“Pahitnya sebuah Nazar”
BL Padatu
Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: "Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur." (Hakim-hakim 11:35)
Cermin Sejarah:
Yefta seorang yang terusir dari lingkungan keluarga, hanya karena lahir dari seorang “perempuan lain”. Terbuang di tanah Tob dan menjadi bagian dari para petualang dengan profesi sebagai perampok-perampok yang disegani sekaligus ditakuti. Melalui suatu situasi krisis militer, perang antar bani Amon dan Israel, keberadaan Yefta terpanggil kembali oleh para tua-tua israel yang memandang tinggi derajat atau kemampuan Yefta dalam soal-soal peperangan. Mereka sangat yakin dengan keahlian Yefta, terlebih penyertaan Allah , Israel akan menjadi bangsa pemenang sepanjang masa.
Sebagai abdi atau hamba yang senantiasa meletakkan dasar keyakinan kepada Allah pemenang, Yefta mengikatkan “Nazar Iman” kepada Allah untuk memberikan kepadanya “kemenangan Agung” berhadapan dengan Bani Amon. “apa yang pertama sekali keluar dari pintu rumahku sekembalinya aku dari pertempuran,,itu adalah kepunyaanMu dan akan menjadi korban bakaran” demikianlah Yefta menuturkan “Nazar Iman”
Kemengan di berikan bagi Yefta dan bangsa Israel. Perayaan membahana disepanjang lembah, pengunungan, jalan yang dilalui oleh para barisan tentara Yefta yang menang mutlak karena “Perbuatan Allah”. Naas bagi Yefta, Putri satu-satunya, pewaris kehormatan Yefta, keluar menabuhkan rebana penyambutan sang Pahlawan gagah perkasa sekaligus Ayah yang sangat membanggakan.
Terbelalak mata sang Pahlawan, panglima tertinggi barisan tentara Allah yang Maha Tinggi, takkala sorot matanya menangkap gambar diri anak kesayangannya menari-nari bak ‘sebuah persembahan yang digiring ke mezbah pengorbanan’ . Melorotlah segala kekuatan yang ia miliki, putuslah gambaran masa depan bagi masa depan anaknya. Tangisnya pecah seketika, meraung-raung,meratap, mengoyakkan pakaian kebesaran seorang panglima nan gagah perkasa, terkulai dan ambruk seketika terhempas di tanah dukacita, tanah yang sebentar lagi menjadi saksi kesetiaan Imannya pada Nazar yang diikatkan kepada Allah sembahannya.
“Lakukanlah apa yang telah menjadi Nazar ayah kepada Allah hanya saja biarkan aku menangisi kegadisanku” sang Putri meyakinkan seorang ayah yang sedang terhimpin beban “Nazar Imannya”.
Cermin kita:
Terhadap cerita diatas; kita mungkin bertanya, mengapa Allah begitu jahatnya membiarkan Yefta mengeksekusi seorang anak yang kehilangan segalanya persis dihadapanNYa, didalam ikatan janji atau Nazar Iman. Mengapa Allah tidak melakukan hal yang sama ketika Abraham hendak menunjukkan kesungguhan Imannya kepada Allah melalui pengorbanan sembelihan Putra kesayangannya, dan segera mengirim MalaikatNya menangkap tangan seorang ayah yang sejurus menghujamkan belati pada lingkar leher Ishak. Mengapa Allah membiarkannya. Memang sangat sulit untuk mengambil posisi pada dua kutub yang saling berlawanan. Pada kutup yang satu kita dapat menentang pembiaran Allah dan kutub yang lain menentang Yefta yang tidak mau membatalkan dan bernego kembali untuk menawarkan kepada Allah alternative korban bakaran. Toh Allah adalah Allah pengampun, Allah yang tidak suka menerima Korban Bakaran berupa Manusia. Persembahan yang meninggalkan parut luka derita yang mendalam.
Bagaimana menyikapi persoalan ini? Tentunnya problem “pahitnya Nazar Iman Yefta” tidak dapat kita jelaskan berdasarkan kemampuan nalar kita sebagai manusia yang terpisah jauh dari rentang kehidupan Yefta dengan Allah. Persoalan “nazar Iman” Yefta hanya dapat direka-reka atau ditafsir dalam rentangan jawaban yang tidak akan final dapat menjelaskan latar belakang sesungguhnya. Kebingungan dan kita terhadap “Nazar Iman” Yefta adalah kebingungan abadi yang tentunya tetap menjadi Rahasia antara Allah dan keluarga Yefta. Apapun perasaan yang muncul sebagai respond dan cara kita menyikapi peristiwa cara “Beriman” yang anomali (Baca tidak biasa) sebagaiman yang ditunjukkan Yefta hendaknya tidak membuat kita mengutuki baik kepada Allah maupun Yefta sendiri.
Mari kita menjaga garis batas untuk tidak menghakimi akhir atau muatan “Nazar Iman” ala Yefta. Buat kita sekarang adalah bagaimana menggelar upaya mengkritisi hal “Cara Membangun Nazar Iman” yang kerap kali mewarnai cara kita menunjukkan keseriusan daya tanggap kita terhada Allah dan terhadap segala kebutuhan hidup kita. Nazar adalah bagian dari budaya keagamaan yang mendapat tempat dalam rentang kebenaran Firman Allah. Sejatinya kita perlu melakukan nalar Alkitabiah yang proporsional (berimbang), sehat dan turut melibatkan akal sehat(akal budi). Kesehatan pikiran kita dalam menalar “Nazar Iman” adalah kebenaran “Bernazar” yang di bangun oleh landasan Firman Allah yang mantap. Allah tidak meletakkan “Nazar Iman” sebagai tuntutan untuk anak-anak Tuhan mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Allah tidak ingin kita latah dalam “bernazar”. Allah menghendaki anak-anaknya membangun kerangka sadar diri; sadar akan apa yang dijanjikan, sadar akan apa yang diminta, sadar akan harga yang harus dibayar bagi seorang yang bernazar. Yang paling harus diingat dan dicatat dalam benak kita, “Nazar Iman” bukanlah satu-satunya cara untuk mendapatkan sesuatu. “Nazar Iman” bukanlah alat barter atau alat tukar sesuatu. “Nazar Iman” adalah salah satu bagian (Ingat: salah satu, bukan segala-galanya) untuk merefleksikan kedalaman kesungguhan kita dalam BerTuhan. “Nazar Iman” adalah mekanisme yang sehat, sarana cara merefpelksikan ibadah.
Mintalah maka kepadaMu akan diberikan, demikian Firman allah mengingatkan. Allah tidak mengatakan “Bernazarlah dulu” maka akan kuberikan sesuatu yang diinginkan hatimu. Jangan jadikan “Nazar Iman” sebagai gaya hidup kekristenan anda tanpa didahului dengan pencaharian pemahaman yang tuntas dan menyeluruh terhadap peranan “Nazar Iman” dalam kehidupan kekeristenan kita. Sangat sehat untuk mencari dan menggali pemahaman tentang “Nazar Iman” kepada Hamba-hamba Tuhan atau saudara-saudara seiman yang telah memahami ruanglingkup “Nazar Iman”. Sebaiknya jangan lakukan “Nazar Iman” tanpa menimbang konteks dan kepentingannya.
Kita dapat saja melakukan “Nazar Iman” untuk kepentingan aneka permohonan Kepada Tuhan misalnya mencari Jodoh yang tidak kunjung datang; mencari peningkatan derajat kehidupan ekonomi; karier atau kedudukan; kesembuhan terhadap penyakit yang kronis. Hanya saja waspadalah untuk tidak melalukan kesalahan yang sama dengan “Sindrom Nazar Yefta”. “Nazar Iman” bukanlah tool atau instrument memaksa Allah berbuat sesuatu kepada kita. Allah dapat memberikan sesuatu kepada Anda Tanpa harus melakukan deal-deal versi “Nazar” . Sekali lagi jika anda ingin bernazar, berkonsultasilah kepada pembimbing atau mentor rohani anda. Dan perlu untuk ditambahkan dan ditegaskan, waspadalah keterikutan keluarga anda atau orang lain dalam nazar yang dibuat, sebagaimana kesalahan yang dibuat Yefta tanpa sadar menyeret kehidupan Putrinya kedalam bentuk atau isi “Nazar Imannya”
Ulangan 23:21-23 "Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu. Tetapi apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu. Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan kepada TUHAN, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri."
Yogyakarta 29/11/2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar