Minggu, 31 Januari 2010

“Pastorku SANG PEMIJAT”

Oleh: Bartholomius Padatu

Pijat atau pijit yang pasti bukan dalam arti lain yakni kutu busuk, kepiding atau bangsat, dapat dimengerti sebagai pekerjaan menekan dengan jari; memencet; mengurut bagian tertentu dari anatomi tubuh untuk tujuan pelemasan otot hingga berfungsinya kembali siklus peredaran darah.
Dalam eforia sempit nan liar pijat kadangkala dikerangkai sebagai aktivitas yang bergesek tipis dengan kemesuman.Sebuah praktek memijat yang dimanipulasi, dikamuplase untuk tujuan amoral.Karena tipisnya wilayah definisinya maka tidak mengherankan banyak orang agak merem penggunaan kata pijak diforum-forum publik.Takut diganjar interprestasi keliru.Menghindar dari jebakan keseronokan berbahasa.
Tentunya masih banyak pribadi-pribadi jernih yang memiliki kemampuan menetralkan, memiliki kesanggupan melokalisir penggunaan interpretatif kata pijat pada porsi yang molek, bersahaja, elegan, berdaya guna memberikan pengertian singkat, padat dan tepat. Dalam batasan-batasan pengertian sedemikianlah uraian rentang, bentang gagasan tulisan “Pastorku” Sang PEMIJAT saya tuliskan sebagai cermin bening reflektif catatan perjalanan sebuah pribadi yang dalam dirinya tersemat semangat pelayanan seorang hamba Tuhan. Beberapa hal akan disusupkan baik secara transparan dalam kebeningan niat tulus berbagi perspektif maupun susupan-susupan yang di cantelkan sebagai boncengan kegelian-kegelian bernuansa kritik,jentikan,bahkan menggelitik demi sebuah inkrementalitas citra kepelayanan seorang hamba Tuhan yang lebih “dipenuhi kuasaNya.” Untuk maksud sisipan-sisipan yang berupa puzzel-puzzel penulis berharap hal ini memberi makna ada banyak hal yang sesungguhnya ingin dikatakan komunitas bangku jemaat mungkin karna ragam anutan etika ketimuran yang ketat sungkan untuk dipublikasikan secara terbuka.Karenanya tulisan ini paling tidak menjadi “sebuah kolam Betesda” dimana ketika airnya bergoncang(baca:kata-kata yang ditutur-tuturkan) dan seseorang pastor (pelayan) masuk mandi didalamnya(membacanya) ia akan keluar dengan nilai pribadi pelayan yang baru, segar, dan disertai oleh kuasa Allah. Umatpun dapat mengambil posisi dan manfaat yang sama terhadap tulisan ini.
“Pastorku” Sang Pemijat (ala pijat refleksi) adalah kristalisasi potret aktivitas nan mulia dari sebuah komunitas calon pastor di Yogja, disebuah Kabupaten Sleman yang mendarma-ekstrakan waktu, enerji, pengetahuannya untuk menolong umat dan masyarakat yang bermasalah dengan kesehatan melalui praktek kesehatan Pijat Refleksi. Banyak umat dan masyarakat menaruh harapan dan kepercayaan yang ekstra, tangan-tangan hamba Tuhan tersebut merupakan nilai lebih yang dipercayai jauh mujarab,manjur, berdaya sembuh yang spektakuler.Tangan-tangan calon hamba Tuhan tersebut dipandang dalam bingkai yang lebih relegius sebagai tangan-tangan Tuhan yang besar dayanya.Dipijat oleh calon Pastor memiliki pengertian sama dipijat oleh TUHAN.
Baik calon pastor maupun pasien pijat sama-sama dipertemukan dalam keyakinan yang sama bahwa pelayan yang melayani dan pasien yang percaya pada pelayanan tersebut akan mendorong terciptanya aura kesembuhan yang segera. Aktivitas plus yang tentunya dapat umat atau masyarakat manfaatkan adalah tuturan obrolan ringan yang mengarah pada terbukanya pintu-pintu konseling problem solver atau mulai yang paling ringan namun berjangkau kemasa depan yakni terbangunnya keakraban, persaudaraan yang ditopang oleh nilai-nilai humanisme dimana tangan-tangan sang calon hamba Tuhan (sebut saja Hamba Tuhan) memediai pengukuhan persahabatan tersebut.
Dalam suasana ruang yang terbuka, sederhana, dan dalam barisan-barisan memanjang pada masing-masing bangku umat,masyarakat dilayani. Umat dan masyarakat (pasien) menyodorkan telapak kaki.Pijatan telapak kaki pasien merupakan ruanglingkup indentifikasi penyakit sekaligus titik-titik terapis. Menurut sang pemijat, membaca dan menterapi penyakit hanya dilakukan dibawa telapak kaki dikarenakan seluruh titik-titik sayaf kaki berhubungan dengan keseluruhan syaraf-syaraf anggota tubuh sehingga tidak memerlukan sentuhan komprehensif atau menyeluruh.
Diruang tersebut anda cukup diminta membawa minyak pelumas semua jenis minyak rambut, lotion yang sifatnya dapat melicinkan pijatan. Anda diminta selama pijatan berlangsung tidak perlu memikirkan berapa tarif yang dimintakan. Sistem persembahan atau kolekte diberlakukan dan tidak menutup kemungkinan anda dapat keluar bebas tanpa harus mencelupkan rupa-rupa amplop persembahan.Prinsipnya anda sembuh, persaudaraan terbina dan pengalaman tersebut menjadi buku terbuka untuk mengenal lebih jauh perluasan aktivitas ladang tuaian.
Harapan lembaga (seminari) yang membina calon-calon pastor tersebut menjadikan hamba-hamba Tuhan dalam persebaran diladang pelayanan dapat membantu warga jemaat dan masyarakat untuk menjadikan pijatan sebagai aktivitas tandingan praktek-praktek medis yang super mahal.paling tidak praktek pijatan tersebut menolong umat atau masyarakat mereduksi keyakinan pada praktek perdukunan.Tentunya masih banyak misi yang tersertakan baik yang sudah dapat dirumuskan, teridentifikasi maupun benefit yang terus berkembang sesuai kontek wilayah terapannya.
Pada waktu kekinian mungkin umat atau masyarakat tidak akan menjumpai seorang pastor yang melakukan praktek langsung di jemaat-jemaat.Namun tidak mesti atau harus kecewa karena konsep pemuritan, perpanjangan tangan pemijatan banyak diberlakukan. Artinya di jemaat atau daerah pelayanan sang pastor telah tersebar murid-murid pastor yang memiliki tingkat penguasaan sama bahkan lebih dikarenakan pengembangan-pengembangan keilmuan pijatan yang diramu dengan ramuan-ramuan Herbal atau sejenisnya.
Persoalannya apakah sang pastor telah pensiun menjadi “Pemijat” Tentu tidak. Paling tidak sang pastor memijat-mijat dirinya sendiri, hitung-hitung efisiensi dana jaminan kesehan sang pastor. Praktek-praktek pijat-memijat senantiasa berlangsung. Pada tahapan ini pasien tidak perlu lagi menyodorkan kakinya. Sang Pastor tidak akan menekan-nekan syaraf-syaraf pasien namun ia meminta umatnya menyodorkan hati dan pikirannya untuk dipijat. Sang Pastor dalam pelakukan pijatan ini tidak lagi melabeli praktek pelayanan pijatnya dengan nama “Pijat Refleksi” akan tetapi menyandang label baru dengan nama “Pijat Iman.”
Pijat iman merupakan nuansa aktivitas pelayanan sang Pastor (hamba Tuhan) yang dikerjakan diatas altar kudus(mimbar sermon), dipertemuan-pertemuan ritualis terorganisir merentang kejalan-jalan pastoral informal.Sang Pemijat iman (ala refleksi) akan senantiasa siap melakukan pijatan-pijatan iman melalui doa, sapaaan sederhana semisal selamat pagi, salam sejahtera, say hello, bahkan senyuman Sang pemijat (pastor) terkadang menjadi formulasi ampuh meneduhkan kegalauan hati umat.Pada situasi yang agak berbeda kehadiran sang Pastor yang bertandang dan mengetukkan jarinya kepintu umat telah menjadi sebuah pijatan bagi rumah dan seluruh penghuni didalamnya.Belum lagi keberadaan Sang Pastor yang memijat “punggung-punggung petani” dengan kehadirannya melintasi sawah, tanah kebunnya.Begitu juga ada kesaksian yang menyukai sang Pastor jika bersedia memetik hasil kebun, petikan hasil kebun tersebut diyakini dapat memijat “sang pohon” untuk berbuah lebat.
Bagi seorang pastor (hamba Tuhan) yang mengerti seni memijat iman (ala refleksi)seseorang dapat dipastikan menjadi figur yang diburu, dinantikan khotbah-khotbahnya, ditunggu kehadirannya, tercatat dalam daftar prioritas, the most wanted! Ia adalah seorang bak Oase di padang gurun gersang. Tuturan kata-katanya adalah tetesan air kehidupan yang mengalirkan butiran-butiran energi vitalitas.Kuasa Allah hidup dalam gugusan kata-katanya. Sang Pemijat iman (ala refleksi) yang memiliki keahlian spektakuler senantiasa penuh kehati-hatian dalam berkata-kata. Perkataannya memiliki harga istimewa, jauh dari kehinaan atau penghinaan, merendahkan orang lain, namun senantiasa mengangkat pendengar(umat) setingkat lebih baik dari harapan umat.Lidah sang pemijat Iman tidak lain adalah “Lidah Allah sendiri”( Yeremia 15:19)
Sang Pemijat (pastor) yang mendapatkan penggambaran sedemikian “wahnya” adalah sosok cerdas dalam banyak bidang, khususnya piawai dalam meramu kuasa “remah-remah.” Pastor sang pemijat biasanya tercirikan dengan takaran khotbah yang tepat.Ia mengerti bahwa memijat iman umat tidak perlu memijat keseluruhan persoalan atau pergumulan umat.Cukup pijatan-pijatan porsi kecil layaknya memijat syaraf-syaraf telapak kaki sebagai sumber titik sambung syaraf keseluruhan tubuh. Pastor sang pemijat memahami dengan benar perkalian ekonomi khotbah.Sampaikan satu dua hal dan nantikan penggandaan hasil.Menurutnya khotbah yang terukur; tepat ukuran diksi (pilihan kata);tepat ukuran waktu; tepat memahami daya tahan umat mematung dibangku-bangku keras; tepat mengukur tema-tema aktual; tepat kedalaman-keluasan khotbah menjadi kombinasi yang jitu dalam memaksimalkan dampak pijatan iman.
Pemijat Iman yang berhasil senantiasa meramu rumusan doa dalam ukuran kemendesakan.Ia merupakan murid sang Pendoa (Yesus), Doa Bapa Kami menjadi patron, blue print ucapan-ucapan doa.Doa sang pemijat iman tidak melebar kekanan jika tujuan membelok kekiri. Doa Sang Pemijat Iman senantiasa merupakan pengucapan cara baru namun tetap menyarikan inti Firman Allah, ditelinga umat doa sang pemijat tak ubahnya tuturan kebenaran Firman yang dapat mengalirkan air mata keharuan, penyesalan, pengharapan, temuan jalan keluar,tiupan nafas baru dari Allah.
Gaya atau style Pastor sang pemijat (repleksi kaki) sebagaimana telaah diatas tentu amat berbeda dengan gaya pastor pemijat (ala spa).Pastor pemijat ala spa memiliki mata penglihatan yang berbeda dalam memandang Umat.Bagi pastor pemijat ala spa, keseluruhan diri umat perlu dilumuri olesan-olesan minyak pembersih keimanan,seluruh bidang kehidupannya mesti dipijatin.Tidak ada skala prioritas,minus tahapan.
Pendekatan yang dipakai sangat berseberangan dengan tipe pastor sang pemijat iman ala pijat repleksi (syaraf kaki).setiap kali umat memasuki ruang ibadah mata sang pastor pemijat ala spa memandang keberdosaan umat sebagai isu total dari keberadaan hidupnya sehingga umat harus dicuci keimanannya secara total.Umat dipaksa mendengarkan untaian khotbah berantai tanpa ujung, tanpa sinyal akhir dari sebuah khotbah. Abc Doa dipanjatkan tanpa jedah, tanpa lompatan, semua harus rinci.Detailitas haus terpaparkan secara tegas.Kata amien diujung khotbah adalah penutup yang menyedihkannya. Jika bisa lebih baik “ditembak mati” dari pada mengucapkan kata Amin diujung khotbah.Kata amin dimata sang pastor pemijat iman ala spa adalah kata perpisahan, kata yang paling dirindukan umat untuk didengar,sementara bagi sang pastor sebagai kata yang sayang untuk diucapkan. Kata amin dimata umat adalah “syukur” sedangkan dimata sang pemijat iman ala spa “ini sebenarnya belum selesai”,”jika mau saya masih memiliki bahan segudang.”
Terhadap kedua jenis pastor sang pemijat iman ini, tentu ketika berada dipodium pelayanan, senantiasa memiliki masa masing-masing.Argumentasi bela rasa, bela cara, bela kebermaknaan merupakan kata pemisah suporter masing-masing Pastor. Ada umat (pasien pijat iman) yang merasakan pijatan yang pas jika dipijat (dikhotbai) oleh pastor pemijat iman ala spa dengan argumentasi pembelaan bahwa kalau dipijat sedikit (refleksi) tidak apdol, tidak berasa tekanan-tekanannya. Sebuah khotbah yang datang dari sang pastor pemijat iman ala spa ibarat menyediakan kolam besar dimana umat dapat berendam dan basah secara total dengan guyuran khotbah.Dimata mereka pijatan pastor pemijat ala refleksi (khotbah singkat) seperti sekedar mencuci muka.
Jika ditanyakan pada pendukung pastor sang pemijat iman ala refleksi, mereka akan bergerombol menyerukan protes.Bagi mereka tidak dibutuhkan pijatan(khotbah, doa,dll) yang tidak mengenal arti kata cukup, sudah dan amin.Singkat,tepat, jelas, dan berdampak merupakan rincian mantra padat yang tidak perlu disangsikan.Kuantitas adalah musuh bagi mereka.Takaran kualitas menjadi target bidikan.Efisiensi,efektifitas menjadi semboyan berkelanjutan yang terus dilingkarleherkan pada diri sang pastor pemijat iman ala refleksi.
Apapun beda respon yang muncul dalam perdebatan pastorku sang pemijat iman (tradisi refleksi atau spa) bukan soal untuk memberikan pembenaran-pembenaran memihak.Umat sendirilah yang mesti memetakan tingkat kebutuhan jenis pelayanan pijatan iman dari kedua model pemijat iman.Tentu suatu waktu pertukaran-pertukaran idolatri kedua tradisi pijatan tersebut kadang kala terjadi,entah terpaksa ataupun disesuaikan.
Persoalan yang signifikan atau hal yang menjadi penting adalah kedua jenis tradisi pastor pemijat tersebut menyisakan ruang penduplikat masing-masing.Artinya kedua tradisi pemijat tersebut sesungguhnya sama-sama baik,bermanfaat dan dinantikan kehadirannya di mimbar kebesaran pelayanan Allah.Soalnya kemudian adalah masing-masing tradisi pemijat tersebut penting untuk dipisahkan pemijat-pemijat yang tidak mengerti bidang penguasaan masing-masing.Sederhananya dikelompok pijat iman refleksi tidak menjamin semua pemijat (pastor) memiliki kemampuan menemukan titik-titik penting atau syaraf-syaraf utama.Maksud hati menjadi pemijat iman refleksi yang jitu, sayangnya ia senantiasa memijat syaraf yang berbeda, syaraf yang tidak menghubungkan pada titikmasalah. Demikian halnya dengan pemijat ala spa, beberapa pemijat iman (pastor) ala spa mencuci keimanan umat yang sesungguhnya telah bersih.melalui khotbah, doa, nasehat diluar khotbah mereka samaratakan, menyapu bersih semua sisi kehidupan umat.Jika umat bermasalah dengan kedisiplinan jam ibadah, dimata pemijat ala spa, terjadi ketidakdisiplinan disemua bidang hidup umat.
Akhirnya persembahan dan harapan akhir sebagai penghormatan terhadap peran mulia yang dikerjakan oleh Pastor-pastor pemijat iman, pastikanlah peningkatan kecakapan dalam melakukan pelayanan Pijatan iman menjadi stadium reflektif guna memandang kedalam tingkat kecakapan-kecakapan baru yang semestinya menjadi sematan baru didalam meneguhkarakterkan “kuasa sepuluh jari”(baca: berdoa,berkhotbah, bekerja, membaca) dalam memijat iman umat yang letih, penat, bosan, hampir putus asa.Jejari segenap pastor-pastorku kami nantikan.Selamat memijat Romo.

Rabu, 16 Desember 2009

“KOIN NATAL”

By Bartholomius Padatu

KOIN sebagai salah satu alat bayar publik sebagai satuan mata uang terkecil sedang booming pencitraan terkait kasus perseteruan hukum anatar sebuah Rs INTERNASIONAL dengan Prita. Tuntutan ganti rugi Rp.204 juta dianggap pantas mengganjar kebebasan berpendapat Prita sebagai pasien yang mengeluhkan “mall layanan publik” di ruang maya (internet).
Sayangnya kalkulasi pihak penuntut menjadi bumerang yang melesat dengan kecepatan tinggi menghantam balik serangan hukum Rs INTERNASIONAL.Ironisnya perlawanan balikan pihak Prita tidak datang dari tuntutan balik melalui parade hukum, namun melalui parade perlawanan publik dengan senjata KOIN receh.Jangkauan derma coin dari seluruh penjuru nusantara meramaikan parade perlawanan publik.Berton-ton berat koin merupakan akumulasi dari lempengan koin-koin ringan pada mulanya, namun mengeskalasi kuantitas koin yang spektakuler.
Saya harus merem diri untuk tidak melangkah masuk untuk melakukan serangan kepada satu pihak.Ruang hukum,saya kira, dapat memediasi keduabelah pihak untuk masing-masing mencari titik-titik kesepakatan untuk kebaikan bersama.Niatan tulisan ini ingin merefleksikan perjalanan KOIN dalam teks-teks kitab suci dan sedekat mungkin membenangmerahkan dengan fenomena NATAL.Paling tidak peristiwa Natal sesungguhnya dapat memunculkan perspektif “berbagi.”Kehadiran ICON KASIH di hari NATAL terwakili dengan kehadiran seorang tokoh legendaris yang tidak pernah absen dihari NATAL menjadi salah satu bagian yang ingin dimaknai,disamping fenomena-fenomea lainnya.
Santerklas datang……merupakan tokoh dermawan yang senantiasa dinantikan untuk sebuah tujuan tunggal yakni menerima “Kado” NATAL.Kita tidak pernah pasti mengetahui Pria satu ini, apakah ia termasuk orang kaya, berkelebihan harta benda, senantiasa surplus dalam bisnis. Semua orang tidak pernah tertarik dengan latarbelakang Santerklas.Tujuan kehadirannya sangat jelas yakni “berbagi sesuatu.”Sisi menarik dari acara serah kado tersebut adalah masing-masing orang menerima kado yang sesuai dengan harapan.Tidak pernah tergambarkan adanya kado kembar bagi si penerima.Sekali lagi masing-masing penerima, mendapat bungkusan kado sejalan dengan mimpi, kerinduan, kemanfaatan.Tidak ada kado salah alamat.Semua diantar , tidak ada yang tercecer, tertukar.Penundaan tidak terjadi,pembatalanpun tidak.Tidak ada paket hantaran yang dibuka ditengah jalan, terlebih hilang dicuri.Ending Santerklass adalah paket diantar,penerima kado menikmati isi paket.
NATAL dalam potret lain dipahami sebagai pristiwa sakral lahirnya “Bayi Mesias” Sebuah Kado yang di hantar langsung oleh Sang Bapa ke dunia ini. Keberadaan Bayi Yesus sebagai manusia merupakan Bungkus yang melingkupi “Kasih Agung.”
Dalam perjalanan pembagian Kado “KASIH” Yesus secara perlahan berbagi kasih kepada manusia dalam bentuk “KOIN.” Ia tidak melakukan pemborosan Kasih kepada seseorang.Yesus menakar pemberian Kasihnya dalam bentuk pemberian “KOIN recehan.”Saya teringat dengan satu kisah yang pernah saya baca dan dakwakan.Pada suatu waktu karena suasana hujan maka kebaktian disebuah gereja tertentu sedikit dihadiri oleh umat.Pendeta yang mengetahui situasi yang tidak biasa, bercampur sedih, marah dan putus asa menawarkan kepada umat untuk menunda kebaktian minggu depan dengan alasan sedikitnya jumlah.Namun umat menolak dan meminta sang pendeta menyelenggarakan ibadah selayaknya.Merasa ditolak sang pendeta menawarkan untuk mempersingkat khotbah,”bagaimana kalau khotbahnya singkat saja?” Umat (yang umumnya peternak) menjawab dengan ilustrasi bahwa kalau hewan ternaknya masuk kekandang dan meminta makan, maka sang peternak hanya memberi makan yang cukup untuk satu dua hewan dan tidak menambah jumlah atau menguranginya.
Cerita sang pendeta dan umat (peternak) menggambarkan bahwa ritme pemberian kasih Yesus merupakan paketan “KOIN” Yesus akan memberikan kasihnya berdasarkan ukuran-ukuran kecil yang dianggap memadai untuk sebuah maksud pertolongan. Kita dapat kembali diingatkan dengan penggambaran perjuangan seorang ibu yang meyakini adanya kuasa “KOIN” (dalam bahasa kitab suci remah-remah)yang tersisa baginya setelah jamuan “Uang besar.” Kuasa takaran “KOIN” bagi sang ibu tersebut merupakan segala-galanya bagi anaknya.Yesuspun pada akhirnya tidak memberikan sajian utama bagi ibu tersebut melainkan Kuasa “KOIN”. Kemiripan penggunaan uang receh Yesus dapat kita temukan pada permohonan “KOIN” sang perwira bagi bawahannya yang sakit. Yesus dalam cerita tersebut menyetujui permintaan kuasa “KOIN”.
Yesus sesungguhnya menemukan adanya penggunaan kuasa “KOIN” yang dilakukan oleh seorang Samaria Kafir baik hati yang merelakan KOIN-KOIN Kekayaannya (bukan uang namun kepedulian bela hatinya),tepatnya sebut saja “KOIN HATI”.Lukas 10:33,” Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ketempat itu, tergeraklah hatinya oleh belas Kasihan.” Kepingan koin hati samaria berbentuk balutan luka-luka, siraman minyak dan anggur, tunggangan transportasi, penginapan, perawatan dan melengkapinya dengan KOIN dua dinar dan janji mencukupi (Lks 10:34,35).Nilai satuan dinar untuk abad sekarang jika diubah dalam satuan mata uang amerika sebesar 16 sen, untuk Indonesia 360 rupiah (kurs 1$=2.250).
Dua perumpamaan tentang koin janda yang hilang serta koin persembahan seorang ibu tua yang diceritakan Yesus dalam kitab-kitab Injil menunjukkan adanya Citra positif bernilai tinggi yang diapresiasi Yesus. Cerita pertama terjadi pada saat seorang perempuan (tergolong miskin 1 dirham=360 rupiah kurs 2.250/1$) kehilangan salah satu Koin dirham (dari sepuluh dirham)kesayangannya dan bertekat menemukannya karena ia tidak ingin salah satu koinnya hilang tanpa arti.bahkan nilai Koin dirhamnya melampaui biaya perayaan penemuannya (Lukas 15:8-10).Dua peser sama dengan satu duit (recehan roma terkecil) adalah jumlah persembahan seorang janda miskin (Markus 12:42).Pemberian janda miskin tersebut menarik bagi Yesus untuk mengukuhkan atau menetapkan suatu ukuran kelayakan sebuah pemberian persembahan.Melihat pemandangan tersebut Yesus memanggil murid-muridnya dan memberitahu tentang nilai sesungguhnya dari persembahan sang janda (Markus 12:43).
Walaupun dalam rupa makanan 7 potong roti dan beberapa ekor ikan kecil (baca:KOIN) Yesus menjadikan Koin-koin tersebut memecah hingga melebihi kebutuhan makan siang empat ribu orang (Matius 15:34).Potongan Roti dan ikan-ikan kecil tesebut(Koin) telah menjadi alat ungkapan belas kasih Yesus yang berasal dari sepotong hati yang memahami derita orang kelaparan.
Kitab Suci (Alkitab) memiliki banyak potongan atau Koin-koin Kasih yang tersebar dalam berbagai peristiwa sosial, ekonomi, politik pada masa itu.Jika dikumpulkan tentunya teramat banyak dan dapat melebihi “kumpulan koin Prita.”
Prita dengan Koin peduli kasih keadilan merupakan salah satu mata Koin terkecil dari derita kaum terpinggir,lemah,dimarginalkan secara hukum.Begitu juga ada banyak koin-koin lainnya yang dapat menceritakan kepada kita betapa berharganya lempengan-lempengan koin kasih yang diberikan oleh orang-orang tanpa mengenal lintas batas keyakinan keagamaan, beramai-ramai menyodorkan kepingan demi kepengan Koin kasih mereka, bisa jadi dari milik terakhir yang sesungguhnya sangat bermanfaat dibelanjakan bagi keluarga mereka.
Perayaan-demi perayaan kemenangan Koin kasih silih berganti ditunjukkan kepada kita di media massa dan elektronik; seorang penjual rujak dengan keuntungan Rp.25.000 disisihkan untuk memperkuat nilai Koin Prita. Jajanan murit TK,SD, Celengan kesayangan, dan banyak lagi rupa-rupa koin kasih diserahkan kepada Prita untuk satu juan “Memberi, berbagi kasih”
Koin-koin bagi Prita jika dikupas maknanya lebih mendalam dapat diketemukan nilai Kasih yang dapat membebaskan seseorang yang terhimpit duka berbagai ketidakadilan.Koin-koin tersebut menjelma menjadi sebuah kekuatan yang memberi nilai hidup.Koin tersebut menjadi penunjuk tanda kehidupan yang membalut keperihan dihati para korban, meneteskan air mata keharuan yang telah lama terpendam dan tidak terpublikasikan. Koin-koin penderma tersebut telah memerahkan kembali wajah manusia-manusia yang pucat karena darah mereka dihisap oleh sesamanya yang telah berubah wujud menjadi vampire-vampir setengah manusia.Koin-koin “Para samaria” telah menyerbu kekosongan ruang-ruang bela rasa yang dihimpit oleh perlombaan menghidupi diri sendiri.Keagamaan yang kehilangan peta kontekstualisasi, sesat dalam arah dogmatika kadaluarsa.Dakwa-dakwa opurtunis, setengah hati, Dakwa-dakwa yang di produksi dari pikiran malas. Koin-koin yang dikumpulkan untuk kemudian digandakan dalam ruang-ruang perbankan tanpa visi yang jelas.
Kini Natal telah berdenting dipintu-pintu hati umat yang merayakannya.Suara apakah yang paling nyaring terdengar?Mungkin kita berpendapat suara lonceng natal Telah berdenting.Mungkin bagi sebagian orang demikianlah adanya. Tetapi bagi “Prita” Loncenga Natal tiada terdengar,jika terdengar sayup dan menyebar tipis dan kemudian hilang. Di Labirin telinga “Prita” gemerincingan Koin-koin “Samaria” nyaring terdengar.Gemerincing koin-koin tersebut merupakan lagu baru, nyanyian terbaru yang dapat menghidupkan makna Natal bagi peraya-nya.
Tebaklah apa modifikasi kado yang Sinterklass bawakan kepada sang penerima? Saya kira “KOIN” Natal bagi kita sesungguhnya merupakan momentum pemberdayaan “Bela Kasih” sebuah agenda kemanusiaan yang dapat diserahkan kepada mereka-mereka yang telah di rampas “Koin terakhirnya”
Apakah wujud pecahan koin-koin “Prita”? Koin-Koin kasih dapat memecah diri kedalam banyak bentuk.Semisal sekian CC darah anda yang sangat dibutuhkan mereka-mereka yang setiap waktu harus berjuang dengan proses Hemodialisa (cuci darah),Koin kasih anda (Koin Natal) dapat dipecahkan bagi anak-anak yatim-piatu yang menunggu sebuah kado Natal baju baru yang telah ditunggunya dalam 2 atau 3 tahun terakhir.Koin Natal anda dapat berbentuk sepotong kata pengampunan dari anggota keluarga, teman yang tersiksa karena buah kasih mereka anda tolak hanya karena sempitnya cara berpikir anda.Koin Natal anda adalah koin-koin recehan yang anda sebarkan sepanjang tahun bagi komunitas sahabat-sahabat pengamen, lampu merah.Kunjungan anda kepada seseorang yang terbaring di rumah sakit, panti jompo tanpa teman atau pengunjung baru yang membawakan senyuman baru, cerita baru bahkan “sebungkus coklat” bagi mereka.Perhatian anda pada putra-putri anda yang selama ini bangga membungakan sebutan papah dan mamah sementara bagi diri mereka sendiri tangan-tangan kasih orang tuanya membelai “seseorang” yang sesungguhnya telah merampok kesatuan rumah tangga dapat menjadi koin-koin yang memanggil pulang rangkulan tangan anda pada mereka.Koin-koin Kasih Natal anda dapat memakai kesopanan sebagai wujud perhatian anda pada keberhargaan seseorang dimata anda.
Di ujung tulisan ini Anda sangat memahami koin-koin yang anda miliki dan kepada siapa saja koin-koin tersebut hendak anda bagikan.Prinsipnya koin-koin Natal anda memiliki “nilai” yang tidak dapat dibenam oleh kekuatan perusak (kejahatan).Koin-koin Natal anda adalah Jiwa kebenaran yang bergemerincing amat lembut namun menghujam pada telinga-telinga yang selama ini dibuat tuli.Koin-Koin Natal anda akan menjadi koin yang memiliki “Ruh” yang sangguf menafasi perjuangan-perjuangan yang telah ditekatkan sebagai “Gaya Hidup” orang ber-Tuhankan “Koin(kasih)” bukan “Koin (Ketamakan/kejahatan).
Padukanlah dentingan lonceng Natal dan gemerincing Koin-koin Kasih anda sebagai sebuah persembahan berjumlah kecil namun bernilai tinggi dimata TUHAN(anda dapat membawa koin-koin anda kedalam kantong persembahan).Temukanlah Koin-koin anda.Pesannya:Persembahkan Kasih anda walaupun hanya senilai Koin terkecil milik anda.Jadilah sinterklass yang membagikan Koin-koin Natal.Selamat Natal Tuhan Yesus Memberkati anda.


Yogya 15 Desember 2009
Salam.Kel.Bartholomius Padatu

Minggu, 13 Desember 2009

Bagaimana membuat orang percaya pada anda?

