Rabu, 16 Desember 2009

“KOIN NATAL”

By Bartholomius Padatu

KOIN sebagai salah satu alat bayar publik sebagai satuan mata uang terkecil sedang booming pencitraan terkait kasus perseteruan hukum anatar sebuah Rs INTERNASIONAL dengan Prita. Tuntutan ganti rugi Rp.204 juta dianggap pantas mengganjar kebebasan berpendapat Prita sebagai pasien yang mengeluhkan “mall layanan publik” di ruang maya (internet).
Sayangnya kalkulasi pihak penuntut menjadi bumerang yang melesat dengan kecepatan tinggi menghantam balik serangan hukum Rs INTERNASIONAL.Ironisnya perlawanan balikan pihak Prita tidak datang dari tuntutan balik melalui parade hukum, namun melalui parade perlawanan publik dengan senjata KOIN receh.Jangkauan derma coin dari seluruh penjuru nusantara meramaikan parade perlawanan publik.Berton-ton berat koin merupakan akumulasi dari lempengan koin-koin ringan pada mulanya, namun mengeskalasi kuantitas koin yang spektakuler.
Saya harus merem diri untuk tidak melangkah masuk untuk melakukan serangan kepada satu pihak.Ruang hukum,saya kira, dapat memediasi keduabelah pihak untuk masing-masing mencari titik-titik kesepakatan untuk kebaikan bersama.Niatan tulisan ini ingin merefleksikan perjalanan KOIN dalam teks-teks kitab suci dan sedekat mungkin membenangmerahkan dengan fenomena NATAL.Paling tidak peristiwa Natal sesungguhnya dapat memunculkan perspektif “berbagi.”Kehadiran ICON KASIH di hari NATAL terwakili dengan kehadiran seorang tokoh legendaris yang tidak pernah absen dihari NATAL menjadi salah satu bagian yang ingin dimaknai,disamping fenomena-fenomea lainnya.
Santerklas datang……merupakan tokoh dermawan yang senantiasa dinantikan untuk sebuah tujuan tunggal yakni menerima “Kado” NATAL.Kita tidak pernah pasti mengetahui Pria satu ini, apakah ia termasuk orang kaya, berkelebihan harta benda, senantiasa surplus dalam bisnis. Semua orang tidak pernah tertarik dengan latarbelakang Santerklas.Tujuan kehadirannya sangat jelas yakni “berbagi sesuatu.”Sisi menarik dari acara serah kado tersebut adalah masing-masing orang menerima kado yang sesuai dengan harapan.Tidak pernah tergambarkan adanya kado kembar bagi si penerima.Sekali lagi masing-masing penerima, mendapat bungkusan kado sejalan dengan mimpi, kerinduan, kemanfaatan.Tidak ada kado salah alamat.Semua diantar , tidak ada yang tercecer, tertukar.Penundaan tidak terjadi,pembatalanpun tidak.Tidak ada paket hantaran yang dibuka ditengah jalan, terlebih hilang dicuri.Ending Santerklass adalah paket diantar,penerima kado menikmati isi paket.
NATAL dalam potret lain dipahami sebagai pristiwa sakral lahirnya “Bayi Mesias” Sebuah Kado yang di hantar langsung oleh Sang Bapa ke dunia ini. Keberadaan Bayi Yesus sebagai manusia merupakan Bungkus yang melingkupi “Kasih Agung.”
Dalam perjalanan pembagian Kado “KASIH” Yesus secara perlahan berbagi kasih kepada manusia dalam bentuk “KOIN.” Ia tidak melakukan pemborosan Kasih kepada seseorang.Yesus menakar pemberian Kasihnya dalam bentuk pemberian “KOIN recehan.”Saya teringat dengan satu kisah yang pernah saya baca dan dakwakan.Pada suatu waktu karena suasana hujan maka kebaktian disebuah gereja tertentu sedikit dihadiri oleh umat.Pendeta yang mengetahui situasi yang tidak biasa, bercampur sedih, marah dan putus asa menawarkan kepada umat untuk menunda kebaktian minggu depan dengan alasan sedikitnya jumlah.Namun umat menolak dan meminta sang pendeta menyelenggarakan ibadah selayaknya.Merasa ditolak sang pendeta menawarkan untuk mempersingkat khotbah,”bagaimana kalau khotbahnya singkat saja?” Umat (yang umumnya peternak) menjawab dengan ilustrasi bahwa kalau hewan ternaknya masuk kekandang dan meminta makan, maka sang peternak hanya memberi makan yang cukup untuk satu dua hewan dan tidak menambah jumlah atau menguranginya.
