Minggu, 13 Desember 2009

Bagaimana membuat orang percaya pada anda?

By. BL Padatu


“Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku? Apakah mereka akan mendengarkanku? Apakah pendapatku dapat mempengaruhi pola laku dan pikir mereka? Punyakah aku kemampuan menyakinkan orang dengan perkataanku? Seberapa banyak orang yang berpikir demikian dan menyudutkan diri mereka pada pojok ketidakberdayaan diri? Apa yang mereka kemudian lakukan untuk menarik diri mereka keluar melompati penjara-penjara pelemahan keyakinan diri? Sebegitu lemahkah mereka sehingga harus mengidapkan penyakit ketidakpercayaan diri baik dilevel akut maupun kronik? Apakah akibat berkelanjutan dari seorang yang terus terikat kuat dengan keyakinan diri destruktif?Terhadap semua pertanyaan ini adalah tidak dibutuhkan usaha untuk menjawabnya satu-persatu.Keseluruhan pertanyaan tersebut menjadi sebuah persoalan bagi anda,situasi tersebut akan teratasi jikalah anda mampu memahami satu hal yakni: anda membutuhkan kuasa diluar diri anda dan kuasa tersebut adalah Kuasa Allah.Sebuah Kuasa yang menjadi satu-satunya sumber pertolongan anda. Bagaimana prosesnya? Ikuti uraian selanjutnya.
Pertanyaan “bagimana jika mereka tidak percaya kepadaku? Merupakan sebuah pertanyaan yang sangat Alkitabiah.Sumber kutipan dapat dilacak pada kitab Keluaran pasal 4:1 Lalu sahut Musa: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku…, Musa dalam teks tersebut mengalami serbuan ketidak percayaan diri terhadap sebuah misi yang hendak Tuhan percayakan.Sebagai seorang yang telah dididik dalam sistem pendidikan Mesir yang sangat terkenal tentu sangat mengherankan bagaimana mungkin seorang yang terpelajar, seorang yang dididik secara khusus, dapat meragukan kemampuannya dalam memimpin(mempengaruhi). Hal yang sama, senada ditunjukkan oleh Yeremia 1:6 Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda."Yeremia dalam teks tersebut turut memberikan penekanan situasi yang tidak persis sama namun memiliki kemiripan situasional.
Kembali pada cerita Musa,lemahnya karakter kepercayaan diri Musa jauh melampaui masa depan.Ia tanpa sadar menekan kemampuannya pada titik nol dengan menghadirkan suatu situasi yang belum tentu terjadi.Pada tingkatan ini Musa melihat kebesaran, kekuatan seseorang diluar dirinya sekaligus kehilangan perspektif kemampuan dirinya.Nada cerita yang sama dapat kita amati dari tragedi hilangnya daya lihat kebesaran diri para pengintai negeri kanaan yang melihat kebesaraan lawan dan mencederai diri dengan mentalitas belalang.Belum habis ingatan kita pada mengeroposnya kekuatan pencitraan diri saudara-saudara Daud serta barisan tentara Allah yang membesar-besarkan ukuran kekuatan Goliat, namun dibuktikan salah oleh Daud.
Tentu ada banyak contoh peristiwa yang jika dikumpul akan menjadi kompilasi album orang-orang kalah sebelum bertanding.Ada banyak orang, ditingkat, bidang, tujuan beragam yang terseret arus deras ketidakpercayaan diri yang mematikan.Mereka dipaksa percaya oleh dialog batin yang kacau.manipulasi ilusi telah mendahului melompati logika mereka. Permainan kata andaikata, sekiranya, misalkan,jikalau menjadi permainan verbal yang mengasyikan dalam ruang pikir mereka,tanpa terusik dengan sinyal-sinyal bahaya pengerdilan diri.
Menelisik lebih jauh dengan menggali lebih dalam teks ketidakpercayaan diri Musa membawa kita menjumpai sebuah pribadi yang mengalami kesulitan untuk mempercayai bukan hanya kekuatan pada dirinya namun sumber kekuatan itu sendiri yakni Allah. Dalam pasal 4:10 Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." Sesungguhnya Allah telah melakukan kerja pastoral secara pribadi ditambah kesempatan bagi Musa mengalami secara empiris kedasyatan penyertaan Tuhan; Perubahan Ular dan tongkat secara bolak-balik;Tangan yang berubah menjadi kusta dengan menyelip-masukkan tangan ke jubah; hingga peningkatan pembuktian empiris kuasa Tuhan yang mengubah Air Nil menjadi darah ketika menyentuh tanah kering, tidak juga memompa nalar keyakinan diri.
3 rupa muzijat yang ditunjukkan Allah kepada Musa sama sekali tidak menjadi materi atau unsur peubah cara melihat dirinya.Anda bisa membayangkan jika Allah secara berhadap-hadapan memberi anda kesempatan mengalami 3 muzijat contoh dan kemudian menyerahi Tugas dengan bekal keyakinan bahwa segudang Muzijat menyertai anda, apakah anda akan memandang diri anda secara lebih baik? Tentu sulit untuk meyakinkan bahwa anda akan jauh lebih baik dari Musa. Namun setidaknya respon kegeraman Allah akan menjadi cermin baru dalam melihat diri.
Allah dalam Keluaran pasal 4:11,12 Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan. Apakah Allah dalm teks ini kita dapati kurang bekerja keras dalam meyakinkan Musa? Kalu kita kembali memberi perhatian pada jawaban Musa pada ayat berikutnya,”Ah,Tuhan,utuslah kiranya siapa saja yang patut Kau utus” maka dapat kita nyatakan bahwa Allah telah bekerja keras meyakinkan Musa,namun perlu berhati-hati memaknai kerja keras Allah bahwa bukan berati Allah tidak bisa memudahkan proses peyakinan tersebut.Allah dalam konteks kerja keras tersebut sangat menghargai dinamika demokrasi menyatakan pendapat, sikap dan keputusan Musa.
Bargaining pengutusan(tawar-menawar) yang kita baca antara Musa dan Allah secara moral sesungguhnya memberi kepada kita serangkaian kearifan yang semestinya menjadi titik perhatian dalam upaya-upaya praktis menyakinkan seseorang atau mengajak seseorang mengikuti derap arah jalan kita. Petikan kearifan tersebut misalnya menuntun kita untuk sadar pada level dini bahwasanya mengajak orang berjalan pada alur segaris bersama kita tentu bukan perkara mudah. Seluruh totalitas kemampuan diri kita bukanlah garansi memastikan kepatuhan seseorang pada ajakan kita. Ada banyak hambatan-hambatan yang semestinya diinvestasikan waktu dan proses belajar.Suara datar, miskin intonasi, keterbatasan wawasan, tawarnya ekspresi, ketidakpekaan secara emosional merupakan potensi-potensi level terendah yang perlu mendapat perhatian khusus.Seorang pemberi pengaruh harus menerima kondisi-kondisi tersebut sebagai instrumen strategis yang sesegera mungkin di-upgrade.
Hal yang paling tidak dapat diabaikan untuk sebuah tujuan mempengaruhi seseorang bukan saja menyangkut aspek-aspek kekuatan fisik.Namun melampaui dimensi fisik duniawi.Aspek tersebut adalah Dimensi “Yang melampaui” yakni Kuasa ALLAH. Allah yang membuat lidah manusia, membuat pikiran manusia serta Hati manusia.Hanya KUASA ALLAH yang sanggup menyentuh ruang terdalam yang disembunyikan seseorang untuk diambil, dibujuk, diberi perasaan positif.
Walaupun Allah menjamin tidak akan merebut simpati anda dengan paksa, namun Allah sanggup membuat logika berpikir anda sejalan dengan logika berpikirNYa.Karenanya,dengan logika yang sama, kepercayaan pada Penyertaan Allah akan sanggup membuat orang mendengar kata-kata, arahan anda.Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena KUASA ALLAH yang melampau akal dan pikiranlah yang mengerjakannya.
Tapi anda harus memperhatikan tanda-tanda yang muncul dalam teks-teks keluaran pasal 4 yang memunculkan aspek “Menunjukkan sesuatu”.Allah tidak hanya menjanjikan sesuatu yang abstrak bagi Musa, Allah menyertakan sesuatu yang Kongkrit.Allah telah menaruh sesuatu di lidah Musa.Allah juga menaruh sesuatu di lidah anda.Karenanya anda harus berusaha melatih sensivitas pengenalan sesuatu yang Allah taruh pada lidah anda.Kenalilah prilaku lidah anda dan yakinkan pada diri anda apa yang bukan kepunyaan Allah. Lidah yang di dalamnya berisi sesuatu titipan Allah senantiasa memberi bobot pada kualitas percakapan yang meyakinkan;bersifat menyembuhkan; memberi pengharapan; berdimensi antisipasi masa depan, mengembang hingga menyerupai sebuah percakapn pemberitaan firman.
Allah tidak saja membekali anda dengan menaruh sesuatu pada lidah/alat kecap bahasa anda, namun memberi anda “Tongkat” yang dapat mengubah sebuah kayu keras menjadi bentuk baru yang memiliki pesona penggugah.Mungkin bagi anda Allah tidak memberikan anda “tongkat” dalam wujud sesungguhnya, namun anda mendapat “tongkat lainnya” seperti kecakapan-kecakapan khusus yang bersumber dari penggunaan pena, palu dan paha, kuas,dll.Apapun tongkat ditangan anda sesuatu yang baru penuh daya pengubah siap merubah dunia anda, kepercayaan diri anda, sekaligus mengubah keyakinan-keyakinan seseorang pada anda.
Percayalah pada diri anda sebab Allah percaya pada anda!
Begitu juga penekanan Robert Schuller menjadi strategis “PERCAYALAH PADA ALLAH YANG PERCAYA PADA ANDA”


Yogja 13 desember 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar