Minggu, 25 Januari 2009

Pelayan pembelajar
By. BL Padatu
Sebuah Nasehat popular bagi kebanyakan umat yang sedang menanti-nanti sosok pendeta atau pelayan baru ketika musim mutasi atau pergantian periodesasi pelayan sedang beralur, “mintalah Tuhan dalam doa anda untuk mengirimkan, memilih, menetapkan seorang pelayan yang memiliki kegemaran membaca buku”!
Nasihat seperti ini sesungguhnya sedang menarik suatu ekspektasi umat yang merasakan mahapentingnya seorang pelayan yang memiliki Hoby membaca buku sebagai sebuah instrument pembaharuan, penyegaran pelayanan. Esensi yang dapat ditangkap sesungguhnya bukanlah semata-mata seorang pelayan yang sedang membaca sebuah benda yang bernama “Buku”, lebih dari itu sebuah aktivitas sehat yang memungkinkan seorang pelayan to be thingker, reflector, motivator segar yang giat menimba resources informative guna membangun fondasi kuat serta citra rasa yang teridentifikasi sebagai “Menu segar”, profetik sekaligus sanggup membaca dan masuk kedalam ruang budaya kekinian dimana umat bereksistenti.
Terlepas dari kecurigaan bahwa proses pembelajaran berkelanjutan bagi seorang pelayan sebagai sebuah upaya yang menyepelekan peran roh kudus yang sanggup memperlengkapi seorang pelayan dalam segala hal, perlulah kita merefleksikan ajakan menjadi pelayan pembelajar yang memasukkan “kegiatan membaca banyak buku, sumber-sumber informasi lainnya” sebagai sebuah aktivitas yang tidak terlepas dari lingkar jangkauan “Roh Kudus”. Roh Kudus dapat memberkati informasi yang berhasil digali dan ditemukan seorang pelayan pembelajar untuk membangun perspektif dalam ruang pikir umat dan menjadi “trigger” yang memicu ide-ide perubahan bagi pertumbuhan keimanan umat.
Pelayan yang belajar adalah pelayan yang menyadari adanya ragam karunia atau talenta yang memerlukan semacam “material” pematangan atau pupuk. Materi-materi informative tersebut berfungsi sebagai anasir sistemik, katalisator yang membangunkan dan mensintesiskan instrument baru yang jauh lebih potensial sebagai “penghancur” batu-batu cadas kebebalan, kokohnya pegangan prinsip-prinsip kadarluarsa. Instrumen baru tersebut dapat mewujud sebagai “mata pisau bedah yang ketajamannya sanggup membedah, mengeluarkan sebuah penyakit dari tubuh rohani seseorang dengan lebih halus, cepat dan nyaris tanpa rasa sakit permanen.
Paulus sebagai seorang pembelajar sejati mampu mendobrak dinding penjara untuk memasukkan buku-buku masternya untuk menjadi teman pembangun diri dalam kakunya ruang penjara. Ia menulis kepada muridnya untuk segera mengirimkan ia buku-bukunya. Billy Graham sendiri dalam pidatonya dihadapan ribuan pendeta membagi pesan yang menyentak dan menimbulkan keheranan, takjub dari seorang yang telah diakui sebagai Hamba Tuhan yang paling fenomenal di abad 21. Sebagai Hamba Tuhan yang tidak diragui lagi eksistensi Urapan Tuhan dalam rentang pelayanannya. Seorang Tuhan yang telah membukukan banyak “Penyertaan Allah bagi Bangsanya dan Negaranya serta meluas pada warga Dunia”, ia menyatakan kerinduan dalam nada datar penyesalannya serta harapan jika Ia diberi lagi kesempatan untuk berkarier dalam karya profetik ia mendaftar 2 hal yang paling mendapat perhatiannya yakni menjadi Hamba Tuhan Yang berdoa, dan Hamba Tuhan yang Membaca” Ia mengakui bahwa selama ini Ia telah banyak berkhotbah, namun terlampau sedikit membaca. Tegasnya ia berkehendak untuk mempertukarkan skala perioritas dari banyak berkhotbah menjadi banyak membaca dan berkhotbah secara seimbang.
Suka atau tidak seorang pelayan yang belajar merupakan sosok yang menempati panggung kepemimpinan dengan bidang beban tanggungjawab yang Maha berat. Ia senantiasa menjadi sosok yang akan memaparkan sasaran dan tujuan sebuah perjalanan Umat yang digerakkan oleh misi dan visi yang sehat, kreatif, inovatif. Dalam bingkai kepemimpinan, pelayan pembelajar dituntut bekerja dalam konteks efisien dan efektif, berkeadilan. Seseorang tidak akan dapat efektif dan efisien serta berkeadilan dengan basic knowledge yang minim, rata-rata. Seorang tidak dapat berjalan jauh melampaui limit pengetahuaannya. Seorang dengan resources knowledge yang terbatas akan berjalan secara penuh dalam garis edar batas pengetahuannya semata. Batu jarak atau Kilometer stone pengetahuannya akan menjadi penanda batasan yang dapat dibaca jauhnya rentangan pengetahuannya.
Boby Candra menulis sebuah buku berjudul “Bahan Bakar sang Pemimpin” Proses melahap buku menjadi sebuah aktivitas mengincrease bahan bakar pemimpin untuk dapat memanjangkan dimensi waktu, tenanga sang pemimpin. Perjalanan seorang pelayan yang adalah pemimpin adalah perjalanan berkaliber jarak jauh, jika diibaratkan dalam panggung atletik, ia adalah pelari jarak jauh yang membutuhkan energy besar untuk tiba pada garis finish. Salah satu cara memperoleh Energi seorang pelayan adalah “Belajar”
Seorang pelayan yang enggan dan tidak memiliki otot-otot belajar yang kuat akan membawa umat mendengarkan sebuah khotbah yang bersumber dari teks atau bahan nas yang berbeda namun senantiasa terbahaskan dengan kemiripan yang nyaris serupa, cenderung terulang-ulang, dan gampang ditebak oleh umat, bahkan nyaris berdampak pada keterburu-buruan untuk menyudahi Khotbah dikarenakan tidak nyaman ketika disampaikan serta mengundang banyaknya jamur-jamur protes psykologis melalui gerakan-gerakan tubuh, nafas yang sangat mengganggu dll konsentrasi sang pelayan.
Menjadi seorang pelayan pembelajar adalah starting point yang penting menjadi seorang pelayan yang Baik, efektif,produktif. Calvin menulis, “Tidak seorangpun yang akan menjadi pelayan Firman Allah Yang baik tanpa lebih dulu menjadi seorang pembelajar yang baik. Superegon lebih tegas lagi mengatakan bahwa ia yang tidak lagi menabur dalam belajar takkan lagi menuai di atas mimbar. Philip Brooks 1877 dalam kesempatan sebuah kuliah mengutifkan satu rangkaian pesan yang mengagumkan dan tajam,”Hidup seorang pelayan haruslan menjadi seorang yang banyak mengumpulkan…berlatih belajar demi kebenaran, berlatih berpikir demi buah-buah yang lebat dan demi kegembiraan dalam berpikir itu sendiri, maka khotbahmu akan menjadi seperti semburan air segar suatu mata air, dan bukan seperti sebuah letusan yang keluar dari sebuah balon. Jhon stott dalam bukunya “The Living Church” menggarisbawahi bahwa sebuah khotbah yang baik adalah hasil dari suatu upaya eksegesis yang menajubkan. Usaha tafsir ini tentunya hanya dapat dilakukan oleh seorang pelayan dengan gelar berkaliber “Pembelajar”.
Penekanan-penekanan sejenis juga datang dari seorang pastur atau gembala Dr. sunday adeladja, seorang pria yang diurapi menjadi pelayan yang sangat diperhitungkan oleh pihak Pemerintah, salah satu pilar reformasi di ukraina yang menancapkan pengaruh kekristianian dalam pengambilan kebijakan-kebijakan birokrasi. Dalam perjalanan pelayanannya ia mengakui tidak dapat dipisahkan dari kokohnya ia meletakkan fondasi Intelektual sebagai bagian dari kokohnya design pelayanannya. Ia berhasil merohanikan hal tersebut dengan memberikan pengakuan bahwa menjadi pelayan pembelajar adalah sebuah proses real menajamkan anak panah yang siap tersimpan ditabung panah dan siap dipakai ditangan Allah. Secara radikal ia menegaskan bahwa pelayan yang tidak menyukai aktivitas belajar adalah “anak panah yang tumpul” yang tidak dapat berhadap-hadapan dengan misi memerangi kegelapan. Seorang pelayan membutuhkan Pengetahuan.Ia menyarankan segenap pelayan pembelajar untuk memaksa dirinya mempelajari banyak hal sebisa yang dilakukan.
Salomo dalam awal-awal kitabnya mengambarkan bahwa Allah membangun “semesta alam” dalam tiga bahan dasar yakni Himat sebagai fondasi, pengertian sebagai penegak, pengetahuan sebagai pengatur (Amsl 3:19-20). Totalitas diri seorang pelyan pembelajar haruslah merupakan integrasi ketiga unsur hakiki. Totalitas tersebut bukanlah sebagai sebuah kompilasi semata namun berupakan “In Part” yang tak terceraikan. Keutuhan pelayan pembelajar harus dapat mencapai kepemilikan Hikmat, pengertian dan Pengetahuan, tanpa mempertukarkannya atau memberi bobot lebih dan kurang. Totalitas integrasinya adalah totalitas proporsional.
Seorang pelayan pembelajar idealnya adalah seorang pembaca “Rakus”, seorang predator “Buku” bukan kutu buku yang oleh Taufiq Ismael, seorang pujangga Indonesia ,sekedar menggerogoti pinggiran buku. Seorang pelayan pembelajar adalah seorang kolektor informasi sekaligus reflector dan distributor. Seorang pelayan pembelajar akan memegang Firman Allah (Kitab) ditangan kanannya dan Buku-buku sekuler di tangan Kirinya. Ia senantiasa maju dalam dimensi profan dan dimensi sekuler.ia adalah seorang yang tidak gagap dengan hal “aktualitas”, ia adalah “Rekonstruktor” yang paham menarik benang merah kedahuluan dan kekinian tanpa mengaburkan salah satu dimensi tersebut.seorang pelayan adalah seorang yang sensitive, ia tidak rela tertinggal lokomotif informasi, ia sangat tidak menyukai dan membiarkan begitu saja fenomena yang khas tanpa sebuah eksplanasi yang memadai. Ia adalah peribadi yang senantiasa gelisah, pribadi yang senantiasa menaikat tingkatan lompatan yang terus meninggi hingga pada level kerumitan yang jelimet untuk diruntutjelaskan. Karena ia terus membackup dirinya dengan berbagai data-data informative yang tinggi nilai gizinya, ia senantiasa bergaul karib dengan pemikiran-pemikiran besar disegala jaman untuk menstimulus dirinya berperan sebagai pribadi yang adalah “Salah satu” dari Pribadi “salah satu lainnya”. Jika Hitler, lenin, stalin adalah pribadi “salah satu” yang dapat merubah jalannya sejarah kearah yang salah, maka pelayan pembelajar akan berupaya mati-matian mengkonstruk pribadi “salah satu” yang dapat mendrive jalannya arah sejarah kearah Yang benar yakni arah yang Allah inginkan.Pribadi pelayan pembelajar adalah pribadi pelayan yang “Siap” dijumpai oleh Kesempatan, membangun kesempatan untuk menjadi alat menyalakan api “Kemulian Tuhan”

Salam pelayan pembelajar , Tanah Grogot 26 jan 09

Jumat, 23 Januari 2009

dialog otoritas fungsi dan otorotas posisi dalam kepemimpinan

OTORITAS POSISI VERSUS OTORITAS FUNGSI;
Refleksi Teologis dua sisi mata Uang Kepemimpinan
By. BL. Padatu

Kepemimpinan merupakan penamaan sistematis terhadap peran dan tanggung jawab seseorang dalam struktur kelembagaan sebuah organisasi yang dapat dianggap memegang kunci kendali kesuksesan.
Pada satu sisi lingkungan kemanagerialan mendaulat sebuah kebenaran yang tidak dapat dipatahkan , bahwasanya kepemimpinan merupakan unsur penting indikator kemajuan atau keberhasilan sebuah lembaga atau organisasi (tak tertinggal Institusi Gereja di dalamnya).
Di sisi lain, peran kepemimpinan dapat menciptakan sisi gelap dari sebuah perjalanan mencapai tujuan.
Peran kepemimpinan seseorang dalam keorganisasiannya terikat dari dua aspek yang tidak terlepas satu dengan lainnya sekaligus saling mempengaruhi kedua-duannya. Aspek dimaksud adalah otoritas posisi dan otoritas fungsi.
Otoritas posisi dan otoritas fungsi merupakan dua item dasar yang membelah peta permasalahan dalam arus kepemimpinan dalam unit-unit kelembagaan maupun organisasi.Banyak pakar kepemimpinan meletakkan keyakinan yang kuat terhadap sumber masalah yang terjadi dalam kerangka kerja kepemimpinan. Kiblat kepemimpinan selalu menyoal peran faktual seorang pemimpin dalam menstruktur kebijakan dan kekuasaan yang melekat dengan hak kepejabatannya.

A. Sebuah sisi kepemimpinan yang diperdebatkan

Seiring waktu dan aplikasi peran kepemimpinan para pemimpin diberbagai kelembagaan dan organisasi telah membawa sebuah wilayah debat baru tentang aplikasi otoritas posisi dan otoritas fungsi.
Fakta kontemporer telah menarik sebuah hipotesa argumentatif bahwa efektifitas kepemimpinan telah diracuni oleh jangkauan tidak seimbang dari peran otoritas posisi yang distandarkan oleh pemimpin. Dan hal ini secara terbuka dipraanggapkan sebagai penyalagunaan bahkan sampai pada pelanggaran kode etik kepemimpinan profesional.
Orang tidak mengikuti seseorang karena gengsi sosial (kedudukan atau posisi) seorang pemimpin, tetapi karena kinerja profesional sang pemimpin yang diarahkan pada upaya menciptakan dan memelihara sebuah kelompok yang mendapatkan perhatian dan kebutuhan yang sama.
Sebuah rangkaian implementasi kepemimpinan dari penonjolan otoritas posisi hanya mendatangkan penyataan “Manipulasi” bukan “Motivasi”
Gereja dalam wacana kelembagaan atau keorganisasiannya, juga mengalami ketidak beruntungan dengan adanya issue kepemimpinan dengan pengedepanan otoritas posisi dalam paradigma kepemimpinannya. Dan hal yang dapat dibingkai manis sebagai ironinya praktek kepemimpinan gerejawi adalah Gereja yang mengosongkan diri bukan lagi dimengerti sebagai gereja yang rendah hati, gereja yang dirindukan, tetapi gereja yang Kosong alias ditinggalkan oleh umatnya. Apakah gereja ini mengalami kekosongan kepemimpinan ?
Gereja bukanlah sebuah institusi yang mengalami kekurangan pemimpin dari aspek kuantitasnya. Tak terhitung banyaknya institusi pendidikan tenaga pemimpin gerejawi. Dan ini juga didukung dengan antusiasme minat para calon-calon pemimpin Gerejawi yang bertebaran dipersada Nusantara kita.
Kontroversi keyakinan aplikatif baik terhadap defenisi kepemimpinan maupun aktualisasi peran kepemimpinan yang kehilangan daya seimbangnya, yakni antara sumber daya kepemimpinan yang berasal dari otoritas Posisi dengan Otorisas Fungsi.
Dalam tulisan ini, saya lebih suka mengkondisikan dua item sumber daya kepemimpinan ini sebagai “Dua sisi Mata Uang Kepemimpinan”, suatu istilah yang mirip dan khas milik Joyce Meyer dengan “Visi sebagai mata Uangnya Kepemimpinan”, namun berbeda makna dan pemakaiannya dengan tulisan ini.
Tulisan ini merupakan kebun makna yang digagas dalam rangka turut meragamkan wacana replektif, suatu niatan dalam upaya memantapkan study kepemimpinan yang etikal dan propesional dalam harapan pemenuhan dini dari kerangka tekstual Injil Lukas 13: 29,tentang berbondong-bondong orang yang datang duduk, minum dan makan dalam satu persekutuan dalam kerajaan Allah, yang telah bergerak secara progresif diwaktu sekarang.


B. Otoritas sebagai Konsep Kekuasaan

Definisi Otoritas adalah kekuasaan yang diberikan kepada lembaga dalam masyarakat yang memungkinkan para pejabatnya menjalankan fungsinya. Otoritas dapat berarti pula hak untuk bertindak, hak melakukan tindakan atau hak membuat peraturan untuk memerintah orang lain. Otoritas dapat didefinisikan pula sebagai Pengaruh yang melekat pada dirinya dalam kapasitas jabatannya.
Keragaman definisi otoritas demikian telah membawa kita pada pemetaan makro prihal modul-modul kepemimpinan yang berbasis pada jangkauan kewenangan, hak kepejabatan atau hak posisi
Pada kebanyakan kasus,disadari atau tidak, substansi definisi tersebut lebih banyak terbaca secara parsial hanya sebagai pendeskripsian wilayah otoritas posisi.
C. Otoritas posisi versus otoritas fungsi; dua sisi mata uang kepemimpinan
Pemimpin tidak dapat melepaskan atau mengabaikan salah satu dari sisi mata uang kepemimpinannya. Ia tdk dapat mengabaikan posisinya dan menajamkan fungsinya semata. Sebaliknya Ia tidak dapat menajamkan posisinya dan lemah dari sisi fungsinya.
1. Kritik peran Otoritas Posisi
Jhon Maxwell, salah seorang yang digelari resi kepemimpinan abad ini dalam bukunya “The 21 Irrefutabl Law of Leadership”, menuturkan aspek kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan Orang bukan kepemimpinan Posisi. Ia menuturkan keyakinannya bahwa kepemimpinan posisi mungkin mendatangkan rasa hormat tetapi miskin kepatuhan.
Otoritasi Posisi, dalam konsep tunggalnya, menjadikan manusia sebagai mesin yang mengusahakan pembudidayaan kekuasaan sebagai ikon legalitas kepemimpinan. Sehingga efektivitas pembenarannya selalu diproduksi dari bangku kekuasaan sebuah posisi, bukan pada berfungsi tidaknya sesuatu dalam lingkup organisasi.
D. Paradoks Otoritas kepemimpinan Gerejawi
Howard snyder menulis, “Gereja adalah sebuah teokrasi (yang diperintah Oleh Tuhan) bukan demokrasi. Tetapi ini bukan teokrasi hirarkis yang mengikuti susunan mulai dari Tuhan lalu turun kepada orang awam. Sebaliknya ini merupakan sebuah keluarga di mana Tuhan yang menjadi puncak pemerintah, tetapi dengan berbaik hati dan penuh kasih dalam suatu cara yang membangun dan meneguhkan setiap anggota keluarga serta membuat hierarki tidak berguna.
Buah pikir Howard snyder ini menawarkan sebuah penegasan yang tidak terbantahkan lagi, dimana Ia mempertentangkan konsep hirarkis Tuhan dengan Hirarkis Manusia. Konsespi integrasi kehirarkian Tuhan terputus garis hubungnya dengan manusia. Manusia tidak mendapat peran mengejawantahkan konsep kehirarkian dalam kerja pelayanannya.
Hal lain yang menarik dari paradok kehirarkian Tuhan adalah lenyapnya konsepsi kehirarkian Tuhan dalam hubungan yang sebenarnya dengan manusia. Kongkritnya dapat dibahasakan Kehirarkian Tuhan bukanlah soal Kedudukan atau posisi tetapi pada perananNya.
A. Otoritas Sebagai Anak Panah Kepemimpinan
1. Seorang Pemimpin sedari awalnya memiliki ketajaman yang diberikan kepada seseorang.
2. Ketidak seimbangan peran kedua sisi mata uang kepemimpinannya berakibat pada terjadinya penumpulan.
3. Otoritas posisi yang tidak dibarengi otoritas fungsional, berakibat pada pembalikan arah mata panah kepemimpinan, bahkan cenderung menembak diri sendiri. Otoritas kepemimpinan seseorang seharusnya melesat keluar dari diri seseorang menuju kepada Tujuan bersama atau tujuan organisasi.Seorang pemanah sedari awal memfokus panahannya pada sesuatu yang dia sadari benar berada diluar dirinya.

B. Otoritas dalam Inherenitas berimbang; melahirkan Transforming Leadersip
Kepemimpinan dalam arti penuh tidak saja memegang posisi tetapi kekuasaan dan kekuasaan tersebut terbaca sebagai peran potensi kepemimpinan yang terfungsikan.
C. Refleksi Teologis dua mata uang kepemimpinan.
1. Otoritas Ilahi adalah otoritas yang digerakkan dari kerja Iman
2. Otoritas Diri sebagai personifikasi dari kekuatan Ilahi
3. Otoritas diri yang dikosongkan; kepemimpinan Yesus adalah kepemimpinan yang mengeluarkan potensi kediriaannya menjadi bukti faktual yang dilandasi atas penghormatan hidup orang lain, bukan penghormatan atas dirinya.

Best my regard

Selasa, 13 Januari 2009

"Pahitnya sebuah Nazar"

“Pahitnya sebuah Nazar”
BL Padatu

Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: "Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur." (Hakim-hakim 11:35)

Cermin Sejarah:
Yefta seorang yang terusir dari lingkungan keluarga, hanya karena lahir dari seorang “perempuan lain”. Terbuang di tanah Tob dan menjadi bagian dari para petualang dengan profesi sebagai perampok-perampok yang disegani sekaligus ditakuti. Melalui suatu situasi krisis militer, perang antar bani Amon dan Israel, keberadaan Yefta terpanggil kembali oleh para tua-tua israel yang memandang tinggi derajat atau kemampuan Yefta dalam soal-soal peperangan. Mereka sangat yakin dengan keahlian Yefta, terlebih penyertaan Allah , Israel akan menjadi bangsa pemenang sepanjang masa.
Sebagai abdi atau hamba yang senantiasa meletakkan dasar keyakinan kepada Allah pemenang, Yefta mengikatkan “Nazar Iman” kepada Allah untuk memberikan kepadanya “kemenangan Agung” berhadapan dengan Bani Amon. “apa yang pertama sekali keluar dari pintu rumahku sekembalinya aku dari pertempuran,,itu adalah kepunyaanMu dan akan menjadi korban bakaran” demikianlah Yefta menuturkan “Nazar Iman”
Kemengan di berikan bagi Yefta dan bangsa Israel. Perayaan membahana disepanjang lembah, pengunungan, jalan yang dilalui oleh para barisan tentara Yefta yang menang mutlak karena “Perbuatan Allah”. Naas bagi Yefta, Putri satu-satunya, pewaris kehormatan Yefta, keluar menabuhkan rebana penyambutan sang Pahlawan gagah perkasa sekaligus Ayah yang sangat membanggakan.
Terbelalak mata sang Pahlawan, panglima tertinggi barisan tentara Allah yang Maha Tinggi, takkala sorot matanya menangkap gambar diri anak kesayangannya menari-nari bak ‘sebuah persembahan yang digiring ke mezbah pengorbanan’ . Melorotlah segala kekuatan yang ia miliki, putuslah gambaran masa depan bagi masa depan anaknya. Tangisnya pecah seketika, meraung-raung,meratap, mengoyakkan pakaian kebesaran seorang panglima nan gagah perkasa, terkulai dan ambruk seketika terhempas di tanah dukacita, tanah yang sebentar lagi menjadi saksi kesetiaan Imannya pada Nazar yang diikatkan kepada Allah sembahannya.
“Lakukanlah apa yang telah menjadi Nazar ayah kepada Allah hanya saja biarkan aku menangisi kegadisanku” sang Putri meyakinkan seorang ayah yang sedang terhimpin beban “Nazar Imannya”.
Cermin kita:
Terhadap cerita diatas; kita mungkin bertanya, mengapa Allah begitu jahatnya membiarkan Yefta mengeksekusi seorang anak yang kehilangan segalanya persis dihadapanNYa, didalam ikatan janji atau Nazar Iman. Mengapa Allah tidak melakukan hal yang sama ketika Abraham hendak menunjukkan kesungguhan Imannya kepada Allah melalui pengorbanan sembelihan Putra kesayangannya, dan segera mengirim MalaikatNya menangkap tangan seorang ayah yang sejurus menghujamkan belati pada lingkar leher Ishak. Mengapa Allah membiarkannya. Memang sangat sulit untuk mengambil posisi pada dua kutub yang saling berlawanan. Pada kutup yang satu kita dapat menentang pembiaran Allah dan kutub yang lain menentang Yefta yang tidak mau membatalkan dan bernego kembali untuk menawarkan kepada Allah alternative korban bakaran. Toh Allah adalah Allah pengampun, Allah yang tidak suka menerima Korban Bakaran berupa Manusia. Persembahan yang meninggalkan parut luka derita yang mendalam.
Bagaimana menyikapi persoalan ini? Tentunnya problem “pahitnya Nazar Iman Yefta” tidak dapat kita jelaskan berdasarkan kemampuan nalar kita sebagai manusia yang terpisah jauh dari rentang kehidupan Yefta dengan Allah. Persoalan “nazar Iman” Yefta hanya dapat direka-reka atau ditafsir dalam rentangan jawaban yang tidak akan final dapat menjelaskan latar belakang sesungguhnya. Kebingungan dan kita terhadap “Nazar Iman” Yefta adalah kebingungan abadi yang tentunya tetap menjadi Rahasia antara Allah dan keluarga Yefta. Apapun perasaan yang muncul sebagai respond dan cara kita menyikapi peristiwa cara “Beriman” yang anomali (Baca tidak biasa) sebagaiman yang ditunjukkan Yefta hendaknya tidak membuat kita mengutuki baik kepada Allah maupun Yefta sendiri.
Mari kita menjaga garis batas untuk tidak menghakimi akhir atau muatan “Nazar Iman” ala Yefta. Buat kita sekarang adalah bagaimana menggelar upaya mengkritisi hal “Cara Membangun Nazar Iman” yang kerap kali mewarnai cara kita menunjukkan keseriusan daya tanggap kita terhada Allah dan terhadap segala kebutuhan hidup kita. Nazar adalah bagian dari budaya keagamaan yang mendapat tempat dalam rentang kebenaran Firman Allah. Sejatinya kita perlu melakukan nalar Alkitabiah yang proporsional (berimbang), sehat dan turut melibatkan akal sehat(akal budi). Kesehatan pikiran kita dalam menalar “Nazar Iman” adalah kebenaran “Bernazar” yang di bangun oleh landasan Firman Allah yang mantap. Allah tidak meletakkan “Nazar Iman” sebagai tuntutan untuk anak-anak Tuhan mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Allah tidak ingin kita latah dalam “bernazar”. Allah menghendaki anak-anaknya membangun kerangka sadar diri; sadar akan apa yang dijanjikan, sadar akan apa yang diminta, sadar akan harga yang harus dibayar bagi seorang yang bernazar. Yang paling harus diingat dan dicatat dalam benak kita, “Nazar Iman” bukanlah satu-satunya cara untuk mendapatkan sesuatu. “Nazar Iman” bukanlah alat barter atau alat tukar sesuatu. “Nazar Iman” adalah salah satu bagian (Ingat: salah satu, bukan segala-galanya) untuk merefleksikan kedalaman kesungguhan kita dalam BerTuhan. “Nazar Iman” adalah mekanisme yang sehat, sarana cara merefpelksikan ibadah.
Mintalah maka kepadaMu akan diberikan, demikian Firman allah mengingatkan. Allah tidak mengatakan “Bernazarlah dulu” maka akan kuberikan sesuatu yang diinginkan hatimu. Jangan jadikan “Nazar Iman” sebagai gaya hidup kekristenan anda tanpa didahului dengan pencaharian pemahaman yang tuntas dan menyeluruh terhadap peranan “Nazar Iman” dalam kehidupan kekeristenan kita. Sangat sehat untuk mencari dan menggali pemahaman tentang “Nazar Iman” kepada Hamba-hamba Tuhan atau saudara-saudara seiman yang telah memahami ruanglingkup “Nazar Iman”. Sebaiknya jangan lakukan “Nazar Iman” tanpa menimbang konteks dan kepentingannya.
Kita dapat saja melakukan “Nazar Iman” untuk kepentingan aneka permohonan Kepada Tuhan misalnya mencari Jodoh yang tidak kunjung datang; mencari peningkatan derajat kehidupan ekonomi; karier atau kedudukan; kesembuhan terhadap penyakit yang kronis. Hanya saja waspadalah untuk tidak melalukan kesalahan yang sama dengan “Sindrom Nazar Yefta”. “Nazar Iman” bukanlah tool atau instrument memaksa Allah berbuat sesuatu kepada kita. Allah dapat memberikan sesuatu kepada Anda Tanpa harus melakukan deal-deal versi “Nazar” . Sekali lagi jika anda ingin bernazar, berkonsultasilah kepada pembimbing atau mentor rohani anda. Dan perlu untuk ditambahkan dan ditegaskan, waspadalah keterikutan keluarga anda atau orang lain dalam nazar yang dibuat, sebagaimana kesalahan yang dibuat Yefta tanpa sadar menyeret kehidupan Putrinya kedalam bentuk atau isi “Nazar Imannya”
Ulangan 23:21-23 "Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu. Tetapi apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu. Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan kepada TUHAN, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri."

Yogyakarta 29/11/2008