By. BL Padatu


“Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku? Apakah mereka akan mendengarkanku? Apakah pendapatku dapat mempengaruhi pola laku dan pikir mereka? Punyakah aku kemampuan menyakinkan orang dengan perkataanku? Seberapa banyak orang yang berpikir demikian dan menyudutkan diri mereka pada pojok ketidakberdayaan diri? Apa yang mereka kemudian lakukan untuk menarik diri mereka keluar melompati penjara-penjara pelemahan keyakinan diri? Sebegitu lemahkah mereka sehingga harus mengidapkan penyakit ketidakpercayaan diri baik dilevel akut maupun kronik? Apakah akibat berkelanjutan dari seorang yang terus terikat kuat dengan keyakinan diri destruktif?Terhadap semua pertanyaan ini adalah tidak dibutuhkan usaha untuk menjawabnya satu-persatu.Keseluruhan pertanyaan tersebut menjadi sebuah persoalan bagi anda,situasi tersebut akan teratasi jikalah anda mampu memahami satu hal yakni: anda membutuhkan kuasa diluar diri anda dan kuasa tersebut adalah Kuasa Allah.Sebuah Kuasa yang menjadi satu-satunya sumber pertolongan anda. Bagaimana prosesnya? Ikuti uraian selanjutnya.
Pertanyaan “bagimana jika mereka tidak percaya kepadaku? Merupakan sebuah pertanyaan yang sangat Alkitabiah.Sumber kutipan dapat dilacak pada kitab Keluaran pasal 4:1 Lalu sahut Musa: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku…, Musa dalam teks tersebut mengalami serbuan ketidak percayaan diri terhadap sebuah misi yang hendak Tuhan percayakan.Sebagai seorang yang telah dididik dalam sistem pendidikan Mesir yang sangat terkenal tentu sangat mengherankan bagaimana mungkin seorang yang terpelajar, seorang yang dididik secara khusus, dapat meragukan kemampuannya dalam memimpin(mempengaruhi). Hal yang sama, senada ditunjukkan oleh Yeremia 1:6 Maka aku menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda."Yeremia dalam teks tersebut turut memberikan penekanan situasi yang tidak persis sama namun memiliki kemiripan situasional.
Kembali pada cerita Musa,lemahnya karakter kepercayaan diri Musa jauh melampaui masa depan.Ia tanpa sadar menekan kemampuannya pada titik nol dengan menghadirkan suatu situasi yang belum tentu terjadi.Pada tingkatan ini Musa melihat kebesaran, kekuatan seseorang diluar dirinya sekaligus kehilangan perspektif kemampuan dirinya.Nada cerita yang sama dapat kita amati dari tragedi hilangnya daya lihat kebesaran diri para pengintai negeri kanaan yang melihat kebesaraan lawan dan mencederai diri dengan mentalitas belalang.Belum habis ingatan kita pada mengeroposnya kekuatan pencitraan diri saudara-saudara Daud serta barisan tentara Allah yang membesar-besarkan ukuran kekuatan Goliat, namun dibuktikan salah oleh Daud.
Tentu ada banyak contoh peristiwa yang jika dikumpul akan menjadi kompilasi album orang-orang kalah sebelum bertanding.Ada banyak orang, ditingkat, bidang, tujuan beragam yang terseret arus deras ketidakpercayaan diri yang mematikan.Mereka dipaksa percaya oleh dialog batin yang kacau.manipulasi ilusi telah mendahului melompati logika mereka. Permainan kata andaikata, sekiranya, misalkan,jikalau menjadi permainan verbal yang mengasyikan dalam ruang pikir mereka,tanpa terusik dengan sinyal-sinyal bahaya pengerdilan diri.
Menelisik lebih jauh dengan menggali lebih dalam teks ketidakpercayaan diri Musa membawa kita menjumpai sebuah pribadi yang mengalami kesulitan untuk mempercayai bukan hanya kekuatan pada dirinya namun sumber kekuatan itu sendiri yakni Allah. Dalam pasal 4:10 Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." Sesungguhnya Allah telah melakukan kerja pastoral secara pribadi ditambah kesempatan bagi Musa mengalami secara empiris kedasyatan penyertaan Tuhan; Perubahan Ular dan tongkat secara bolak-balik;Tangan yang berubah menjadi kusta dengan menyelip-masukkan tangan ke jubah; hingga peningkatan pembuktian empiris kuasa Tuhan yang mengubah Air Nil menjadi darah ketika menyentuh tanah kering, tidak juga memompa nalar keyakinan diri.
3 rupa muzijat yang ditunjukkan Allah kepada Musa sama sekali tidak menjadi materi atau unsur peubah cara melihat dirinya.Anda bisa membayangkan jika Allah secara berhadap-hadapan memberi anda kesempatan mengalami 3 muzijat contoh dan kemudian menyerahi Tugas dengan bekal keyakinan bahwa segudang Muzijat menyertai anda, apakah anda akan memandang diri anda secara lebih baik? Tentu sulit untuk meyakinkan bahwa anda akan jauh lebih baik dari Musa. Namun setidaknya respon kegeraman Allah akan menjadi cermin baru dalam melihat diri.
Allah dalam Keluaran pasal 4:11,12 Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan. Apakah Allah dalm teks ini kita dapati kurang bekerja keras dalam meyakinkan Musa? Kalu kita kembali memberi perhatian pada jawaban Musa pada ayat berikutnya,”Ah,Tuhan,utuslah kiranya siapa saja yang patut Kau utus” maka dapat kita nyatakan bahwa Allah telah bekerja keras meyakinkan Musa,namun perlu berhati-hati memaknai kerja keras Allah bahwa bukan berati Allah tidak bisa memudahkan proses peyakinan tersebut.Allah dalam konteks kerja keras tersebut sangat menghargai dinamika demokrasi menyatakan pendapat, sikap dan keputusan Musa.
Bargaining pengutusan(tawar-menawar) yang kita baca antara Musa dan Allah secara moral sesungguhnya memberi kepada kita serangkaian kearifan yang semestinya menjadi titik perhatian dalam upaya-upaya praktis menyakinkan seseorang atau mengajak seseorang mengikuti derap arah jalan kita. Petikan kearifan tersebut misalnya menuntun kita untuk sadar pada level dini bahwasanya mengajak orang berjalan pada alur segaris bersama kita tentu bukan perkara mudah. Seluruh totalitas kemampuan diri kita bukanlah garansi memastikan kepatuhan seseorang pada ajakan kita. Ada banyak hambatan-hambatan yang semestinya diinvestasikan waktu dan proses belajar.Suara datar, miskin intonasi, keterbatasan wawasan, tawarnya ekspresi, ketidakpekaan secara emosional merupakan potensi-potensi level terendah yang perlu mendapat perhatian khusus.Seorang pemberi pengaruh harus menerima kondisi-kondisi tersebut sebagai instrumen strategis yang sesegera mungkin di-upgrade.
Hal yang paling tidak dapat diabaikan untuk sebuah tujuan mempengaruhi seseorang bukan saja menyangkut aspek-aspek kekuatan fisik.Namun melampaui dimensi fisik duniawi.Aspek tersebut adalah Dimensi “Yang melampaui” yakni Kuasa ALLAH. Allah yang membuat lidah manusia, membuat pikiran manusia serta Hati manusia.Hanya KUASA ALLAH yang sanggup menyentuh ruang terdalam yang disembunyikan seseorang untuk diambil, dibujuk, diberi perasaan positif.
Walaupun Allah menjamin tidak akan merebut simpati anda dengan paksa, namun Allah sanggup membuat logika berpikir anda sejalan dengan logika berpikirNYa.Karenanya,dengan logika yang sama, kepercayaan pada Penyertaan Allah akan sanggup membuat orang mendengar kata-kata, arahan anda.Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena KUASA ALLAH yang melampau akal dan pikiranlah yang mengerjakannya.
Tapi anda harus memperhatikan tanda-tanda yang muncul dalam teks-teks keluaran pasal 4 yang memunculkan aspek “Menunjukkan sesuatu”.Allah tidak hanya menjanjikan sesuatu yang abstrak bagi Musa, Allah menyertakan sesuatu yang Kongkrit.Allah telah menaruh sesuatu di lidah Musa.Allah juga menaruh sesuatu di lidah anda.Karenanya anda harus berusaha melatih sensivitas pengenalan sesuatu yang Allah taruh pada lidah anda.Kenalilah prilaku lidah anda dan yakinkan pada diri anda apa yang bukan kepunyaan Allah. Lidah yang di dalamnya berisi sesuatu titipan Allah senantiasa memberi bobot pada kualitas percakapan yang meyakinkan;bersifat menyembuhkan; memberi pengharapan; berdimensi antisipasi masa depan, mengembang hingga menyerupai sebuah percakapn pemberitaan firman.
Allah tidak saja membekali anda dengan menaruh sesuatu pada lidah/alat kecap bahasa anda, namun memberi anda “Tongkat” yang dapat mengubah sebuah kayu keras menjadi bentuk baru yang memiliki pesona penggugah.Mungkin bagi anda Allah tidak memberikan anda “tongkat” dalam wujud sesungguhnya, namun anda mendapat “tongkat lainnya” seperti kecakapan-kecakapan khusus yang bersumber dari penggunaan pena, palu dan paha, kuas,dll.Apapun tongkat ditangan anda sesuatu yang baru penuh daya pengubah siap merubah dunia anda, kepercayaan diri anda, sekaligus mengubah keyakinan-keyakinan seseorang pada anda.
Percayalah pada diri anda sebab Allah percaya pada anda!
Begitu juga penekanan Robert Schuller menjadi strategis “PERCAYALAH PADA ALLAH YANG PERCAYA PADA ANDA”


Yogja 13 desember 2009

Senin, 07 Desember 2009

Facebook: Restrukturisasi “Dakwah/khotbah”baru
By BL Padatu
Jejaring sosial maya yang berlabel “Face book” atau “Buku Wajah” telah melampaui maksud launchingnya.Jejaring tersebut tanpa sengaja menarik kepermukaan fungsi-fungsi yang awal mulanya berada diluar kotak prediksinya.FB tidak semata memiliki daya jelajah koneksi antar wajah di seluruh wilayah bersinyal, namun memiliki daya multiplikasi atau penggandaan fungsi (function multiflication).Orang bukan hanya dibuat puas dengan ruang perkawanan, sekedar meng-adds “some body”namun telah menjadikannya “instrumen pertukaran berdaya magnetik” yang sanggup membuat member-membernya menerima injeksi “pemaknaan hidup” tanpa limitasi.
Facebook telah bermetamorfosis dalam konstruk piramida terbalik yang semakin hari semakin mengalami perluasan komunitas, pelebaran contain, sehingga ia telah menjelma menjadi sebuah supra institusi yang tanpa sengaja mensubsistemkan institusi-institusi sebelumnya. Produk-produk dunia maya sebelumnya dipaksa takluk, bergabung atau disudahi, sehingga ruang facebook telah mengkristalkan pemain IT (industri teknologi) sebelumnya seperti Yahoo messenger (ditinggalkan);blog (digandeng),dll.
Bagaimana dengan nasip lembaga-lembaga lainnya? Seperti politik, budaya, keagamaan? Tentu institusi tersebut menerima benturan spektrum yang berbeda-beda.ada yang menghadang, ada yang adaptif menyesuaikan diri;tentu ada yang masih betah disimpang ambiguitasnya.
Bertemali dengan judul artikel ini, penulis mencoba untuk mendialektikakan fenomena FB dengan konstruk dinamika keagamaan di Indonesia (tanpa membatasinya pada komunitas relegius semata).Tidak dibutuhkan lagi apologasi ekstrim untuk melawan bukti-bukti pembenaran bahwa FB menjelma menjadi lembaga sosial yang cair,tidak mengenal antitesis konstruk nilai lembaga tertentu. Ia (FB) mengental menjadi instrumen sosial yang kebal terhadap propokasi “keagamaan minor”, sekaligus menjauhkan dirinya dari kanibalitas komunitas relegi, budaya, sosial,dll. Face book telah menjadikan konstituennya sebagai pribadi yang berkedaulatan; meminta akses pertemanan;menerima teman baru; membangun tembok resistensi pribadi destruktif, memfasilitasi ruang berbagi, dalam bahasa keagamaan mengandung “kemaslahatan atau berkat humanistis.”Hingga membagi sebagian potret kehidupan domestik (rumah tangga), komunitas tertentu, untuk didekatkan dalam konstruk kesadaran warga dunia.
Salah satu nilai pengaruh yang tampil secara spontan adalah menjamurnya “pendakwah-pendakwah/pengkhotbah” informal yang diproduksi dalam kondisi kerunyaman, keterbatasan,kemarahan bahkan kelangkaan “mutiara-mutiara dakwah/khotbah.” Face bookers, baik sengaja atau tidak telah menarik dirinya, idenya dari persembunyian terdalam.Seluruh hikmat, pengertian, pengetahuan yang berdimensi spiritual melumeri dinding-dinding face book.Setiap orang dapat bertukar posisi sebagai pendakwah/pengkhotbah atau umat.Tidak dibutuhkan investasi panjang nan jelimet untuk mengukuhkan diri atau dikukuhkan sebagai pribadi-pribadi yang peduli dengan kekacauan, dilema kehidupan sahabat-sahabatnya yang hampir putus asa karena mengecilnya ruang-ruang pengakuan dosa karena resourches pendakwah telah menjadi pribadi-pribadi langka.Dalam situasi tertentu sulit menemukan pendakwah-pendakwah/pengkhotbah-pengkhotbah berwawasan dan beres dengan amalan dakwanya. Lembaga-lembaga keagamaan merisaukan menipisnya SDM pendakwah/pengkhotbah karena kegagalan lembaga tempat dakwah yang dipaksa merestrukturisasi diri karena hantaman berbagai isu sosial, politik,dll,termasuk ketidakprosfesionalan lembaga penghasil pendakwah/pengkhotbah.
Face Book harus diakui telah membuat “insan agamis” bergerombol melompati dinding-dinding “rumah ibadah (agama)” mereka meskipun masih menyisakan pengikut-pengikut setia untuk bertahan dengan rekonstruksi sekaligus restrukturisasi peran,untuk menggelontorkan omelan, mendesahkan asa baru, menafasi kenarsisan,memuntahkan ide-ide yang mengalami peminggiran ruang muat media berkaliber nasional, menggunakan aji mumpung facebook sebagai “penghulu” perjodohan.Hingga keberfungsian yang menyuburkan idealisme-idealisme positif,bertukar tandingnya gagasan-gagasan konstruktif sambil sedikit menyentil, mereduksi gugusan ide-ide yang kehilangan titik keseimbangan pengagasannya.
Tidak sulit untuk mengobservasi kemunculan facebookers yang “berperan ganda” dalam komunitas masing-masing.Aneka kata mutiara, gugusan nasehat, kalimat-kalimat revolusioner meluncur deras berebutan merajai ruang teratas tampilan dinding-dinding facebooker.
Bisa jadi, Fakta yang sangat mengejutkan adalah ditemukannya kenyataan bahwa jauh lebih mudah menjumpai, menyelami gagasan pendakwa sejatinya (pendeta, ustad,pemimpin-pemimpin keagamaan) atau dilayani ketimbang harus memasuki ranah formal seperti rumah ibadah dengan bimbingan ritualisnya.Tidak dibutuhkan hari khusus untuk menanti beberan dakwah/khotbah syarat pesan, setiap harinya pesan-pesan yang tidak kalahberbobot sesak diruang publik Facebooker.
Dalam kasus lainnya, kita dihentak oleh kenyataan yang harus diakui kelincahan-kelincahan facebookers yang dapat dipredikatin pendakwah informal, yang berkemampuan meramu pesan-pesan keagamaannya menyerupai atau sama bentuknya dengan sebuah dakwah atau khotbah formal,jika tidak mau disebut melampaui pendakwah/pengkhotbah informal (karena menyangkut legitimasi Ilahi).
Suka atau tidak, sadar atau tidak, harus atau tidak pertukaran pesan di ruang facebook dapat dilihat sebagai sebuah konstruk fenomena sosial yang dari substansinya perlu untuk menjadi cermin bening melihat berbagai kemungkinan;misalnya diantara para facebookers khususnya pendakwah/pengkhotbah informal merupakan sumber daya Manusia yang gagal direkruit lembaga-lembaga produksi pendakwah/pengkhotbah dikarenakan gagalnya design mesin produksi kelembagannya. Fenomena terseut juga dapat membentuk dirinya sebagai lembaga informal yang menyentil kelemahan-kelemahan konsep-konsep yang didakwakan atau sebuah sikutan halus untuk mendepak pendakwah/pengkhotbah yang senantiasa merasa aman dengan legatitas formil tanpa terusik dengan keharusan-keharusan menginovasi diri kearah pembobotan peran yang lebih berdaya. Karenanya pesan Gede Prama dalam bukunya “INOVASI ATAU MATI” menjadi relevan untuk menginkubasi transformasi kelembagaan keagamaan khususnya dalam upaya memperkuat tulang dakwah/khotbah mereka. Salam.

Catatan: Surabaya 7 desember 2009

Senin, 13 Juli 2009

"APA ITU DOA"

Renungkan makna DOA’

1. Doa bukanlah “MENU SELINGAN” dalam aktivitas keagamaan.
2. Doa bukanlah “Jendela” menjelajahi dunia dengan menutup mata. Doa adalah jelajah Ruang Maha Kudus.(BLP)
3. Doa bukanlah tindakan memakan obat 3x1 setiap sehabis makan (BLP)
4. Jika tidak menjemukan bukan “Doa” namanya (BLP). Firman Allah mengatakan berdoalah dengan tidak jemu-jemu.(BLP)
5. Doa bukanlah “Goegle” (mesin pencari semua jawaban dan pertolongan kilat)BLP.
6. Doa adalah kepastian “Mekanis” dalam pengertian seperti periode mekanis pagi siang dan malam. Pagi digantikan siang dan siang digantikan malam. Naikanlah doa maka doa akan digantikan “Berkat” (BLP)
7. Naikkanlah Doa maka Allah akan Menurunkan “sesuatu”(BLP)
8. Doa bukanlah rumusan Intelektual rigid/kaku (BLP)
9. Berdoalah pada pagi hari maka Allah akan menghangatkan tubuh rohani anda.Berdoalah pada siang hari maka Allah akan memberikan keteduhan. Berdoalah pada malam Hari maka Allah akan memberikan “Tidur” yang berkualitas (BLP)
10. Berdoalah minta “kekayaan” maka Allah akan memberikan pada anda “Kerja Keras”(BLP)
11. Mintalah “Nilai ujian terbaik” dalam ujian emester depan disekolah anda,maka Allah akan menyodorkan “Buku-buku bermutu” untuk dibaca (BLP)
12. Mintalah kenaikan pangkat dalam doa anda, maka Allah akan memberikan kelengkapan jabatan anda yakni”kerendahan hati”(BLP)
13. Jangan bingung kalau Allah sepertinya tidak menjawab doa anda, Bingunglah pada diri anda jika tidak berdoa namun berharap sesuatu dari Allah (BLP)
14. Tidak ada orang yang tersesat dalam doa, yang ada orang “sesat” yang tidak berdoa (BLP)
15. DOA adalah akronim dari Do= nada pertama dalam music kesalehan hidup anda dan A=amin pada akhir dari pemberian berkat pada ibadah anda (BL P)
16. Doa adalah “Bisikan rahasia kecemaran hidup anda pada telinga Allah” sekaligus teriakan masalah hidup anda pd saat anda mengira Allah tidak memiliki telinga (Allah yang Diam)BLP.
17. Doa adalah “kebisuan” yang nyaring (BL P)
18. Doa adalah segalanya. Namun segalanya bukanlah doa (BLP)
19. Doa adalah aktivitas rohani yang akan menyalibkan “kebebasan” pribadi anda dalam 5 menit namun setelahnya membangkitkan “Kebebasan pada 23 jam 55 menit selanjutnya ”(BLP)
20. Doa adalah “bunuh diri(membunuh keramaian dalam diri)”yang menyenangkan dihadapan Allah (BLP)
21. Doa akan menjadikan anda lebih dari seorang pengemis yang datang dengan tangan kosong dan kembali dengan”hati yang penuh” (BLP)
22. Berdoa adalah “berdoea( baca berdua=anda dan Allah” dalam ejaan Bahasa Indonesia tempodoloe. Sebuah aktivitas ekslusif, tanpa selingkuhan.(BLP)
23. Berdoa itu beda-beda tipis dengan tidur! Sama-sama menutup mata,karenanya waspadalah dan usahakanlah bangun pengertian yang tepat diantara keduanya.(BLP)
24. Berdoa itu ibarat “Push Up” yakni mendorong beban hidup anda ke ruang atas(ruang Maha Kudus).(BLP)
25. Jika anda berdoa untuk penurunan berat badan lakukan tahapan berikut:
Pertama, Naikanlah doa kepada Allah nyatakanlah berat badan ideal yang anda inginkan
Kedua, Naikkan tubuh anda diatas timbangan, kemudian lihat angka penunjuk secara tepat
Ketiga, Turunlah dari atas timbangan dan segeralah mendaki gunung dan berdoalah diatas setiap hari
Ke-empat, tertawalah sampai kurussss………………………………………………….(BLP) just joke but serious!!!

Sabtu, 14 Februari 2009

“Menuai Pekerja, menuai Tuaian”
Refleksi Matius 9:32-34
By. BL Padatu

Awalan tahun karya pelayanan Yesus adalah hari-hari rekrutmen para murid-murid Yesus sebagai pengikut, Deciples as “Follower”. Para murid diikutsertakan dalam sekolah informal berkenaan dengan core atau inti perjalanan pelayanan Yesus. Secara simplistic, Yesus mementori ke 12 murid untuk belajar banyak rupa-rupa tanggungjawabNya terhadap komunitas orang banyak yang senantiasa berkerumunan dengan semangat yang sangat kuat untuk memperoleh sesuatu yang “Berbeda” dari sosok seorang Yesus. Kepada para murid, Yesus mengaikatkan penglihatan mereka bagaimana bersikap terhadap kelemahan fisik dan jiwa manusia; sembuhkan orang sakit; bangkitkan orang mati; usirlah setan-setan, setidaknya daftar ini masih akan panjang jika diuraikan secara Alkitabiah, sebuat daftar panjang agenda atau misi visioner kedua belas murid bagi semua generasi yang dapat mereka jangkau.
Efisode perjalanan orang banyak mengikut Yesus menjadi fenomena protektif bagi keterbatasan manusia , sebuah rangkaian perjalanan yang membuka tabir bahwa manusia bergerak melangkah keluar dari budayanya sendiri, rumahnya, pekerjaannya, suku bangsanya yang sarat dengan wacana keterbatasan menuju pada sasaran “harapan” yang terkandung dalam sebuah kepribadian “powerfull” yang menjanjikan yakni “Yesus.” Tindakan “Kuratif” Yesus terhadap orang banyak mengikat simpati hingga pada level kepatuhan yang enggan diputuskan tali kehadiran mereka terhadap Yesus. Tindakan Yesus merupakan “Garansi” bahwa berada pada jarak yang terjangkau dengan Yesus merupakan jarak teraman, jarak dimana mereka dapat memiliki tidur yang lelap, rasa dahaga yang terpuaskan, tabib yang menyembuhkan.,dll.
Dari sudut pandang yang berbeda Yesus mengundang perhatian para murid untuk melihat bahwa Allah membuka sebuah rahasia bahwa “ Kerumunan orang banyak” adalah persembahan, sebuah pemberian Allah untuk ditanggapi secara proaktif, professional. Yesus memperhadapkan murid-muridnya pada eskalasi daya tanggap yang dihidupi oleh semangat “Belas Kasihan”, “kerumunan orang banyak” (baca: kerumunan derita). Mereka semua adalah “komunitas pribadi” yang dikaruniakan Allah bapa untuk dikelola, diorganisir, dipimpin kearah “pelepasan”. Lepas dari pengaruh kuat “kelemahan.”
“Maka kataNya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” (ayat 37) terminasi (akhir) dari teks diatas menjadi rupa cikal bakal panggilan “exchange position” dari murid sebagai follower menuju konsep murid sebagai “Worker” yang selanjutnya dapat kita beri aksentuasi “leader.” Keberadaan diri Yesus sebagai manusia Pelayan menunjuk pada realitas ungkapan keterbatasan resources tenaga layan yang butuh dimultiflikasi (penggandaan). Yesus dalam konteks kebersamaan dapat kita anggap sukses mengambil posisi terdepan dalam “Reproduksi pekerja” yang memiliki kapasitas. Kebersamaan Yesus dengan murid-muridNya sebagai “follower” mematangkan pemahaman mereka akan tindakan Yesus dalam “Format missioner”. Para murid, secara tidak sadar, dipersiapkan menapaki jenjang “reproduksi pekerja” berbasiskan misi “Memanusiakan manusia “ (meminjam istilah Romo mangun Wijaya). Yesus bukan hanya mencatatkan keberhasilan membangun fondasi pelayanan yang jelas, tegas, tepat. Namun sukses membidani lahirnya “pekerja-pekerja” baru yang lahir dari pengaminan ajakan Yesus untuk mendoakan, meminta penggandaan para pekerja kepada sang pemilik Tuaian (ayat 38).
Pada level penyataan akan kebutuhan “pekerja” yang sebelumnya limited/ terbatas, tidak dapat dimaknai adanya keadaan yang minimalis dari tidak adanya kaderisasi pekerja. Rangkaian maknanya jelas, yakni mengincrease (meningkatkan) kuantitas pekerja yang diberi tanggungjawab real. Persiapan yang cukup panjang oleh Yesus terhadap ke-12 pengikut (murid) berhasil mereproduksi “pekerja-pekerja” yang memiliki “the great capacity”menuntaskan misi penuaian.
Sisi menarik lainnya diperlihatkan kepada kita bahwa mega proyek penuaian orang banyak tidak dapat dikerjakan dengan mengabaikan pentingnya “menyiapkan” para pekerja. Yesus telah bertindak dengan cerdas, bijak dan berhikmat dengan terlebih dahulu “ menuai para penuai”(pekerja) sebagai sebuah pekerjaan rumah yang tuntas. Ke- 12 murid adalah komunitas perdana yang dituai oleh Yesus, selanjutnya Yesus menuai ke 70 penuai lainnya,dstnya. Karenanya kerja keras menuai tuaian tidak dapat dioperasionalkan sebelum Tuaian para penuai berhasil dikerjakan. Adalah hal yang irasional menyalakan api semangat menuai tanpa secara dini mengerjakan pekerjaan prasyarat menuai dengan lebih dahulu mereproduksi penuai-penuai yang siap selayaknya ke 12 murid (walaupun jalan panjang pelayanan Yudas terhenti).
Menuai para Penuai, jika dikritisi dengan nalar hukum reproduksi kepemimpinan, menunjukkan kepada kita semua bahwa apa yang dilakukan Yesus merupakan strategi jitu yang dapat dijadikan cetak biru penggandaan para pemimpin yang bertindak sebagai penuai. Konteks teks matius 9:35-37 memberikan acuan anak panah arah kerja penuaian yakni “Tuai dahulu penuai barulah menuai tuaian lainnya”
Setidaknya refleksi pendek tulisan ini, merupakan sebuah “gagas-tawar”tunggal untuk membidik sisi lain yang patut diperhatikan dalam mengaminkan misi penuaian yakni peran penting “penyiapan” kader-kader penuai yang semestinya dapat diagendakan secara strategic. Strategik menyangkut perencanaan dan penerapan yang cerdas, tanggap dan cepat. Sebuah pelepasan para pekerja yang “totality” telah mendapat pembekalan. “POWERFULL” diladang misi.Pesan singkatnya Sudahkan para “Penuai” siap untuk dituai? Jangan sampai tuaian banyak, pekerja bukan hanya sedikit, ironis membuka pada fakta ketiadaan para penuai tersebut.

Tanah Grogot 15/2/09

Selasa, 03 Februari 2009

Sedikit Iman tidak masalah asal ukurannya “sesawi”
By. BL Padatu
Mungkin kita masih ingat gaya bertutur jenakanya Issa, seorang comedian yang kerap tampil dalam paket jenaka Democrazy yang tayang pada saluran TV One. Sang Komedian kerap membolak-balik sebuah ungkapan dengan format “sedikit-sedikit….kok cuma sedikit”. Ungkapan jenaka tersebut jika kita rumuskan dalam kaitan dengan persoalan Iman kira-kira seperti ini; “Sedikit-sedikit Iman, sedikit-sedikit iman, Iman kok Cuma sedikit!!” . Boleh jadi ungkapan tersebut dapat terbaca sepintas adanya keheranan sekaligus tanda tanya Iman kok Cuma sedikit? Mengapa kita hanya punya iman sedikit, dan lagi-lagi pertanyaannya sedikit sekali menemukan orang yang beriman. Namun apa yang dimaksudkan dalam ungkapan jenaka ini sesungguhnya tidak dapat diberlakukan dalam konteks kehidupan orang percaya, sebab ukuran “sedikitnya” Issa sang comedian bukanlah sesuatu yang menakar kualitas kesedikitan Iman yang benar-benar sedikit, sebab wilayah Iman adalah wilayah “adikodrati”, wilayah KeTuhanan yang memandang “Sedikit” adalah “banyak”, “kuat” dll.
Sedikit Iman memiliki makna yang sangat dalam, rentangan jangkauan yang luas. Walaupun kita memiliki iman yang sedikit, namun tidak sedikit yang diberikan Allah terhadap refleksi iman kita yang sedikit. Bagi Pepatah lama sedikit demi sedikit akan membentuk bukit, namun bagi Allah sedikit-demi sedikit akan memindahkan bukit.
Karenanya jika anda memiliki iman yang sedikit, asal ukurannya “Sesawi” kita adalah orang kuat. Jangan pernah dipatahkan dengan kesan bahwa sedikit adalah kecil dan besar adalah banyak. Semut kecil selalu memiliki ambisi besar untuk mengangkut remah-remah makanan yang duakali lebih besar dari ukuran badannya. Sedikit berdoa bukanlah hal yang harus dipertentangkan kebermaknaannya. Sedikit membaca firman bukanlah masalah bagi yang menemukan satu maksud atau kehendak Allah dalam hidupnya. Sedikit mempercayai bukanlah akhir atau ujung dari Iman anda. Sedikit memberi juga bukanlah perkara yang dipersoalkan Allah.
Masalahnya sesungguhnya bukanlah bahwa kita memiliki iman yang sedikit. Masalah besarnya adalah “jika sedikitpun tidak ada iman”. Jika kita tidak memiliki sedikit iman akan menjadi sebuah awalan bencana. Karenanya enjoy aja dengan “Iman yang sedikit dengan caliber atau ukuran Sesawi” Saran praktis: teruslah berdoa sedikit demi sedikit, bacalah firman sedikit demi sedikit, sedikit tambahkan keyakinan anda pada Allah, dan sedikit lagi…terus sedikit lagi sampai keraguan anda tinggal sedikit. HIDUP SEDIKIT!

Matius 17
17:20 Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.