Pelayan pembelajar
By. BL Padatu
Sebuah Nasehat popular bagi kebanyakan umat yang sedang menanti-nanti sosok pendeta atau pelayan baru ketika musim mutasi atau pergantian periodesasi pelayan sedang beralur, “mintalah Tuhan dalam doa anda untuk mengirimkan, memilih, menetapkan seorang pelayan yang memiliki kegemaran membaca buku”!
Nasihat seperti ini sesungguhnya sedang menarik suatu ekspektasi umat yang merasakan mahapentingnya seorang pelayan yang memiliki Hoby membaca buku sebagai sebuah instrument pembaharuan, penyegaran pelayanan. Esensi yang dapat ditangkap sesungguhnya bukanlah semata-mata seorang pelayan yang sedang membaca sebuah benda yang bernama “Buku”, lebih dari itu sebuah aktivitas sehat yang memungkinkan seorang pelayan to be thingker, reflector, motivator segar yang giat menimba resources informative guna membangun fondasi kuat serta citra rasa yang teridentifikasi sebagai “Menu segar”, profetik sekaligus sanggup membaca dan masuk kedalam ruang budaya kekinian dimana umat bereksistenti.
Terlepas dari kecurigaan bahwa proses pembelajaran berkelanjutan bagi seorang pelayan sebagai sebuah upaya yang menyepelekan peran roh kudus yang sanggup memperlengkapi seorang pelayan dalam segala hal, perlulah kita merefleksikan ajakan menjadi pelayan pembelajar yang memasukkan “kegiatan membaca banyak buku, sumber-sumber informasi lainnya” sebagai sebuah aktivitas yang tidak terlepas dari lingkar jangkauan “Roh Kudus”. Roh Kudus dapat memberkati informasi yang berhasil digali dan ditemukan seorang pelayan pembelajar untuk membangun perspektif dalam ruang pikir umat dan menjadi “trigger” yang memicu ide-ide perubahan bagi pertumbuhan keimanan umat.
Pelayan yang belajar adalah pelayan yang menyadari adanya ragam karunia atau talenta yang memerlukan semacam “material” pematangan atau pupuk. Materi-materi informative tersebut berfungsi sebagai anasir sistemik, katalisator yang membangunkan dan mensintesiskan instrument baru yang jauh lebih potensial sebagai “penghancur” batu-batu cadas kebebalan, kokohnya pegangan prinsip-prinsip kadarluarsa. Instrumen baru tersebut dapat mewujud sebagai “mata pisau bedah yang ketajamannya sanggup membedah, mengeluarkan sebuah penyakit dari tubuh rohani seseorang dengan lebih halus, cepat dan nyaris tanpa rasa sakit permanen.
Paulus sebagai seorang pembelajar sejati mampu mendobrak dinding penjara untuk memasukkan buku-buku masternya untuk menjadi teman pembangun diri dalam kakunya ruang penjara. Ia menulis kepada muridnya untuk segera mengirimkan ia buku-bukunya. Billy Graham sendiri dalam pidatonya dihadapan ribuan pendeta membagi pesan yang menyentak dan menimbulkan keheranan, takjub dari seorang yang telah diakui sebagai Hamba Tuhan yang paling fenomenal di abad 21. Sebagai Hamba Tuhan yang tidak diragui lagi eksistensi Urapan Tuhan dalam rentang pelayanannya. Seorang Tuhan yang telah membukukan banyak “Penyertaan Allah bagi Bangsanya dan Negaranya serta meluas pada warga Dunia”, ia menyatakan kerinduan dalam nada datar penyesalannya serta harapan jika Ia diberi lagi kesempatan untuk berkarier dalam karya profetik ia mendaftar 2 hal yang paling mendapat perhatiannya yakni menjadi Hamba Tuhan Yang berdoa, dan Hamba Tuhan yang Membaca” Ia mengakui bahwa selama ini Ia telah banyak berkhotbah, namun terlampau sedikit membaca. Tegasnya ia berkehendak untuk mempertukarkan skala perioritas dari banyak berkhotbah menjadi banyak membaca dan berkhotbah secara seimbang.
Suka atau tidak seorang pelayan yang belajar merupakan sosok yang menempati panggung kepemimpinan dengan bidang beban tanggungjawab yang Maha berat. Ia senantiasa menjadi sosok yang akan memaparkan sasaran dan tujuan sebuah perjalanan Umat yang digerakkan oleh misi dan visi yang sehat, kreatif, inovatif. Dalam bingkai kepemimpinan, pelayan pembelajar dituntut bekerja dalam konteks efisien dan efektif, berkeadilan. Seseorang tidak akan dapat efektif dan efisien serta berkeadilan dengan basic knowledge yang minim, rata-rata. Seorang tidak dapat berjalan jauh melampaui limit pengetahuaannya. Seorang dengan resources knowledge yang terbatas akan berjalan secara penuh dalam garis edar batas pengetahuannya semata. Batu jarak atau Kilometer stone pengetahuannya akan menjadi penanda batasan yang dapat dibaca jauhnya rentangan pengetahuannya.
Boby Candra menulis sebuah buku berjudul “Bahan Bakar sang Pemimpin” Proses melahap buku menjadi sebuah aktivitas mengincrease bahan bakar pemimpin untuk dapat memanjangkan dimensi waktu, tenanga sang pemimpin. Perjalanan seorang pelayan yang adalah pemimpin adalah perjalanan berkaliber jarak jauh, jika diibaratkan dalam panggung atletik, ia adalah pelari jarak jauh yang membutuhkan energy besar untuk tiba pada garis finish. Salah satu cara memperoleh Energi seorang pelayan adalah “Belajar”
Seorang pelayan yang enggan dan tidak memiliki otot-otot belajar yang kuat akan membawa umat mendengarkan sebuah khotbah yang bersumber dari teks atau bahan nas yang berbeda namun senantiasa terbahaskan dengan kemiripan yang nyaris serupa, cenderung terulang-ulang, dan gampang ditebak oleh umat, bahkan nyaris berdampak pada keterburu-buruan untuk menyudahi Khotbah dikarenakan tidak nyaman ketika disampaikan serta mengundang banyaknya jamur-jamur protes psykologis melalui gerakan-gerakan tubuh, nafas yang sangat mengganggu dll konsentrasi sang pelayan.
Menjadi seorang pelayan pembelajar adalah starting point yang penting menjadi seorang pelayan yang Baik, efektif,produktif. Calvin menulis, “Tidak seorangpun yang akan menjadi pelayan Firman Allah Yang baik tanpa lebih dulu menjadi seorang pembelajar yang baik. Superegon lebih tegas lagi mengatakan bahwa ia yang tidak lagi menabur dalam belajar takkan lagi menuai di atas mimbar. Philip Brooks 1877 dalam kesempatan sebuah kuliah mengutifkan satu rangkaian pesan yang mengagumkan dan tajam,”Hidup seorang pelayan haruslan menjadi seorang yang banyak mengumpulkan…berlatih belajar demi kebenaran, berlatih berpikir demi buah-buah yang lebat dan demi kegembiraan dalam berpikir itu sendiri, maka khotbahmu akan menjadi seperti semburan air segar suatu mata air, dan bukan seperti sebuah letusan yang keluar dari sebuah balon. Jhon stott dalam bukunya “The Living Church” menggarisbawahi bahwa sebuah khotbah yang baik adalah hasil dari suatu upaya eksegesis yang menajubkan. Usaha tafsir ini tentunya hanya dapat dilakukan oleh seorang pelayan dengan gelar berkaliber “Pembelajar”.
Penekanan-penekanan sejenis juga datang dari seorang pastur atau gembala Dr. sunday adeladja, seorang pria yang diurapi menjadi pelayan yang sangat diperhitungkan oleh pihak Pemerintah, salah satu pilar reformasi di ukraina yang menancapkan pengaruh kekristianian dalam pengambilan kebijakan-kebijakan birokrasi. Dalam perjalanan pelayanannya ia mengakui tidak dapat dipisahkan dari kokohnya ia meletakkan fondasi Intelektual sebagai bagian dari kokohnya design pelayanannya. Ia berhasil merohanikan hal tersebut dengan memberikan pengakuan bahwa menjadi pelayan pembelajar adalah sebuah proses real menajamkan anak panah yang siap tersimpan ditabung panah dan siap dipakai ditangan Allah. Secara radikal ia menegaskan bahwa pelayan yang tidak menyukai aktivitas belajar adalah “anak panah yang tumpul” yang tidak dapat berhadap-hadapan dengan misi memerangi kegelapan. Seorang pelayan membutuhkan Pengetahuan.Ia menyarankan segenap pelayan pembelajar untuk memaksa dirinya mempelajari banyak hal sebisa yang dilakukan.
Salomo dalam awal-awal kitabnya mengambarkan bahwa Allah membangun “semesta alam” dalam tiga bahan dasar yakni Himat sebagai fondasi, pengertian sebagai penegak, pengetahuan sebagai pengatur (Amsl 3:19-20). Totalitas diri seorang pelyan pembelajar haruslah merupakan integrasi ketiga unsur hakiki. Totalitas tersebut bukanlah sebagai sebuah kompilasi semata namun berupakan “In Part” yang tak terceraikan. Keutuhan pelayan pembelajar harus dapat mencapai kepemilikan Hikmat, pengertian dan Pengetahuan, tanpa mempertukarkannya atau memberi bobot lebih dan kurang. Totalitas integrasinya adalah totalitas proporsional.
Seorang pelayan pembelajar idealnya adalah seorang pembaca “Rakus”, seorang predator “Buku” bukan kutu buku yang oleh Taufiq Ismael, seorang pujangga Indonesia ,sekedar menggerogoti pinggiran buku. Seorang pelayan pembelajar adalah seorang kolektor informasi sekaligus reflector dan distributor. Seorang pelayan pembelajar akan memegang Firman Allah (Kitab) ditangan kanannya dan Buku-buku sekuler di tangan Kirinya. Ia senantiasa maju dalam dimensi profan dan dimensi sekuler.ia adalah seorang yang tidak gagap dengan hal “aktualitas”, ia adalah “Rekonstruktor” yang paham menarik benang merah kedahuluan dan kekinian tanpa mengaburkan salah satu dimensi tersebut.seorang pelayan adalah seorang yang sensitive, ia tidak rela tertinggal lokomotif informasi, ia sangat tidak menyukai dan membiarkan begitu saja fenomena yang khas tanpa sebuah eksplanasi yang memadai. Ia adalah peribadi yang senantiasa gelisah, pribadi yang senantiasa menaikat tingkatan lompatan yang terus meninggi hingga pada level kerumitan yang jelimet untuk diruntutjelaskan. Karena ia terus membackup dirinya dengan berbagai data-data informative yang tinggi nilai gizinya, ia senantiasa bergaul karib dengan pemikiran-pemikiran besar disegala jaman untuk menstimulus dirinya berperan sebagai pribadi yang adalah “Salah satu” dari Pribadi “salah satu lainnya”. Jika Hitler, lenin, stalin adalah pribadi “salah satu” yang dapat merubah jalannya sejarah kearah yang salah, maka pelayan pembelajar akan berupaya mati-matian mengkonstruk pribadi “salah satu” yang dapat mendrive jalannya arah sejarah kearah Yang benar yakni arah yang Allah inginkan.Pribadi pelayan pembelajar adalah pribadi pelayan yang “Siap” dijumpai oleh Kesempatan, membangun kesempatan untuk menjadi alat menyalakan api “Kemulian Tuhan”
Salam pelayan pembelajar , Tanah Grogot 26 jan 09
Tidak ada komentar:
Posting Komentar