Cerita sang pendeta dan umat (peternak) menggambarkan bahwa ritme pemberian kasih Yesus merupakan paketan “KOIN” Yesus akan memberikan kasihnya berdasarkan ukuran-ukuran kecil yang dianggap memadai untuk sebuah maksud pertolongan. Kita dapat kembali diingatkan dengan penggambaran perjuangan seorang ibu yang meyakini adanya kuasa “KOIN” (dalam bahasa kitab suci remah-remah)yang tersisa baginya setelah jamuan “Uang besar.” Kuasa takaran “KOIN” bagi sang ibu tersebut merupakan segala-galanya bagi anaknya.Yesuspun pada akhirnya tidak memberikan sajian utama bagi ibu tersebut melainkan Kuasa “KOIN”. Kemiripan penggunaan uang receh Yesus dapat kita temukan pada permohonan “KOIN” sang perwira bagi bawahannya yang sakit. Yesus dalam cerita tersebut menyetujui permintaan kuasa “KOIN”.
Yesus sesungguhnya menemukan adanya penggunaan kuasa “KOIN” yang dilakukan oleh seorang Samaria Kafir baik hati yang merelakan KOIN-KOIN Kekayaannya (bukan uang namun kepedulian bela hatinya),tepatnya sebut saja “KOIN HATI”.Lukas 10:33,” Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ketempat itu, tergeraklah hatinya oleh belas Kasihan.” Kepingan koin hati samaria berbentuk balutan luka-luka, siraman minyak dan anggur, tunggangan transportasi, penginapan, perawatan dan melengkapinya dengan KOIN dua dinar dan janji mencukupi (Lks 10:34,35).Nilai satuan dinar untuk abad sekarang jika diubah dalam satuan mata uang amerika sebesar 16 sen, untuk Indonesia 360 rupiah (kurs 1$=2.250).
Dua perumpamaan tentang koin janda yang hilang serta koin persembahan seorang ibu tua yang diceritakan Yesus dalam kitab-kitab Injil menunjukkan adanya Citra positif bernilai tinggi yang diapresiasi Yesus. Cerita pertama terjadi pada saat seorang perempuan (tergolong miskin 1 dirham=360 rupiah kurs 2.250/1$) kehilangan salah satu Koin dirham (dari sepuluh dirham)kesayangannya dan bertekat menemukannya karena ia tidak ingin salah satu koinnya hilang tanpa arti.bahkan nilai Koin dirhamnya melampaui biaya perayaan penemuannya (Lukas 15:8-10).Dua peser sama dengan satu duit (recehan roma terkecil) adalah jumlah persembahan seorang janda miskin (Markus 12:42).Pemberian janda miskin tersebut menarik bagi Yesus untuk mengukuhkan atau menetapkan suatu ukuran kelayakan sebuah pemberian persembahan.Melihat pemandangan tersebut Yesus memanggil murid-muridnya dan memberitahu tentang nilai sesungguhnya dari persembahan sang janda (Markus 12:43).
Walaupun dalam rupa makanan 7 potong roti dan beberapa ekor ikan kecil (baca:KOIN) Yesus menjadikan Koin-koin tersebut memecah hingga melebihi kebutuhan makan siang empat ribu orang (Matius 15:34).Potongan Roti dan ikan-ikan kecil tesebut(Koin) telah menjadi alat ungkapan belas kasih Yesus yang berasal dari sepotong hati yang memahami derita orang kelaparan.
Kitab Suci (Alkitab) memiliki banyak potongan atau Koin-koin Kasih yang tersebar dalam berbagai peristiwa sosial, ekonomi, politik pada masa itu.Jika dikumpulkan tentunya teramat banyak dan dapat melebihi “kumpulan koin Prita.”
Prita dengan Koin peduli kasih keadilan merupakan salah satu mata Koin terkecil dari derita kaum terpinggir,lemah,dimarginalkan secara hukum.Begitu juga ada banyak koin-koin lainnya yang dapat menceritakan kepada kita betapa berharganya lempengan-lempengan koin kasih yang diberikan oleh orang-orang tanpa mengenal lintas batas keyakinan keagamaan, beramai-ramai menyodorkan kepingan demi kepengan Koin kasih mereka, bisa jadi dari milik terakhir yang sesungguhnya sangat bermanfaat dibelanjakan bagi keluarga mereka.
Perayaan-demi perayaan kemenangan Koin kasih silih berganti ditunjukkan kepada kita di media massa dan elektronik; seorang penjual rujak dengan keuntungan Rp.25.000 disisihkan untuk memperkuat nilai Koin Prita. Jajanan murit TK,SD, Celengan kesayangan, dan banyak lagi rupa-rupa koin kasih diserahkan kepada Prita untuk satu juan “Memberi, berbagi kasih”
Koin-koin bagi Prita jika dikupas maknanya lebih mendalam dapat diketemukan nilai Kasih yang dapat membebaskan seseorang yang terhimpit duka berbagai ketidakadilan.Koin-koin tersebut menjelma menjadi sebuah kekuatan yang memberi nilai hidup.Koin tersebut menjadi penunjuk tanda kehidupan yang membalut keperihan dihati para korban, meneteskan air mata keharuan yang telah lama terpendam dan tidak terpublikasikan. Koin-koin penderma tersebut telah memerahkan kembali wajah manusia-manusia yang pucat karena darah mereka dihisap oleh sesamanya yang telah berubah wujud menjadi vampire-vampir setengah manusia.Koin-koin “Para samaria” telah menyerbu kekosongan ruang-ruang bela rasa yang dihimpit oleh perlombaan menghidupi diri sendiri.Keagamaan yang kehilangan peta kontekstualisasi, sesat dalam arah dogmatika kadaluarsa.Dakwa-dakwa opurtunis, setengah hati, Dakwa-dakwa yang di produksi dari pikiran malas. Koin-koin yang dikumpulkan untuk kemudian digandakan dalam ruang-ruang perbankan tanpa visi yang jelas.
Kini Natal telah berdenting dipintu-pintu hati umat yang merayakannya.Suara apakah yang paling nyaring terdengar?Mungkin kita berpendapat suara lonceng natal Telah berdenting.Mungkin bagi sebagian orang demikianlah adanya. Tetapi bagi “Prita” Loncenga Natal tiada terdengar,jika terdengar sayup dan menyebar tipis dan kemudian hilang. Di Labirin telinga “Prita” gemerincingan Koin-koin “Samaria” nyaring terdengar.Gemerincing koin-koin tersebut merupakan lagu baru, nyanyian terbaru yang dapat menghidupkan makna Natal bagi peraya-nya.
Tebaklah apa modifikasi kado yang Sinterklass bawakan kepada sang penerima? Saya kira “KOIN” Natal bagi kita sesungguhnya merupakan momentum pemberdayaan “Bela Kasih” sebuah agenda kemanusiaan yang dapat diserahkan kepada mereka-mereka yang telah di rampas “Koin terakhirnya”
Apakah wujud pecahan koin-koin “Prita”? Koin-Koin kasih dapat memecah diri kedalam banyak bentuk.Semisal sekian CC darah anda yang sangat dibutuhkan mereka-mereka yang setiap waktu harus berjuang dengan proses Hemodialisa (cuci darah),Koin kasih anda (Koin Natal) dapat dipecahkan bagi anak-anak yatim-piatu yang menunggu sebuah kado Natal baju baru yang telah ditunggunya dalam 2 atau 3 tahun terakhir.Koin Natal anda dapat berbentuk sepotong kata pengampunan dari anggota keluarga, teman yang tersiksa karena buah kasih mereka anda tolak hanya karena sempitnya cara berpikir anda.Koin Natal anda adalah koin-koin recehan yang anda sebarkan sepanjang tahun bagi komunitas sahabat-sahabat pengamen, lampu merah.Kunjungan anda kepada seseorang yang terbaring di rumah sakit, panti jompo tanpa teman atau pengunjung baru yang membawakan senyuman baru, cerita baru bahkan “sebungkus coklat” bagi mereka.Perhatian anda pada putra-putri anda yang selama ini bangga membungakan sebutan papah dan mamah sementara bagi diri mereka sendiri tangan-tangan kasih orang tuanya membelai “seseorang” yang sesungguhnya telah merampok kesatuan rumah tangga dapat menjadi koin-koin yang memanggil pulang rangkulan tangan anda pada mereka.Koin-koin Kasih Natal anda dapat memakai kesopanan sebagai wujud perhatian anda pada keberhargaan seseorang dimata anda.
Di ujung tulisan ini Anda sangat memahami koin-koin yang anda miliki dan kepada siapa saja koin-koin tersebut hendak anda bagikan.Prinsipnya koin-koin Natal anda memiliki “nilai” yang tidak dapat dibenam oleh kekuatan perusak (kejahatan).Koin-koin Natal anda adalah Jiwa kebenaran yang bergemerincing amat lembut namun menghujam pada telinga-telinga yang selama ini dibuat tuli.Koin-Koin Natal anda akan menjadi koin yang memiliki “Ruh” yang sangguf menafasi perjuangan-perjuangan yang telah ditekatkan sebagai “Gaya Hidup” orang ber-Tuhankan “Koin(kasih)” bukan “Koin (Ketamakan/kejahatan).
Padukanlah dentingan lonceng Natal dan gemerincing Koin-koin Kasih anda sebagai sebuah persembahan berjumlah kecil namun bernilai tinggi dimata TUHAN(anda dapat membawa koin-koin anda kedalam kantong persembahan).Temukanlah Koin-koin anda.Pesannya:Persembahkan Kasih anda walaupun hanya senilai Koin terkecil milik anda.Jadilah sinterklass yang membagikan Koin-koin Natal.Selamat Natal Tuhan Yesus Memberkati anda.


Yogya 15 Desember 2009
Salam.Kel.Bartholomius Padatu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar