“Menuai Pekerja, menuai Tuaian”
Refleksi Matius 9:32-34
By. BL Padatu
Awalan tahun karya pelayanan Yesus adalah hari-hari rekrutmen para murid-murid Yesus sebagai pengikut, Deciples as “Follower”. Para murid diikutsertakan dalam sekolah informal berkenaan dengan core atau inti perjalanan pelayanan Yesus. Secara simplistic, Yesus mementori ke 12 murid untuk belajar banyak rupa-rupa tanggungjawabNya terhadap komunitas orang banyak yang senantiasa berkerumunan dengan semangat yang sangat kuat untuk memperoleh sesuatu yang “Berbeda” dari sosok seorang Yesus. Kepada para murid, Yesus mengaikatkan penglihatan mereka bagaimana bersikap terhadap kelemahan fisik dan jiwa manusia; sembuhkan orang sakit; bangkitkan orang mati; usirlah setan-setan, setidaknya daftar ini masih akan panjang jika diuraikan secara Alkitabiah, sebuat daftar panjang agenda atau misi visioner kedua belas murid bagi semua generasi yang dapat mereka jangkau.
Efisode perjalanan orang banyak mengikut Yesus menjadi fenomena protektif bagi keterbatasan manusia , sebuah rangkaian perjalanan yang membuka tabir bahwa manusia bergerak melangkah keluar dari budayanya sendiri, rumahnya, pekerjaannya, suku bangsanya yang sarat dengan wacana keterbatasan menuju pada sasaran “harapan” yang terkandung dalam sebuah kepribadian “powerfull” yang menjanjikan yakni “Yesus.” Tindakan “Kuratif” Yesus terhadap orang banyak mengikat simpati hingga pada level kepatuhan yang enggan diputuskan tali kehadiran mereka terhadap Yesus. Tindakan Yesus merupakan “Garansi” bahwa berada pada jarak yang terjangkau dengan Yesus merupakan jarak teraman, jarak dimana mereka dapat memiliki tidur yang lelap, rasa dahaga yang terpuaskan, tabib yang menyembuhkan.,dll.
Dari sudut pandang yang berbeda Yesus mengundang perhatian para murid untuk melihat bahwa Allah membuka sebuah rahasia bahwa “ Kerumunan orang banyak” adalah persembahan, sebuah pemberian Allah untuk ditanggapi secara proaktif, professional. Yesus memperhadapkan murid-muridnya pada eskalasi daya tanggap yang dihidupi oleh semangat “Belas Kasihan”, “kerumunan orang banyak” (baca: kerumunan derita). Mereka semua adalah “komunitas pribadi” yang dikaruniakan Allah bapa untuk dikelola, diorganisir, dipimpin kearah “pelepasan”. Lepas dari pengaruh kuat “kelemahan.”
“Maka kataNya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” (ayat 37) terminasi (akhir) dari teks diatas menjadi rupa cikal bakal panggilan “exchange position” dari murid sebagai follower menuju konsep murid sebagai “Worker” yang selanjutnya dapat kita beri aksentuasi “leader.” Keberadaan diri Yesus sebagai manusia Pelayan menunjuk pada realitas ungkapan keterbatasan resources tenaga layan yang butuh dimultiflikasi (penggandaan). Yesus dalam konteks kebersamaan dapat kita anggap sukses mengambil posisi terdepan dalam “Reproduksi pekerja” yang memiliki kapasitas. Kebersamaan Yesus dengan murid-muridNya sebagai “follower” mematangkan pemahaman mereka akan tindakan Yesus dalam “Format missioner”. Para murid, secara tidak sadar, dipersiapkan menapaki jenjang “reproduksi pekerja” berbasiskan misi “Memanusiakan manusia “ (meminjam istilah Romo mangun Wijaya). Yesus bukan hanya mencatatkan keberhasilan membangun fondasi pelayanan yang jelas, tegas, tepat. Namun sukses membidani lahirnya “pekerja-pekerja” baru yang lahir dari pengaminan ajakan Yesus untuk mendoakan, meminta penggandaan para pekerja kepada sang pemilik Tuaian (ayat 38).
Pada level penyataan akan kebutuhan “pekerja” yang sebelumnya limited/ terbatas, tidak dapat dimaknai adanya keadaan yang minimalis dari tidak adanya kaderisasi pekerja. Rangkaian maknanya jelas, yakni mengincrease (meningkatkan) kuantitas pekerja yang diberi tanggungjawab real. Persiapan yang cukup panjang oleh Yesus terhadap ke-12 pengikut (murid) berhasil mereproduksi “pekerja-pekerja” yang memiliki “the great capacity”menuntaskan misi penuaian.
Sisi menarik lainnya diperlihatkan kepada kita bahwa mega proyek penuaian orang banyak tidak dapat dikerjakan dengan mengabaikan pentingnya “menyiapkan” para pekerja. Yesus telah bertindak dengan cerdas, bijak dan berhikmat dengan terlebih dahulu “ menuai para penuai”(pekerja) sebagai sebuah pekerjaan rumah yang tuntas. Ke- 12 murid adalah komunitas perdana yang dituai oleh Yesus, selanjutnya Yesus menuai ke 70 penuai lainnya,dstnya. Karenanya kerja keras menuai tuaian tidak dapat dioperasionalkan sebelum Tuaian para penuai berhasil dikerjakan. Adalah hal yang irasional menyalakan api semangat menuai tanpa secara dini mengerjakan pekerjaan prasyarat menuai dengan lebih dahulu mereproduksi penuai-penuai yang siap selayaknya ke 12 murid (walaupun jalan panjang pelayanan Yudas terhenti).
Menuai para Penuai, jika dikritisi dengan nalar hukum reproduksi kepemimpinan, menunjukkan kepada kita semua bahwa apa yang dilakukan Yesus merupakan strategi jitu yang dapat dijadikan cetak biru penggandaan para pemimpin yang bertindak sebagai penuai. Konteks teks matius 9:35-37 memberikan acuan anak panah arah kerja penuaian yakni “Tuai dahulu penuai barulah menuai tuaian lainnya”
Setidaknya refleksi pendek tulisan ini, merupakan sebuah “gagas-tawar”tunggal untuk membidik sisi lain yang patut diperhatikan dalam mengaminkan misi penuaian yakni peran penting “penyiapan” kader-kader penuai yang semestinya dapat diagendakan secara strategic. Strategik menyangkut perencanaan dan penerapan yang cerdas, tanggap dan cepat. Sebuah pelepasan para pekerja yang “totality” telah mendapat pembekalan. “POWERFULL” diladang misi.Pesan singkatnya Sudahkan para “Penuai” siap untuk dituai? Jangan sampai tuaian banyak, pekerja bukan hanya sedikit, ironis membuka pada fakta ketiadaan para penuai tersebut.
Tanah Grogot 15/2/09
Sejahtera untuk segenap sahabat blogger. Blog dengan nama My Blesslight diusung sebagai salah satu ruang yang menyediakan alternatif mengayakan khasanah replektif rohani guna "kemuliaan Allah Semata". Ekspektasinya berujung pada meruncingnya kita semua sebagai Anak Panah Allah yang tajam ditanganNya untuk memerangi segala bentuk kemandulan wacana pertumbuhan dan pembangunan Iman.
Sabtu, 14 Februari 2009
Selasa, 03 Februari 2009
Sedikit Iman tidak masalah asal ukurannya “sesawi”
By. BL Padatu
Mungkin kita masih ingat gaya bertutur jenakanya Issa, seorang comedian yang kerap tampil dalam paket jenaka Democrazy yang tayang pada saluran TV One. Sang Komedian kerap membolak-balik sebuah ungkapan dengan format “sedikit-sedikit….kok cuma sedikit”. Ungkapan jenaka tersebut jika kita rumuskan dalam kaitan dengan persoalan Iman kira-kira seperti ini; “Sedikit-sedikit Iman, sedikit-sedikit iman, Iman kok Cuma sedikit!!” . Boleh jadi ungkapan tersebut dapat terbaca sepintas adanya keheranan sekaligus tanda tanya Iman kok Cuma sedikit? Mengapa kita hanya punya iman sedikit, dan lagi-lagi pertanyaannya sedikit sekali menemukan orang yang beriman. Namun apa yang dimaksudkan dalam ungkapan jenaka ini sesungguhnya tidak dapat diberlakukan dalam konteks kehidupan orang percaya, sebab ukuran “sedikitnya” Issa sang comedian bukanlah sesuatu yang menakar kualitas kesedikitan Iman yang benar-benar sedikit, sebab wilayah Iman adalah wilayah “adikodrati”, wilayah KeTuhanan yang memandang “Sedikit” adalah “banyak”, “kuat” dll.
Sedikit Iman memiliki makna yang sangat dalam, rentangan jangkauan yang luas. Walaupun kita memiliki iman yang sedikit, namun tidak sedikit yang diberikan Allah terhadap refleksi iman kita yang sedikit. Bagi Pepatah lama sedikit demi sedikit akan membentuk bukit, namun bagi Allah sedikit-demi sedikit akan memindahkan bukit.
Karenanya jika anda memiliki iman yang sedikit, asal ukurannya “Sesawi” kita adalah orang kuat. Jangan pernah dipatahkan dengan kesan bahwa sedikit adalah kecil dan besar adalah banyak. Semut kecil selalu memiliki ambisi besar untuk mengangkut remah-remah makanan yang duakali lebih besar dari ukuran badannya. Sedikit berdoa bukanlah hal yang harus dipertentangkan kebermaknaannya. Sedikit membaca firman bukanlah masalah bagi yang menemukan satu maksud atau kehendak Allah dalam hidupnya. Sedikit mempercayai bukanlah akhir atau ujung dari Iman anda. Sedikit memberi juga bukanlah perkara yang dipersoalkan Allah.
Masalahnya sesungguhnya bukanlah bahwa kita memiliki iman yang sedikit. Masalah besarnya adalah “jika sedikitpun tidak ada iman”. Jika kita tidak memiliki sedikit iman akan menjadi sebuah awalan bencana. Karenanya enjoy aja dengan “Iman yang sedikit dengan caliber atau ukuran Sesawi” Saran praktis: teruslah berdoa sedikit demi sedikit, bacalah firman sedikit demi sedikit, sedikit tambahkan keyakinan anda pada Allah, dan sedikit lagi…terus sedikit lagi sampai keraguan anda tinggal sedikit. HIDUP SEDIKIT!
Matius 17
17:20 Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.
By. BL Padatu
Mungkin kita masih ingat gaya bertutur jenakanya Issa, seorang comedian yang kerap tampil dalam paket jenaka Democrazy yang tayang pada saluran TV One. Sang Komedian kerap membolak-balik sebuah ungkapan dengan format “sedikit-sedikit….kok cuma sedikit”. Ungkapan jenaka tersebut jika kita rumuskan dalam kaitan dengan persoalan Iman kira-kira seperti ini; “Sedikit-sedikit Iman, sedikit-sedikit iman, Iman kok Cuma sedikit!!” . Boleh jadi ungkapan tersebut dapat terbaca sepintas adanya keheranan sekaligus tanda tanya Iman kok Cuma sedikit? Mengapa kita hanya punya iman sedikit, dan lagi-lagi pertanyaannya sedikit sekali menemukan orang yang beriman. Namun apa yang dimaksudkan dalam ungkapan jenaka ini sesungguhnya tidak dapat diberlakukan dalam konteks kehidupan orang percaya, sebab ukuran “sedikitnya” Issa sang comedian bukanlah sesuatu yang menakar kualitas kesedikitan Iman yang benar-benar sedikit, sebab wilayah Iman adalah wilayah “adikodrati”, wilayah KeTuhanan yang memandang “Sedikit” adalah “banyak”, “kuat” dll.
Sedikit Iman memiliki makna yang sangat dalam, rentangan jangkauan yang luas. Walaupun kita memiliki iman yang sedikit, namun tidak sedikit yang diberikan Allah terhadap refleksi iman kita yang sedikit. Bagi Pepatah lama sedikit demi sedikit akan membentuk bukit, namun bagi Allah sedikit-demi sedikit akan memindahkan bukit.
Karenanya jika anda memiliki iman yang sedikit, asal ukurannya “Sesawi” kita adalah orang kuat. Jangan pernah dipatahkan dengan kesan bahwa sedikit adalah kecil dan besar adalah banyak. Semut kecil selalu memiliki ambisi besar untuk mengangkut remah-remah makanan yang duakali lebih besar dari ukuran badannya. Sedikit berdoa bukanlah hal yang harus dipertentangkan kebermaknaannya. Sedikit membaca firman bukanlah masalah bagi yang menemukan satu maksud atau kehendak Allah dalam hidupnya. Sedikit mempercayai bukanlah akhir atau ujung dari Iman anda. Sedikit memberi juga bukanlah perkara yang dipersoalkan Allah.
Masalahnya sesungguhnya bukanlah bahwa kita memiliki iman yang sedikit. Masalah besarnya adalah “jika sedikitpun tidak ada iman”. Jika kita tidak memiliki sedikit iman akan menjadi sebuah awalan bencana. Karenanya enjoy aja dengan “Iman yang sedikit dengan caliber atau ukuran Sesawi” Saran praktis: teruslah berdoa sedikit demi sedikit, bacalah firman sedikit demi sedikit, sedikit tambahkan keyakinan anda pada Allah, dan sedikit lagi…terus sedikit lagi sampai keraguan anda tinggal sedikit. HIDUP SEDIKIT!
Matius 17
17:20 Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.
Langganan:
Komentar (Atom)