OTORITAS POSISI VERSUS OTORITAS FUNGSI;
Refleksi Teologis dua sisi mata Uang Kepemimpinan
By. BL. Padatu
Kepemimpinan merupakan penamaan sistematis terhadap peran dan tanggung jawab seseorang dalam struktur kelembagaan sebuah organisasi yang dapat dianggap memegang kunci kendali kesuksesan.
Pada satu sisi lingkungan kemanagerialan mendaulat sebuah kebenaran yang tidak dapat dipatahkan , bahwasanya kepemimpinan merupakan unsur penting indikator kemajuan atau keberhasilan sebuah lembaga atau organisasi (tak tertinggal Institusi Gereja di dalamnya).
Di sisi lain, peran kepemimpinan dapat menciptakan sisi gelap dari sebuah perjalanan mencapai tujuan.
Peran kepemimpinan seseorang dalam keorganisasiannya terikat dari dua aspek yang tidak terlepas satu dengan lainnya sekaligus saling mempengaruhi kedua-duannya. Aspek dimaksud adalah otoritas posisi dan otoritas fungsi.
Otoritas posisi dan otoritas fungsi merupakan dua item dasar yang membelah peta permasalahan dalam arus kepemimpinan dalam unit-unit kelembagaan maupun organisasi.Banyak pakar kepemimpinan meletakkan keyakinan yang kuat terhadap sumber masalah yang terjadi dalam kerangka kerja kepemimpinan. Kiblat kepemimpinan selalu menyoal peran faktual seorang pemimpin dalam menstruktur kebijakan dan kekuasaan yang melekat dengan hak kepejabatannya.
A. Sebuah sisi kepemimpinan yang diperdebatkan
Seiring waktu dan aplikasi peran kepemimpinan para pemimpin diberbagai kelembagaan dan organisasi telah membawa sebuah wilayah debat baru tentang aplikasi otoritas posisi dan otoritas fungsi.
Fakta kontemporer telah menarik sebuah hipotesa argumentatif bahwa efektifitas kepemimpinan telah diracuni oleh jangkauan tidak seimbang dari peran otoritas posisi yang distandarkan oleh pemimpin. Dan hal ini secara terbuka dipraanggapkan sebagai penyalagunaan bahkan sampai pada pelanggaran kode etik kepemimpinan profesional.
Orang tidak mengikuti seseorang karena gengsi sosial (kedudukan atau posisi) seorang pemimpin, tetapi karena kinerja profesional sang pemimpin yang diarahkan pada upaya menciptakan dan memelihara sebuah kelompok yang mendapatkan perhatian dan kebutuhan yang sama.
Sebuah rangkaian implementasi kepemimpinan dari penonjolan otoritas posisi hanya mendatangkan penyataan “Manipulasi” bukan “Motivasi”
Gereja dalam wacana kelembagaan atau keorganisasiannya, juga mengalami ketidak beruntungan dengan adanya issue kepemimpinan dengan pengedepanan otoritas posisi dalam paradigma kepemimpinannya. Dan hal yang dapat dibingkai manis sebagai ironinya praktek kepemimpinan gerejawi adalah Gereja yang mengosongkan diri bukan lagi dimengerti sebagai gereja yang rendah hati, gereja yang dirindukan, tetapi gereja yang Kosong alias ditinggalkan oleh umatnya. Apakah gereja ini mengalami kekosongan kepemimpinan ?
Gereja bukanlah sebuah institusi yang mengalami kekurangan pemimpin dari aspek kuantitasnya. Tak terhitung banyaknya institusi pendidikan tenaga pemimpin gerejawi. Dan ini juga didukung dengan antusiasme minat para calon-calon pemimpin Gerejawi yang bertebaran dipersada Nusantara kita.
Kontroversi keyakinan aplikatif baik terhadap defenisi kepemimpinan maupun aktualisasi peran kepemimpinan yang kehilangan daya seimbangnya, yakni antara sumber daya kepemimpinan yang berasal dari otoritas Posisi dengan Otorisas Fungsi.
Dalam tulisan ini, saya lebih suka mengkondisikan dua item sumber daya kepemimpinan ini sebagai “Dua sisi Mata Uang Kepemimpinan”, suatu istilah yang mirip dan khas milik Joyce Meyer dengan “Visi sebagai mata Uangnya Kepemimpinan”, namun berbeda makna dan pemakaiannya dengan tulisan ini.
Tulisan ini merupakan kebun makna yang digagas dalam rangka turut meragamkan wacana replektif, suatu niatan dalam upaya memantapkan study kepemimpinan yang etikal dan propesional dalam harapan pemenuhan dini dari kerangka tekstual Injil Lukas 13: 29,tentang berbondong-bondong orang yang datang duduk, minum dan makan dalam satu persekutuan dalam kerajaan Allah, yang telah bergerak secara progresif diwaktu sekarang.
B. Otoritas sebagai Konsep Kekuasaan
Definisi Otoritas adalah kekuasaan yang diberikan kepada lembaga dalam masyarakat yang memungkinkan para pejabatnya menjalankan fungsinya. Otoritas dapat berarti pula hak untuk bertindak, hak melakukan tindakan atau hak membuat peraturan untuk memerintah orang lain. Otoritas dapat didefinisikan pula sebagai Pengaruh yang melekat pada dirinya dalam kapasitas jabatannya.
Keragaman definisi otoritas demikian telah membawa kita pada pemetaan makro prihal modul-modul kepemimpinan yang berbasis pada jangkauan kewenangan, hak kepejabatan atau hak posisi
Pada kebanyakan kasus,disadari atau tidak, substansi definisi tersebut lebih banyak terbaca secara parsial hanya sebagai pendeskripsian wilayah otoritas posisi.
C. Otoritas posisi versus otoritas fungsi; dua sisi mata uang kepemimpinan
Pemimpin tidak dapat melepaskan atau mengabaikan salah satu dari sisi mata uang kepemimpinannya. Ia tdk dapat mengabaikan posisinya dan menajamkan fungsinya semata. Sebaliknya Ia tidak dapat menajamkan posisinya dan lemah dari sisi fungsinya.
1. Kritik peran Otoritas Posisi
Jhon Maxwell, salah seorang yang digelari resi kepemimpinan abad ini dalam bukunya “The 21 Irrefutabl Law of Leadership”, menuturkan aspek kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan Orang bukan kepemimpinan Posisi. Ia menuturkan keyakinannya bahwa kepemimpinan posisi mungkin mendatangkan rasa hormat tetapi miskin kepatuhan.
Otoritasi Posisi, dalam konsep tunggalnya, menjadikan manusia sebagai mesin yang mengusahakan pembudidayaan kekuasaan sebagai ikon legalitas kepemimpinan. Sehingga efektivitas pembenarannya selalu diproduksi dari bangku kekuasaan sebuah posisi, bukan pada berfungsi tidaknya sesuatu dalam lingkup organisasi.
D. Paradoks Otoritas kepemimpinan Gerejawi
Howard snyder menulis, “Gereja adalah sebuah teokrasi (yang diperintah Oleh Tuhan) bukan demokrasi. Tetapi ini bukan teokrasi hirarkis yang mengikuti susunan mulai dari Tuhan lalu turun kepada orang awam. Sebaliknya ini merupakan sebuah keluarga di mana Tuhan yang menjadi puncak pemerintah, tetapi dengan berbaik hati dan penuh kasih dalam suatu cara yang membangun dan meneguhkan setiap anggota keluarga serta membuat hierarki tidak berguna.
Buah pikir Howard snyder ini menawarkan sebuah penegasan yang tidak terbantahkan lagi, dimana Ia mempertentangkan konsep hirarkis Tuhan dengan Hirarkis Manusia. Konsespi integrasi kehirarkian Tuhan terputus garis hubungnya dengan manusia. Manusia tidak mendapat peran mengejawantahkan konsep kehirarkian dalam kerja pelayanannya.
Hal lain yang menarik dari paradok kehirarkian Tuhan adalah lenyapnya konsepsi kehirarkian Tuhan dalam hubungan yang sebenarnya dengan manusia. Kongkritnya dapat dibahasakan Kehirarkian Tuhan bukanlah soal Kedudukan atau posisi tetapi pada perananNya.
A. Otoritas Sebagai Anak Panah Kepemimpinan
1. Seorang Pemimpin sedari awalnya memiliki ketajaman yang diberikan kepada seseorang.
2. Ketidak seimbangan peran kedua sisi mata uang kepemimpinannya berakibat pada terjadinya penumpulan.
3. Otoritas posisi yang tidak dibarengi otoritas fungsional, berakibat pada pembalikan arah mata panah kepemimpinan, bahkan cenderung menembak diri sendiri. Otoritas kepemimpinan seseorang seharusnya melesat keluar dari diri seseorang menuju kepada Tujuan bersama atau tujuan organisasi.Seorang pemanah sedari awal memfokus panahannya pada sesuatu yang dia sadari benar berada diluar dirinya.
B. Otoritas dalam Inherenitas berimbang; melahirkan Transforming Leadersip
Kepemimpinan dalam arti penuh tidak saja memegang posisi tetapi kekuasaan dan kekuasaan tersebut terbaca sebagai peran potensi kepemimpinan yang terfungsikan.
C. Refleksi Teologis dua mata uang kepemimpinan.
1. Otoritas Ilahi adalah otoritas yang digerakkan dari kerja Iman
2. Otoritas Diri sebagai personifikasi dari kekuatan Ilahi
3. Otoritas diri yang dikosongkan; kepemimpinan Yesus adalah kepemimpinan yang mengeluarkan potensi kediriaannya menjadi bukti faktual yang dilandasi atas penghormatan hidup orang lain, bukan penghormatan atas dirinya.
Best my regard
Tidak ada komentar:
Posting Komentar