan mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Allah tidak ingin kita latah dalam “bernazar”. Allah menghendaki anak-anaknya membangun kerangka sadar diri; sadar akan apa yang dijanjikan, sadar akan apa yang diminta, sadar akan harga yang harus dibayar bagi seorang yang bernazar. Yang paling harus diingat dan dicatat dalam benak kita, “Nazar Iman” bukanlah satu-satunya cara untuk mendapatkan sesuatu. “Nazar Iman” bukanlah alat barter atau alat tukar sesuatu. “Nazar Iman” adalah salah satu bagian (Ingat: salah satu, bukan segala-galanya) untuk merefleksikan kedalaman kesungguhan kita dalam BerTuhan. “Nazar Iman” adalah mekanisme yang sehat, sarana cara merefpelksikan ibadah.
Mintalah maka kepadaMu akan diberikan, demikian Firman allah mengingatkan. Allah tidak mengatakan “Bernazarlah dulu” maka akan kuberikan sesuatu yang diinginkan hatimu. Jangan jadikan “Nazar Iman” sebagai gaya hidup kekristenan anda tanpa didahului dengan pencaharian pemahaman yang tuntas dan menyeluruh terhadap peranan “Nazar Iman” dalam kehidupan kekeristenan kita. Sangat sehat untuk mencari dan menggali pemahaman tentang “Nazar Iman” kepada Hamba-hamba Tuhan atau saudara-saudara seiman yang telah memahami ruanglingkup “Nazar Iman”. Sebaiknya jangan lakukan “Nazar Iman” tanpa menimbang konteks dan kepentingannya.
Kita dapat saja melakukan “Nazar Iman” untuk kepentingan aneka permohonan Kepada Tuhan misalnya mencari Jodoh yang tidak kunjung datang; mencari peningkatan derajat kehidupan ekonomi; karier atau kedudukan; kesembuhan terhadap penyakit yang kronis. Hanya saja waspadalah untuk tidak melalukan kesalahan yang sama dengan “Sindrom Nazar Yefta”. “Nazar Iman” bukanlah tool atau instrument memaksa Allah berbuat sesuatu kepada kita. Allah dapat memberikan sesuatu kepada Anda Tanpa harus melakukan deal-deal versi “Nazar” . Sekali lagi jika anda ingin bernazar, berkonsultasilah kepada pembimbing atau mentor rohani anda. Dan perlu untuk ditambahkan dan ditegaskan, waspadalah keterikutan keluarga anda atau orang lain dalam nazar yang dibuat, sebagaimana kesalahan yang dibuat Yefta tanpa sadar menyeret kehidupan Putrinya kedalam bentuk atau isi “Nazar Imannya”
Ulangan 23:21-23 "Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu. Tetapi apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu. Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan kepada TUHAN, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri."

Yogyakarta 29/11/2008