Senin, 07 Desember 2009

Facebook: Restrukturisasi “Dakwah/khotbah”baru
By BL Padatu
Jejaring sosial maya yang berlabel “Face book” atau “Buku Wajah” telah melampaui maksud launchingnya.Jejaring tersebut tanpa sengaja menarik kepermukaan fungsi-fungsi yang awal mulanya berada diluar kotak prediksinya.FB tidak semata memiliki daya jelajah koneksi antar wajah di seluruh wilayah bersinyal, namun memiliki daya multiplikasi atau penggandaan fungsi (function multiflication).Orang bukan hanya dibuat puas dengan ruang perkawanan, sekedar meng-adds “some body”namun telah menjadikannya “instrumen pertukaran berdaya magnetik” yang sanggup membuat member-membernya menerima injeksi “pemaknaan hidup” tanpa limitasi.
Facebook telah bermetamorfosis dalam konstruk piramida terbalik yang semakin hari semakin mengalami perluasan komunitas, pelebaran contain, sehingga ia telah menjelma menjadi sebuah supra institusi yang tanpa sengaja mensubsistemkan institusi-institusi sebelumnya. Produk-produk dunia maya sebelumnya dipaksa takluk, bergabung atau disudahi, sehingga ruang facebook telah mengkristalkan pemain IT (industri teknologi) sebelumnya seperti Yahoo messenger (ditinggalkan);blog (digandeng),dll.
Bagaimana dengan nasip lembaga-lembaga lainnya? Seperti politik, budaya, keagamaan? Tentu institusi tersebut menerima benturan spektrum yang berbeda-beda.ada yang menghadang, ada yang adaptif menyesuaikan diri;tentu ada yang masih betah disimpang ambiguitasnya.
Bertemali dengan judul artikel ini, penulis mencoba untuk mendialektikakan fenomena FB dengan konstruk dinamika keagamaan di Indonesia (tanpa membatasinya pada komunitas relegius semata).Tidak dibutuhkan lagi apologasi ekstrim untuk melawan bukti-bukti pembenaran bahwa FB menjelma menjadi lembaga sosial yang cair,tidak mengenal antitesis konstruk nilai lembaga tertentu. Ia (FB) mengental menjadi instrumen sosial yang kebal terhadap propokasi “keagamaan minor”, sekaligus menjauhkan dirinya dari kanibalitas komunitas relegi, budaya, sosial,dll. Face book telah menjadikan konstituennya sebagai pribadi yang berkedaulatan; meminta akses pertemanan;menerima teman baru; membangun tembok resistensi pribadi destruktif, memfasilitasi ruang berbagi, dalam bahasa keagamaan mengandung “kemaslahatan atau berkat humanistis.”Hingga membagi sebagian potret kehidupan domestik (rumah tangga), komunitas tertentu, untuk didekatkan dalam konstruk kesadaran warga dunia.
Salah satu nilai pengaruh yang tampil secara spontan adalah menjamurnya “pendakwah-pendakwah/pengkhotbah” informal yang diproduksi dalam kondisi kerunyaman, keterbatasan,kemarahan bahkan kelangkaan “mutiara-mutiara dakwah/khotbah.” Face bookers, baik sengaja atau tidak telah menarik dirinya, idenya dari persembunyian terdalam.Seluruh hikmat, pengertian, pengetahuan yang berdimensi spiritual melumeri dinding-dinding face book.Setiap orang dapat bertukar posisi sebagai pendakwah/pengkhotbah atau umat.Tidak dibutuhkan investasi panjang nan jelimet untuk mengukuhkan diri atau dikukuhkan sebagai pribadi-pribadi yang peduli dengan kekacauan, dilema kehidupan sahabat-sahabatnya yang hampir putus asa karena mengecilnya ruang-ruang pengakuan dosa karena resourches pendakwah telah menjadi pribadi-pribadi langka.Dalam situasi tertentu sulit menemukan pendakwah-pendakwah/pengkhotbah-pengkhotbah berwawasan dan beres dengan amalan dakwanya. Lembaga-lembaga keagamaan merisaukan menipisnya SDM pendakwah/pengkhotbah karena kegagalan lembaga tempat dakwah yang dipaksa merestrukturisasi diri karena hantaman berbagai isu sosial, politik,dll,termasuk ketidakprosfesionalan lembaga penghasil pendakwah/pengkhotbah.
Face Book harus diakui telah membuat “insan agamis” bergerombol melompati dinding-dinding “rumah ibadah (agama)” mereka meskipun masih menyisakan pengikut-pengikut setia untuk bertahan dengan rekonstruksi sekaligus restrukturisasi peran,untuk menggelontorkan omelan, mendesahkan asa baru, menafasi kenarsisan,memuntahkan ide-ide yang mengalami peminggiran ruang muat media berkaliber nasional, menggunakan aji mumpung facebook sebagai “penghulu” perjodohan.Hingga keberfungsian yang menyuburkan idealisme-idealisme positif,bertukar tandingnya gagasan-gagasan konstruktif sambil sedikit menyentil, mereduksi gugusan ide-ide yang kehilangan titik keseimbangan pengagasannya.
Tidak sulit untuk mengobservasi kemunculan facebookers yang “berperan ganda” dalam komunitas masing-masing.Aneka kata mutiara, gugusan nasehat, kalimat-kalimat revolusioner meluncur deras berebutan merajai ruang teratas tampilan dinding-dinding facebooker.
Bisa jadi, Fakta yang sangat mengejutkan adalah ditemukannya kenyataan bahwa jauh lebih mudah menjumpai, menyelami gagasan pendakwa sejatinya (pendeta, ustad,pemimpin-pemimpin keagamaan) atau dilayani ketimbang harus memasuki ranah formal seperti rumah ibadah dengan bimbingan ritualisnya.Tidak dibutuhkan hari khusus untuk menanti beberan dakwah/khotbah syarat pesan, setiap harinya pesan-pesan yang tidak kalahberbobot sesak diruang publik Facebooker.
Dalam kasus lainnya, kita dihentak oleh kenyataan yang harus diakui kelincahan-kelincahan facebookers yang dapat dipredikatin pendakwah informal, yang berkemampuan meramu pesan-pesan keagamaannya menyerupai atau sama bentuknya dengan sebuah dakwah atau khotbah formal,jika tidak mau disebut melampaui pendakwah/pengkhotbah informal (karena menyangkut legitimasi Ilahi).
Suka atau tidak, sadar atau tidak, harus atau tidak pertukaran pesan di ruang facebook dapat dilihat sebagai sebuah konstruk fenomena sosial yang dari substansinya perlu untuk menjadi cermin bening melihat berbagai kemungkinan;misalnya diantara para facebookers khususnya pendakwah/pengkhotbah informal merupakan sumber daya Manusia yang gagal direkruit lembaga-lembaga produksi pendakwah/pengkhotbah dikarenakan gagalnya design mesin produksi kelembagannya. Fenomena terseut juga dapat membentuk dirinya sebagai lembaga informal yang menyentil kelemahan-kelemahan konsep-konsep yang didakwakan atau sebuah sikutan halus untuk mendepak pendakwah/pengkhotbah yang senantiasa merasa aman dengan legatitas formil tanpa terusik dengan keharusan-keharusan menginovasi diri kearah pembobotan peran yang lebih berdaya. Karenanya pesan Gede Prama dalam bukunya “INOVASI ATAU MATI” menjadi relevan untuk menginkubasi transformasi kelembagaan keagamaan khususnya dalam upaya memperkuat tulang dakwah/khotbah mereka. Salam.

Catatan: Surabaya 7 desember 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar