Minggu, 31 Januari 2010

“Pastorku SANG PEMIJAT”

Oleh: Bartholomius Padatu

Pijat atau pijit yang pasti bukan dalam arti lain yakni kutu busuk, kepiding atau bangsat, dapat dimengerti sebagai pekerjaan menekan dengan jari; memencet; mengurut bagian tertentu dari anatomi tubuh untuk tujuan pelemasan otot hingga berfungsinya kembali siklus peredaran darah.
Dalam eforia sempit nan liar pijat kadangkala dikerangkai sebagai aktivitas yang bergesek tipis dengan kemesuman.Sebuah praktek memijat yang dimanipulasi, dikamuplase untuk tujuan amoral.Karena tipisnya wilayah definisinya maka tidak mengherankan banyak orang agak merem penggunaan kata pijak diforum-forum publik.Takut diganjar interprestasi keliru.Menghindar dari jebakan keseronokan berbahasa.
Tentunya masih banyak pribadi-pribadi jernih yang memiliki kemampuan menetralkan, memiliki kesanggupan melokalisir penggunaan interpretatif kata pijat pada porsi yang molek, bersahaja, elegan, berdaya guna memberikan pengertian singkat, padat dan tepat. Dalam batasan-batasan pengertian sedemikianlah uraian rentang, bentang gagasan tulisan “Pastorku” Sang PEMIJAT saya tuliskan sebagai cermin bening reflektif catatan perjalanan sebuah pribadi yang dalam dirinya tersemat semangat pelayanan seorang hamba Tuhan. Beberapa hal akan disusupkan baik secara transparan dalam kebeningan niat tulus berbagi perspektif maupun susupan-susupan yang di cantelkan sebagai boncengan kegelian-kegelian bernuansa kritik,jentikan,bahkan menggelitik demi sebuah inkrementalitas citra kepelayanan seorang hamba Tuhan yang lebih “dipenuhi kuasaNya.” Untuk maksud sisipan-sisipan yang berupa puzzel-puzzel penulis berharap hal ini memberi makna ada banyak hal yang sesungguhnya ingin dikatakan komunitas bangku jemaat mungkin karna ragam anutan etika ketimuran yang ketat sungkan untuk dipublikasikan secara terbuka.Karenanya tulisan ini paling tidak menjadi “sebuah kolam Betesda” dimana ketika airnya bergoncang(baca:kata-kata yang ditutur-tuturkan) dan seseorang pastor (pelayan) masuk mandi didalamnya(membacanya) ia akan keluar dengan nilai pribadi pelayan yang baru, segar, dan disertai oleh kuasa Allah. Umatpun dapat mengambil posisi dan manfaat yang sama terhadap tulisan ini.
“Pastorku” Sang Pemijat (ala pijat refleksi) adalah kristalisasi potret aktivitas nan mulia dari sebuah komunitas calon pastor di Yogja, disebuah Kabupaten Sleman yang mendarma-ekstrakan waktu, enerji, pengetahuannya untuk menolong umat dan masyarakat yang bermasalah dengan kesehatan melalui praktek kesehatan Pijat Refleksi. Banyak umat dan masyarakat menaruh harapan dan kepercayaan yang ekstra, tangan-tangan hamba Tuhan tersebut merupakan nilai lebih yang dipercayai jauh mujarab,manjur, berdaya sembuh yang spektakuler.Tangan-tangan calon hamba Tuhan tersebut dipandang dalam bingkai yang lebih relegius sebagai tangan-tangan Tuhan yang besar dayanya.Dipijat oleh calon Pastor memiliki pengertian sama dipijat oleh TUHAN.
Baik calon pastor maupun pasien pijat sama-sama dipertemukan dalam keyakinan yang sama bahwa pelayan yang melayani dan pasien yang percaya pada pelayanan tersebut akan mendorong terciptanya aura kesembuhan yang segera. Aktivitas plus yang tentunya dapat umat atau masyarakat manfaatkan adalah tuturan obrolan ringan yang mengarah pada terbukanya pintu-pintu konseling problem solver atau mulai yang paling ringan namun berjangkau kemasa depan yakni terbangunnya keakraban, persaudaraan yang ditopang oleh nilai-nilai humanisme dimana tangan-tangan sang calon hamba Tuhan (sebut saja Hamba Tuhan) memediai pengukuhan persahabatan tersebut.
Dalam suasana ruang yang terbuka, sederhana, dan dalam barisan-barisan memanjang pada masing-masing bangku umat,masyarakat dilayani. Umat dan masyarakat (pasien) menyodorkan telapak kaki.Pijatan telapak kaki pasien merupakan ruanglingkup indentifikasi penyakit sekaligus titik-titik terapis. Menurut sang pemijat, membaca dan menterapi penyakit hanya dilakukan dibawa telapak kaki dikarenakan seluruh titik-titik sayaf kaki berhubungan dengan keseluruhan syaraf-syaraf anggota tubuh sehingga tidak memerlukan sentuhan komprehensif atau menyeluruh.
Diruang tersebut anda cukup diminta membawa minyak pelumas semua jenis minyak rambut, lotion yang sifatnya dapat melicinkan pijatan. Anda diminta selama pijatan berlangsung tidak perlu memikirkan berapa tarif yang dimintakan. Sistem persembahan atau kolekte diberlakukan dan tidak menutup kemungkinan anda dapat keluar bebas tanpa harus mencelupkan rupa-rupa amplop persembahan.Prinsipnya anda sembuh, persaudaraan terbina dan pengalaman tersebut menjadi buku terbuka untuk mengenal lebih jauh perluasan aktivitas ladang tuaian.
Harapan lembaga (seminari) yang membina calon-calon pastor tersebut menjadikan hamba-hamba Tuhan dalam persebaran diladang pelayanan dapat membantu warga jemaat dan masyarakat untuk menjadikan pijatan sebagai aktivitas tandingan praktek-praktek medis yang super mahal.paling tidak praktek pijatan tersebut menolong umat atau masyarakat mereduksi keyakinan pada praktek perdukunan.Tentunya masih banyak misi yang tersertakan baik yang sudah dapat dirumuskan, teridentifikasi maupun benefit yang terus berkembang sesuai kontek wilayah terapannya.
Pada waktu kekinian mungkin umat atau masyarakat tidak akan menjumpai seorang pastor yang melakukan praktek langsung di jemaat-jemaat.Namun tidak mesti atau harus kecewa karena konsep pemuritan, perpanjangan tangan pemijatan banyak diberlakukan. Artinya di jemaat atau daerah pelayanan sang pastor telah tersebar murid-murid pastor yang memiliki tingkat penguasaan sama bahkan lebih dikarenakan pengembangan-pengembangan keilmuan pijatan yang diramu dengan ramuan-ramuan Herbal atau sejenisnya.
Persoalannya apakah sang pastor telah pensiun menjadi “Pemijat” Tentu tidak. Paling tidak sang pastor memijat-mijat dirinya sendiri, hitung-hitung efisiensi dana jaminan kesehan sang pastor. Praktek-praktek pijat-memijat senantiasa berlangsung. Pada tahapan ini pasien tidak perlu lagi menyodorkan kakinya. Sang Pastor tidak akan menekan-nekan syaraf-syaraf pasien namun ia meminta umatnya menyodorkan hati dan pikirannya untuk dipijat. Sang Pastor dalam pelakukan pijatan ini tidak lagi melabeli praktek pelayanan pijatnya dengan nama “Pijat Refleksi” akan tetapi menyandang label baru dengan nama “Pijat Iman.”
Pijat iman merupakan nuansa aktivitas pelayanan sang Pastor (hamba Tuhan) yang dikerjakan diatas altar kudus(mimbar sermon), dipertemuan-pertemuan ritualis terorganisir merentang kejalan-jalan pastoral informal.Sang Pemijat iman (ala refleksi) akan senantiasa siap melakukan pijatan-pijatan iman melalui doa, sapaaan sederhana semisal selamat pagi, salam sejahtera, say hello, bahkan senyuman Sang pemijat (pastor) terkadang menjadi formulasi ampuh meneduhkan kegalauan hati umat.Pada situasi yang agak berbeda kehadiran sang Pastor yang bertandang dan mengetukkan jarinya kepintu umat telah menjadi sebuah pijatan bagi rumah dan seluruh penghuni didalamnya.Belum lagi keberadaan Sang Pastor yang memijat “punggung-punggung petani” dengan kehadirannya melintasi sawah, tanah kebunnya.Begitu juga ada kesaksian yang menyukai sang Pastor jika bersedia memetik hasil kebun, petikan hasil kebun tersebut diyakini dapat memijat “sang pohon” untuk berbuah lebat.
Bagi seorang pastor (hamba Tuhan) yang mengerti seni memijat iman (ala refleksi)seseorang dapat dipastikan menjadi figur yang diburu, dinantikan khotbah-khotbahnya, ditunggu kehadirannya, tercatat dalam daftar prioritas, the most wanted! Ia adalah seorang bak Oase di padang gurun gersang. Tuturan kata-katanya adalah tetesan air kehidupan yang mengalirkan butiran-butiran energi vitalitas.Kuasa Allah hidup dalam gugusan kata-katanya. Sang Pemijat iman (ala refleksi) yang memiliki keahlian spektakuler senantiasa penuh kehati-hatian dalam berkata-kata. Perkataannya memiliki harga istimewa, jauh dari kehinaan atau penghinaan, merendahkan orang lain, namun senantiasa mengangkat pendengar(umat) setingkat lebih baik dari harapan umat.Lidah sang pemijat Iman tidak lain adalah “Lidah Allah sendiri”( Yeremia 15:19)
Sang Pemijat (pastor) yang mendapatkan penggambaran sedemikian “wahnya” adalah sosok cerdas dalam banyak bidang, khususnya piawai dalam meramu kuasa “remah-remah.” Pastor sang pemijat biasanya tercirikan dengan takaran khotbah yang tepat.Ia mengerti bahwa memijat iman umat tidak perlu memijat keseluruhan persoalan atau pergumulan umat.Cukup pijatan-pijatan porsi kecil layaknya memijat syaraf-syaraf telapak kaki sebagai sumber titik sambung syaraf keseluruhan tubuh. Pastor sang pemijat memahami dengan benar perkalian ekonomi khotbah.Sampaikan satu dua hal dan nantikan penggandaan hasil.Menurutnya khotbah yang terukur; tepat ukuran diksi (pilihan kata);tepat ukuran waktu; tepat memahami daya tahan umat mematung dibangku-bangku keras; tepat mengukur tema-tema aktual; tepat kedalaman-keluasan khotbah menjadi kombinasi yang jitu dalam memaksimalkan dampak pijatan iman.
Pemijat Iman yang berhasil senantiasa meramu rumusan doa dalam ukuran kemendesakan.Ia merupakan murid sang Pendoa (Yesus), Doa Bapa Kami menjadi patron, blue print ucapan-ucapan doa.Doa sang pemijat iman tidak melebar kekanan jika tujuan membelok kekiri. Doa Sang Pemijat Iman senantiasa merupakan pengucapan cara baru namun tetap menyarikan inti Firman Allah, ditelinga umat doa sang pemijat tak ubahnya tuturan kebenaran Firman yang dapat mengalirkan air mata keharuan, penyesalan, pengharapan, temuan jalan keluar,tiupan nafas baru dari Allah.
Gaya atau style Pastor sang pemijat (repleksi kaki) sebagaimana telaah diatas tentu amat berbeda dengan gaya pastor pemijat (ala spa).Pastor pemijat ala spa memiliki mata penglihatan yang berbeda dalam memandang Umat.Bagi pastor pemijat ala spa, keseluruhan diri umat perlu dilumuri olesan-olesan minyak pembersih keimanan,seluruh bidang kehidupannya mesti dipijatin.Tidak ada skala prioritas,minus tahapan.
Pendekatan yang dipakai sangat berseberangan dengan tipe pastor sang pemijat iman ala pijat repleksi (syaraf kaki).setiap kali umat memasuki ruang ibadah mata sang pastor pemijat ala spa memandang keberdosaan umat sebagai isu total dari keberadaan hidupnya sehingga umat harus dicuci keimanannya secara total.Umat dipaksa mendengarkan untaian khotbah berantai tanpa ujung, tanpa sinyal akhir dari sebuah khotbah. Abc Doa dipanjatkan tanpa jedah, tanpa lompatan, semua harus rinci.Detailitas haus terpaparkan secara tegas.Kata amien diujung khotbah adalah penutup yang menyedihkannya. Jika bisa lebih baik “ditembak mati” dari pada mengucapkan kata Amin diujung khotbah.Kata amin dimata sang pastor pemijat iman ala spa adalah kata perpisahan, kata yang paling dirindukan umat untuk didengar,sementara bagi sang pastor sebagai kata yang sayang untuk diucapkan. Kata amin dimata umat adalah “syukur” sedangkan dimata sang pemijat iman ala spa “ini sebenarnya belum selesai”,”jika mau saya masih memiliki bahan segudang.”
Terhadap kedua jenis pastor sang pemijat iman ini, tentu ketika berada dipodium pelayanan, senantiasa memiliki masa masing-masing.Argumentasi bela rasa, bela cara, bela kebermaknaan merupakan kata pemisah suporter masing-masing Pastor. Ada umat (pasien pijat iman) yang merasakan pijatan yang pas jika dipijat (dikhotbai) oleh pastor pemijat iman ala spa dengan argumentasi pembelaan bahwa kalau dipijat sedikit (refleksi) tidak apdol, tidak berasa tekanan-tekanannya. Sebuah khotbah yang datang dari sang pastor pemijat iman ala spa ibarat menyediakan kolam besar dimana umat dapat berendam dan basah secara total dengan guyuran khotbah.Dimata mereka pijatan pastor pemijat ala refleksi (khotbah singkat) seperti sekedar mencuci muka.
Jika ditanyakan pada pendukung pastor sang pemijat iman ala refleksi, mereka akan bergerombol menyerukan protes.Bagi mereka tidak dibutuhkan pijatan(khotbah, doa,dll) yang tidak mengenal arti kata cukup, sudah dan amin.Singkat,tepat, jelas, dan berdampak merupakan rincian mantra padat yang tidak perlu disangsikan.Kuantitas adalah musuh bagi mereka.Takaran kualitas menjadi target bidikan.Efisiensi,efektifitas menjadi semboyan berkelanjutan yang terus dilingkarleherkan pada diri sang pastor pemijat iman ala refleksi.
Apapun beda respon yang muncul dalam perdebatan pastorku sang pemijat iman (tradisi refleksi atau spa) bukan soal untuk memberikan pembenaran-pembenaran memihak.Umat sendirilah yang mesti memetakan tingkat kebutuhan jenis pelayanan pijatan iman dari kedua model pemijat iman.Tentu suatu waktu pertukaran-pertukaran idolatri kedua tradisi pijatan tersebut kadang kala terjadi,entah terpaksa ataupun disesuaikan.
Persoalan yang signifikan atau hal yang menjadi penting adalah kedua jenis tradisi pastor pemijat tersebut menyisakan ruang penduplikat masing-masing.Artinya kedua tradisi pemijat tersebut sesungguhnya sama-sama baik,bermanfaat dan dinantikan kehadirannya di mimbar kebesaran pelayanan Allah.Soalnya kemudian adalah masing-masing tradisi pemijat tersebut penting untuk dipisahkan pemijat-pemijat yang tidak mengerti bidang penguasaan masing-masing.Sederhananya dikelompok pijat iman refleksi tidak menjamin semua pemijat (pastor) memiliki kemampuan menemukan titik-titik penting atau syaraf-syaraf utama.Maksud hati menjadi pemijat iman refleksi yang jitu, sayangnya ia senantiasa memijat syaraf yang berbeda, syaraf yang tidak menghubungkan pada titikmasalah. Demikian halnya dengan pemijat ala spa, beberapa pemijat iman (pastor) ala spa mencuci keimanan umat yang sesungguhnya telah bersih.melalui khotbah, doa, nasehat diluar khotbah mereka samaratakan, menyapu bersih semua sisi kehidupan umat.Jika umat bermasalah dengan kedisiplinan jam ibadah, dimata pemijat ala spa, terjadi ketidakdisiplinan disemua bidang hidup umat.
Akhirnya persembahan dan harapan akhir sebagai penghormatan terhadap peran mulia yang dikerjakan oleh Pastor-pastor pemijat iman, pastikanlah peningkatan kecakapan dalam melakukan pelayanan Pijatan iman menjadi stadium reflektif guna memandang kedalam tingkat kecakapan-kecakapan baru yang semestinya menjadi sematan baru didalam meneguhkarakterkan “kuasa sepuluh jari”(baca: berdoa,berkhotbah, bekerja, membaca) dalam memijat iman umat yang letih, penat, bosan, hampir putus asa.Jejari segenap pastor-pastorku kami nantikan.Selamat memijat Romo.